Sopir Logistik Kesal Macet Ketapang Tanpa Solusi: Harus Presiden yang Turun Tangan

Hingga kini, lalu lintas menuju Pelabuhan Ketapang dilaporkan masih lumpuh parsial dengan kemacetan mengluar sampai 11 kilometer.

Diterbitkan 30 September 2026, 09:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Banyuwangi - Kemacetan horor yang melumpuhkan jalur penyeberangan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, kian meresahkan. Persatuan Sopir Logistik Indonesia (PSLI) secara tegas mendesak Presiden Prabowo Subianto turun tangan langsung untuk mengurai krisis yang dinilai telah mencapai taraf darurat (extraordinary).

​Ketua PSLI, Slamet Barokah, mengungkapkan bahwa persoalan klasik di lintasan vital Jawa-Bali ini tidak lagi bisa diselesaikan dengan cara-cara biasa. Pasalnya, antrean kendaraan yang mengular hingga 11 kilometer elah melumpuhkan aktivitas logistik nasional dan membikin bengkak biaya operasional para pengemudi.

"Ini sudah extraordinary harus presiden yang turun tangan. Kalau sudah presiden bilang pasti cepat masalah ini diurai," ujar Selamet Berkah, Rabu (30/9/2026)

​Berdasarkan analisis para pengemudi di lapangan, akar permasalahan utama kemacetan di Ketapang-Gilimanuk bukan terletak pada jumlah armada kapal, melainkan keterbatasan infrastruktur dermaga.

​PSLI menilai solusi jangka panjang yang mendesak adalah penambahan infrastruktur secara masif, yakni dibutuhkan sedikitnya dua pasang dermaga baru di masing-masing sisi pelabuhan untuk mengimbangi volume kendaraan yang kian padat.

"Peningkatan fasilitas pelabuhan  menjadi kunci mutlak agar antrean panjang tidak terus berulang setiap musim sibuk," tambahnya

​Sebagai bentuk protes dan tekanan moral, para sopir berencana memasang spanduk berukuran besar di depan kawasan Pelabuhan Ketapang. Langkah ini diambil agar Presiden Prabowo dapat melihat langsung jeritan para pekerja logistik di lapangan.

​Hingga kini, lalu lintas menuju Pelabuhan Ketapang dilaporkan masih lumpuh parsial dengan ekor kemacetan mencapai 11 kilometer.

​Kondisi ini merupakan efek domino dari aksi unjuk rasa dan blokade jalan yang dilakukan para sopir logistik pada Sabtu (26/9/2026) lalu, yang sempat melumpuhkan total layanan penyeberangan Jawa-Bali selama kurang lebih enam jam akibat kekecewaan mendalam atas lambatnya penanganan masalah ini.