BMKG Ungkap Prakiraan Musim Hujan Lampung Mundur

BMKG memprakirakan awal musim hujan 2026/2027 di Lampung mundur akibat pengaruh El Nino yang masih kuat.

Diterbitkan 30 September 2026, 13:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan awal musim hujan 2026/2027 di Provinsi Lampung mengalami kemunduran akibat pengaruh fenomena El Nino yang masih kuat.

Bahkan, sejumlah wilayah Lampung diperkirakan baru memasuki awal musim hujan pada awal Januari 2027.

Hal tersebut disampaikan PMG Muda Stasiun Klimatologi Kelas II Lampung, Didi Ardino, dalam pemaparan prakiraan musim hujan Lampung 2026/2027.

Didi menjelaskan, kondisi iklim global saat ini menunjukkan indeks El Nino masih berada pada kategori sangat kuat. Berdasarkan analisis dasarian II September 2026, indeks Nino 3.4 tercatat sekitar positif 2,63.

"Indeks El Nino sangat kuat yaitu berkisar antara positif 2,63," kata Didi, Rabu (30/9/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027. Sementara itu, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) pada September 2026 berada di angka positif 0,935.

Kondisi IOD positif tersebut menunjukkan suhu muka laut di Samudra Hindia bagian timur, termasuk sekitar perairan Lampung, masih relatif dingin. Kondisi ini dapat menghambat pembentukan awan hujan.

"Untuk perairan wilayah Samudra Hindia bagian timur masih kondisi dingin, sehingga untuk pembentukan awan-awan hujan agak sulit terbentuk pada kondisi IOD yang positif 0,935 ini," jelasnya.

Awal Musim Hujan Lampung Mundur

Didi mengatakan, berdasarkan prakiraan BMKG, awal musim hujan 2026/2027 di seluruh wilayah Lampung cenderung mengalami kemunduran dibandingkan kondisi normal.

Dari 12 zona musim (ZOM) di Lampung, sebanyak lima ZOM diperkirakan mengalami kemunduran awal musim hujan sekitar dua dasarian dari kondisi normal.

Sementara tujuh ZOM lainnya diprediksi mengalami kemunduran lebih dari tiga dasarian.

"Rata-rata karena adanya efek El Nino mengakibatkan awal musim hujan di seluruh wilayah Provinsi Lampung mengalami mundur," sebutnya.

Wilayah yang diprakirakan paling cepat memasuki musim hujan adalah sejumlah kawasan Lampung Barat dan Pesisir Barat.

Awal musim hujan di wilayah tersebut diperkirakan mulai terjadi pada Oktober 2026.

Selanjutnya, sejumlah wilayah Lampung Utara, Way Kanan, Lampung Barat, Tanggamus, dan Pesisir Barat diprediksi memasuki awal musim hujan pada dasarian II November 2026.

Kemudian, pada dasarian III November 2026, musim hujan diprakirakan mulai masuk ke sejumlah wilayah Lampung Tengah, Lampung Timur, Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Bandar Lampung, Pesawaran, Pringsewu, dan Tanggamus.

Untuk sebagian wilayah lainnya, awal musim hujan diprediksi baru terjadi pada Desember 2026.

Sementara itu, wilayah yang diprakirakan paling akhir memasuki musim hujan adalah sejumlah kawasan Lampung Selatan dan Lampung Timur.

Awal musim hujan di wilayah tersebut diperkirakan terjadi pada awal Januari 2027.

Wilayah itu antara lain Panengahan, Kalianda, Palas, Sidomulyo, Katibung, dan sebagian Tanjung Bintang di Lampung Selatan.

Kemudian, sebagian besar Jabung serta wilayah Labuhan Maringgai di Lampung Timur juga diprakirakan baru memasuki awal musim hujan pada Januari 2027.

 

Musim Hujan Lampung Diprediksi Normal

Meski awal musim hujan mengalami kemunduran, BMKG memprakirakan sifat musim hujan 2026/2027 di Lampung secara umum berada dalam kondisi normal.

"Durasi musim hujan juga bervariasi di setiap zona musim," sebutnya.

Sebanyak empat ZOM diprakirakan mengalami musim hujan selama 13-15 dasarian atau sekitar empat hingga lima bulan.

Kemudian, empat ZOM diprediksi mengalami musim hujan selama 16-18 dasarian atau sekitar lima hingga enam bulan.

Sebanyak tiga ZOM lainnya diperkirakan mengalami musim hujan selama 19-21 dasarian atau sekitar enam hingga tujuh bulan.

Sementara itu, wilayah Pesisir Barat diprakirakan memiliki durasi musim hujan paling panjang, yakni sekitar 22-24 dasarian atau tujuh hingga delapan bulan.

Adapun puncak musim hujan 2026/2027 di Lampung diprakirakan terjadi pada Januari hingga Maret 2027.

Sebanyak enam zona musim diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Januari, tiga zona pada Februari, dan tiga zona lainnya pada Maret.

Warga Diminta Waspadai Kekeringan hingga Karhutla

BMKG mengingatkan dampak mundurnya awal musim hujan perlu diantisipasi berbagai sektor, terutama pangan, sumber daya air, energi, lingkungan, kesehatan, dan kebencanaan.

Di sektor pertanian, petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam, memilih varietas tanaman dengan siklus lebih pendek, serta meningkatkan pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Pada sektor sumber daya air, masyarakat perlu mengoptimalkan pemanfaatan air hujan, meningkatkan kapasitas tampungan air di tingkat rumah tangga, serta mengoptimalkan sistem drainase dan konservasi air.

Sementara di sektor energi, pengelolaan inflow dan elevasi waduk serta pelepasan air perlu dilakukan secara proporsional untuk mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Dari sisi kesehatan, masyarakat diminta meningkatkan pemberantasan sarang nyamuk untuk mengantisipasi penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Adapun sektor kebencanaan menjadi perhatian khusus karena musim hujan yang datang terlambat dapat memperpanjang periode kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada September hingga Oktober 2026.

"Terutama pada bulan September hingga Oktober akibat dari mundurnya awal musim hujan," tandasnya.