Liputan6.com, Jakarta - Harga emas batangan yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menguat pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Harga emas Antam hari ini lebih mahal Rp 20.000 menjadi Rp 2.700.000 per gram dibanding Rabu kemarin di posisi Rp 2.680.000 per gram.
Demikian juga harga buyback atau beli kembali emas Antam ikut naik dengan nilai lebih besar yaitu Rp 30.000. Harga buyback emas Antam hari ini dipatok Rp 2.546.000 per gram.
Sebagai informasi, harga buyback merupakan harga yang berlaku apabila pemilik emas menjual kembali logam mulianya kepada Antam. Adapun harga emas yang tercantum di awal merupakan harga jual resmi kepada konsumen.
Advertisement
Perlu diketahui, harga emas Antam bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar.
Sebagai catatan, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis (29/1/2026), yakni mencapai Rp 3.168.000 per gram, dengan harga buyback berada di level Rp 2.989.000 per gram.
Seluruh informasi harga emas tersebut mengacu pada situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk.
Rincian Harga Emas Antam
- 0,5 gram: Rp 1.400.000
- 1 gram: Rp 2.700.000
- 2 gram: Rp 5.340.000
- 3 gram: Rp 7.985.000
- 5 gram: Rp 13.275.000
- 10 gram: Rp 26.495.000
- 25 gram: Rp 66.112.000
- 50 gram: Rp 132.145.000
- 100 gram: Rp 264.212.000
- 250 gram: Rp 660.265.000
- 500 gram: Rp 1.320.320.000
- 1.000 gram: Rp 2.640.600.000.
Harga Emas Dunia Tembus Level Tertinggi dalam 2 Bulan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310805/original/018959900_1785371554-Gemini_Generated_Image_skzpy7skzpy7skzp.jpg)
Harga emas dunia menguat pada perdagangan Rabu dan menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua bulan. Kenaikan ini didorong oleh pelemahan dolar AS setelah data inflasi Amerika Serikat dirilis sesuai dengan ekspektasi pasar, sehingga memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve (The Fed) kemungkinan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan September mendatang.
Mengutip CNBC, Kamis (13/8/2026), harga emas spot tercatat naik 1% menjadi US$ 4.409,35 per ounce. Logam mulia tersebut juga berhasil menembus rata-rata pergerakan 100 hari (100-day moving average) yang saat ini berada di level US$ 4.387,28.
Sepanjang sesi perdagangan, emas bahkan sempat menyentuh posisi tertinggi sejak 5 Juni 2026.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS menguat 0,6% menjadi US$ 4.466,80 per ounce.
Kenaikan emas terjadi setelah data inflasi konsumen AS menunjukkan kenaikan tipis pada Juli. Inflasi tercatat naik 0,1% secara bulanan, sesuai dengan perkiraan analis, setelah sebelumnya turun 0,4% pada Juni.
Data tersebut dinilai mengurangi alasan bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada bulan depan.
Analis Marex Edward Meir mengatakan pasar merespons positif data inflasi tersebut karena hasilnya tidak lebih tinggi dari perkiraan.
“Data CPI cukup menggembirakan. Memang lebih tinggi dibanding bulan lalu, tetapi masih sesuai dengan estimasi. Ditambah dolar yang lebih lemah dan faktor teknikal, semuanya membantu harga emas menguat,” ujar Meir.
Advertisement
Dolar AS Melemah, Emas Lebih Murah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310806/original/096451100_1785371567-ChatGPT_Image_Jul_30__2026__07_24_25_AM.jpg)
Indeks dolar AS tercatat melemah tipis setelah data inflasi dirilis. Kondisi ini membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi pembeli dari luar Amerika Serikat, sehingga permintaan terhadap logam mulia meningkat.
Perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed juga terlihat dari pergerakan probabilitas kenaikan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September hanya sekitar 40%, turun dari 46% sebelum data inflasi diumumkan.
Sebelumnya, pada 29 Juli 2026, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Meski demikian, keputusan tersebut tidak sepenuhnya bulat karena tiga dari 12 pejabat pemegang hak suara memilih untuk mendukung kenaikan suku bunga.
Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi biasanya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti deposito atau obligasi. Karena itu, berkurangnya spekulasi kenaikan suku bunga menjadi sentimen positif bagi pasar emas.
Fokus investor selanjutnya kini tertuju pada rilis Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) AS yang dijadwalkan diumumkan pada Kamis (13/8/2026). Data tersebut diperkirakan akan menjadi petunjuk tambahan mengenai arah inflasi dan kebijakan moneter The Fed pada beberapa bulan mendatang.
Sentimen Geopolitik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310807/original/088871800_1785371580-Gemini_Generated_Image_hjxpijhjxpijhjxp.jpg)
Di tengah sentimen positif dari data inflasi AS, pasar juga masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Amerika Serikat dan kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran sama-sama melaporkan adanya serangan terpisah terhadap kapal-kapal pelayaran pada Selasa (11/8/2026). Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa prospek berakhirnya konflik terkait Iran semakin meredup.
Menurut Edward Meir, eskalasi kembali konflik di kawasan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia.
“Jika permusuhan kembali meningkat, harga minyak bisa bergerak naik mendekati US$ 100 per barel. Dalam kondisi seperti itu, suku bunga bisa ikut naik dan emas berpotensi menghadapi tekanan,” jelas Meir.
Kenaikan harga minyak berisiko memicu tekanan inflasi baru, yang pada akhirnya dapat memaksa bank sentral mengambil kebijakan moneter lebih ketat. Jika hal itu terjadi, penguatan emas saat ini bisa menjadi terbatas.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306125/original/027820500_1784862750-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-24T101123.644.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299565/original/093541200_1784264989-cek_fakta_magang_nasional_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322150/original/091705800_1786518970-HOAX__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4285001/original/066553900_1673179649-Target_Sektor_Wisata_2023-Angga-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3352151/original/051235700_1610959710-20210118-Emas-Antam-5.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310807/original/088871800_1785371580-Gemini_Generated_Image_hjxpijhjxpijhjxp.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322072/original/022977700_1786515484-WhatsApp_Image_2026-08-11_at_09.00.56.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4837499/original/073050500_1716195907-Harga_emas_cetak_rekor_tertinggi-ANGGA_5.jpg)