Danantara Masuk Proyek LRT Jakarta, APBD DKI Bisa Lebih Lega

Danantara berencana terlibat dalam pendanaan perpanjangan LRT Jakarta. Pakar menilai langkah ini dapat menjaga ruang fiskal Pemprov DKI.

Diterbitkan 28 September 2026, 09:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Rencana keterlibatan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam pendanaan perpanjangan rute LRT Jakarta dinilai dapat menjadi alternatif pembiayaan sekaligus menjaga ruang fiskal daerah.

Pakar transportasi sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, mengatakan pembangunan infrastruktur yang sepenuhnya mengandalkan APBD akan memberikan tekanan terhadap keuangan daerah.

"Pembangunan infrastruktur berbasis APBD murni jelas sangat menguras ruang fiskal daerah," kata Djoko Setijowarno dikutip Senin (28/9/2026).

Menurut Djoko, pembangunan transportasi publik ke depan tidak cukup hanya mengandalkan pengadaan armada. Pemerintah juga perlu berani mencari terobosan dalam skema pembiayaan serta menempatkan transportasi sebagai bagian dari pemenuhan hak dasar masyarakat untuk mendapatkan mobilitas.

Di tengah keterbatasan ruang fiskal, sinergi antara lembaga keuangan nasional dan pemerintah daerah dinilai dapat mempercepat pembangunan konektivitas perkotaan secara berkelanjutan.

Rencana tersebut mencakup sejumlah perpanjangan rute LRT Jakarta, di antaranya koridor Manggarai-Dukuh Atas, Kelapa Gading-JIS, serta Velodrome-Stasiun Whoosh Halim.

Saling Melengkapi

Djoko menilai keterlibatan Danantara dan Pemprov DKI Jakarta dalam pembiayaan perpanjangan LRT Jakarta merupakan langkah yang saling melengkapi.

"Masuknya Danantara sebagai sovereign wealth fund memberi angin segar berupa alternatif pembiayaan non-anggaran tanpa harus mengandalkan skema skema obligasi atau pinjaman daerah," ujarnya.

Dengan adanya alternatif pembiayaan tersebut, APBD DKI Jakarta dapat tetap diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, dan subsidi angkutan umum.

Menurut Djoko, keterlibatan lembaga pembiayaan berskala nasional juga menunjukkan bahwa sistem transportasi Jakarta semakin terhubung dengan kebutuhan mobilitas kawasan aglomerasi Jabodetabek.

"Terhubungnya jaringan LRT dengan simpul-simpul moda utama, seperti Kereta Cepat Whoosh di Halim, Stasiun Integrasi Manggarai, dan kawasan JIS akan mewujudkan perpindahan moda yang mulus bagi masyarakat di kawasan aglomerasi Jabodetabek," katanya lagi.

 

Pengelolaan Komersial

Selain pembiayaan, Danantara dinilai dapat membawa perspektif bisnis dan pengelolaan komersial dalam pengembangan LRT. Pendekatan tersebut dapat mendorong optimalisasi kawasan sekitar stasiun melalui Transit-Oriented Development (TOD) serta pemanfaatan hak penamaan.

Dengan mengoptimalkan pendapatan di luar tiket, pendanaan tersebut diharapkan dapat membantu menopang biaya operasional LRT secara lebih mandiri dan berkelanjutan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6