Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Senin. Rupiah melemah 45 poin atau 0,25 persen ke level Rp 17.948 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp 17.903 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal, mulai dari data ekonomi AS yang lebih kuat, kenaikan imbal hasil obligasi AS, harga minyak mentah, hingga prospek kenaikan suku bunga The Fed.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan data penjualan barang tahan lama AS yang lebih kuat dari perkiraan menjadi salah satu faktor yang mendorong penguatan dolar AS.
Advertisement
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kembali meningkatnya imbal hasil obligasi AS, harga minyak mentah dunia dan prospek kenaikan suku bunga The Fed menyusul data ekonomi AS (penjualan barang tahan lama) yang lebih kuat, serta penolakan proposal Iran oleh AS," ucapnya dikutip dari Antara, Senin (28/9/2026).
Data menunjukkan penjualan barang tahan lama AS pada Agustus tidak mengalami perubahan atau tumbuh 0 persen. Meski demikian, angka tersebut lebih baik dibandingkan perkiraan yang sebelumnya memproyeksikan penurunan 0,4 persen.
Pesanan baru barang tahan lama buatan AS pada Agustus juga tercatat stabil di kisaran US$ 338,6 miliar.
Â
Prediksi Gerak Rupiah Hari Ini
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3284613/original/092832800_1604313214-20201102-Hari-ini-Rupiah-Ditutup-melemah-atas-dolar-ANGGA-3.jpg)
Selain data ekonomi AS, pasar juga mencermati perkembangan hubungan AS dan Iran setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran dalam negosiasi tidak langsung di New York.
Iran mengusulkan pembukaan kembali jalur perairan strategis dan dimulainya kembali pembicaraan nuklir dalam waktu satu minggu. Proposal tersebut disertai sejumlah syarat, termasuk pencabutan blokade angkatan laut AS, penghapusan sanksi terhadap penjualan minyak Iran, serta pemulihan gencatan senjata di kawasan.
Di tengah perkembangan tersebut, imbal hasil obligasi AS juga kembali meningkat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun berada di level 5,2 persen, sedangkan tenor 30 tahun mencapai 5,52 persen.
Harga minyak mentah turut menjadi perhatian. Harga West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$ 94,15 per barel, sementara Brent sekitar US$ 103,2 per barel.
Investor juga mencermati arah kebijakan Federal Reserve yang semakin hawkish. Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 70 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed Oktober, naik dari sekitar 50 persen pada awal pekan.
Data ekonomi AS yang kuat serta pernyataan hawkish sejumlah pejabat The Fed memperkuat ekspektasi suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama.
Dengan berbagai sentimen tersebut, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran 17.900 per dolar AS-18.000 per dolar AS.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354030/original/018131800_1789992594-cek_fakta_KM_Virgo_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359577/original/013031200_1790564633-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-28T100252.716.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7368499/original/067001900_1780149167-Jepretan_Layar_2026-05-27_pukul_20.44.42.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5306704/original/080618800_1754448434-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__43_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282587/original/088452000_1672910855-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_6.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1384773/original/024567600_1477395058-Donald_Trump.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337095/original/079976700_1609328703-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3008991/original/022280300_1577703437-20191230-Akhir-2019_-IHSG-Ditutup-Melemah-2.jpg)