BI Waspadai Lonjakan Harga Minyak Dunia dan Tekanan Capital Outflow

Bank Indonesia (BI) mewaspadai kenaikan harga minyak dunia hingga US$ 125,53 per barel serta bayang-bayang fenomena higher for longer.

Diterbitkan 28 September 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mewaspadai lonjakan harga minyak dunia yang menembus level US$ 125,53 per barel, serta tekanan arus modal keluar (capital outflow) dari negara berkembang akibat ketatnya kebijakan moneter global.

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa kondisi perekonomian global saat ini diwarnai oleh konflik geopolitik, ketatnya kebijakan moneter, dan fenomena higher for longer. Kondisi tersebut berpotensi menekan aliran modal asing ke negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

"Kita akan menghadapi situasi atau fenomena yang dinamakan higher for longer, yang pada akhirnya ini akan memberikan tekanan kepada negara emerging market, khususnya terkait dengan aliran modal yang masuk ke negara emerging market termasuk Indonesia," ujar Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (28/9/2026).

Harga Minyak Melonjak dan Dolar AS Menguat

Destry merinci, harga minyak dunia sempat menyentuh US$ 125,53 per barel pada 24 September 2026, melonjak tajam dari rata-rata bulan Agustus 2026 yang sebesar US$ 90,88 per barel.

Peningkatan harga komoditas energi tersebut berjalan beriringan dengan kenaikan inflasi global ke level 4,69 persen, serta penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang tercermin dari Indeks DXY di posisi 101,11.

Guna mengantisipasi pergeseran modal ke negara maju (khususnya AS), BI terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah serta menyediakan insentif lindung nilai (hedging) melalui instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) sebesar 10 persen hingga 30 persen.

Destry menambahkan, strategi tersebut terbukti efektif mendukung aliran modal asing (capital inflow) masuk ke Indonesia, di mana catatannya hingga saat ini telah mencapai sekitar US$ 6 miliar. Selain itu, BI juga terus memperluas likuiditas domestik melalui berbagai instrumen demi menjaga stabilitas pasar keuangan.

"Bank Indonesia akan merespons tantangan tersebut melalui bauran kebijakan yang adaptif dan terintegrasi," tegas Destry.

 

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Di tengah tekanan eksternal, Destry menilai kinerja ekonomi domestik masih berdaya tahan. Perekonomian Indonesia mampu tumbuh 5,29 persen pada kuartal II 2026 dan mencapai 5,45 persen pada semester I 2026. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen, dan meningkat menjadi 5,2 persen hingga 6 persen pada 2027.

Dari pasar uang, BI mencatat adanya penurunan suku bunga pasar uang overnight dari titik tertingginya di level 6,61 persen pada Juni menjadi 5,91 persen. Pada saat yang sama, yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 12 bulan melandai ke 6,76 persen dari puncaknya 7,74 persen, sementara outstanding SRBI terkoreksi dari Rp 1.096 triliun menjadi Rp 1.013 triliun.

Ke depan, BI berkomitmen memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna mengawal stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. BI juga bakal memperluas penggunaan transaksi mata uang lokal (local currency transaction/LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6