Rupiah Diprediksi Menguat, Minat Investor ke Emerging Market Meningkat

Nilai tukar rupiah diprediksi menguat seiring meningkatnya minat investor terhadap aset emerging market, didukung melemahnya indeks dolar AS.

Diterbitkan 30 Juni 2026, 10:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali menguat pada perdagangan Selasa (30/6/2026), meski pada pembukaan pasar sempat bergerak melemah. Penguatan rupiah diproyeksikan didorong membaiknya selera risiko (risk appetite) investor terhadap aset di negara berkembang (emerging market), di tengah penurunan harga minyak dunia dan mulai meredanya penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran 17.820 hingga 17.870 per dolar AS.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan kembali menguat pada kisaran di 17.820 - 17.870 dipengaruhi oleh faktor global meningkatnya risk on pelaku pasar pada aset emerging market setelah yen jatuh dan tren harga minyak yang turun, serta index dollar yang mulai menjinak,” ujarnya dikutip dari Antara. 

Meski demikian, pada perdagangan pagi ini rupiah dibuka melemah. Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda turun 32 poin atau 0,18 persen ke level 17.883 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.851 per dolar AS.

Rully menjelaskan, salah satu faktor yang mendorong meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko adalah pelemahan yen Jepang terhadap dolar AS.

Mengutip Xinhua, yen sempat menyentuh level sekitar 161,90 per dolar AS dalam perdagangan di New York. Posisi tersebut menjadi yang terlemah sejak Desember 1986, seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS.

“Kejatuhan yen akibat pelaku pasar meninggalkan safe asset yang identik dengan yen dan mengejar asset yang yield-nya tinggi dan pasar saham dengan momentum kenaikan saham-saham perusahaan teknologi,” ungkap Rully.

 

Permintaan Surat Utang Tinggi

Selain sentimen global, Rully menilai faktor domestik juga turut memberikan dukungan terhadap pergerakan rupiah. Hal itu tercermin dari meningkatnya minat investor terhadap obligasi pemerintah dan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Menurutnya, permintaan yang tinggi terhadap surat utang pemerintah membuat imbal hasil (yield) obligasi mengalami penurunan, yang menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia.

“Yield obligasi pemerintah Indonesia menunjukkan penurunan mengindikasikan minat pelaku pasar yang meningkat, tenor 5 tahun turun 5,2 bps (basis points) jadi 7,08 persen, 16 tahun turun 4,6 bps jadi 7,3 persen, 6-8 tahun masing-masing turun 2,4 bps menjadi 7,1 persen dan 7,22 persen, dan SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) terus diburu,” ujar dia.

Di sisi lain, harga minyak dunia yang bertahan di kisaran US$ 70 per barel serta mulai melemahnya indeks dolar AS juga dinilai memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil.

Kombinasi sentimen global dan domestik tersebut diharapkan mampu menopang pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan, meski pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat serta dinamika ekonomi global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6