Rupiah Hari Ini Melemah Dipengaruhi Iran dan Selat Hormuz

Rupiah hari ini melemah ke 17.879 per dolar AS di tengah ketidakpastian geopolitik Iran dan Selat Hormuz serta spekulasi suku bunga The Fed.

Diterbitkan 13 Agustus 2026, 10:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah tipis pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Pelemahan terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait Iran.

Selain itu, rupiah juga tertekan dipengaruhi sentimen global setelah rilis data inflasi Amerika Serikat yang sesuai ekspektasi pasar.

Rupiah pada pembukaan perdagangan bergerak turun 2 poin atau 0,01 persen menjadi 17.879 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.877 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan tekanan terhadap rupiah masih berasal dari perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

“Rupiah masih menghadapi tekanan dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama perkembangan terkait Iran dan Selat Hormuz yang berpotensi mempengaruhi pasokan serta harga energi,” ujarnya dikutip dari Antara.

Kekhawatiran pasar meningkat setelah Iran dikabarkan mengajukan enam syarat kepada Amerika Serikat terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Syarat tersebut mencakup penghentian ancaman terhadap pemimpin tertinggi Iran, penghentian permanen aksi militer terhadap Iran dan sekutunya, penarikan kekuatan laut dan udara AS yang terlibat dalam blokade, pemberian kompensasi atas kerugian selama konflik, pencabutan sanksi AS, serta pembebasan aset Iran yang dibekukan.

Selain itu, Iran juga disebut tengah menyiapkan rancangan undang-undang yang melarang kapal militer dan komersial dari negara yang dianggap “musuh” memasuki Selat Hormuz tanpa persetujuan.

 

Sentimen The Fed

Selain sentimen geopolitik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh rilis indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Juli 2026. Inflasi AS tercatat naik 0,1 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan, sesuai dengan perkiraan pasar.

Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi meningkat 0,2 persen secara bulanan dan 2,5 persen secara tahunan. Angka inflasi tahunan, baik inflasi umum maupun inti, sedikit melandai dibandingkan Juni 2026.

Setelah data tersebut dirilis, pasar uang semakin yakin bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan September mendatang.

Berdasarkan Fed Fund Futures, probabilitas The Fed menahan suku bunga di kisaran 3,5–3,75 persen kini mencapai sekitar 60 persen, meningkat dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di atas 45 persen.

Amru menilai pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih cenderung konsolidatif dengan ruang penguatan yang terbatas.

“Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif dengan peluang penguatan terbatas di kisaran Rp 17.750 - Rp 17.850 per dolar AS,” ungkap Amru.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6