Rupiah Menguat ke 17.903 per Dolar AS, Ini Pendorongnya

Rupiah menguat ke 17.903 per dolar AS. Hubungan AS-China yang membaik menjadi salah satu sentimen penggerak rupiah.

Diterbitkan 25 September 2026, 17:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Penguatan rupiah terjadi di tengah pasar yang mencermati perkembangan hubungan dagang AS dan China serta arah kebijakan suku bunga The Fed.

Mengutip data perdagangan, rupiah menguat 13 poin atau 0,07% ke level 17.903 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah berada di posisi 17.916 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru melemah. JISDOR berada di level 17.917 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya 17.898 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi mengatakan salah satu sentimen yang menopang rupiah berasal dari membaiknya hubungan AS dengan China.

“Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi bahwa Washington dan Beijing sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata perdagangan mereka hingga 10 Januari 2027,” katanya dikutip dari Antara, Jumat (25/9/2026).

Menurut Ibrahim, perkembangan tersebut meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap ketegangan perdagangan antara dua negara dengan perekonomian terbesar dunia.

Kesepakatan tersebut juga membuka peluang bagi hubungan ekonomi kedua negara untuk kembali membaik setelah sebelumnya dibayangi ketegangan perdagangan.

 

 

Ketegangan Ekonomi AS-China

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa AS dan China memperpanjang periode peredaan ketegangan ekonomi yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 10 November.

Bessent juga mengisyaratkan kemungkinan adanya pengumuman lanjutan dari delegasi China dalam beberapa hari ke depan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah potensi peningkatan pembelian produk pertanian AS serta peluang kerja sama di sektor jasa keuangan.

Perkembangan tersebut disampaikan setelah Bessent bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng dalam pertemuan yang sebelumnya tidak dijadwalkan di Washington.

Selain hubungan AS-China, sentimen geopolitik lain juga menjadi perhatian pasar. AS dan Iran disebut tengah menjajaki jalan keluar bertahap dari konflik yang mencakup kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Teheran serta pencabutan blokade ekonomi terhadap Iran oleh Washington.

Perkembangan geopolitik tersebut menjadi perhatian karena kondisi di Timur Tengah dapat memengaruhi harga energi dan sentimen pasar keuangan global.

Di sisi lain, pasar juga mencermati kemungkinan perubahan arah kebijakan The Fed setelah sejumlah pejabat bank sentral AS menyampaikan pandangan terkait inflasi dan suku bunga.

 

Pernyataan The Fed

Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan inflasi perlu dikembalikan ke target dalam waktu yang tepat. Pernyataan tersebut membuka ruang bagi kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.

Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack juga memperingatkan bahwa "semakin lama inflasi tetap tinggi, semakin sulit untuk mengembalikannya ke target.”

Ekspektasi terhadap kebijakan The Fed turut dipengaruhi data ekonomi AS yang menunjukkan aktivitas bisnis tetap kuat. Data S&P Global mencatat PMI Komposit AS naik dari 56,0 pada Agustus menjadi 58,4 pada September, level tertinggi dalam lebih dari lima tahun.

Data tersebut menunjukkan ekspansi aktivitas sektor swasta AS yang kuat dan menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed.

Selain itu, klaim awal tunjangan pengangguran AS tercatat 197 ribu pada pekan yang berakhir 19 September, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 201 ribu.

Kombinasi sentimen global tersebut membuat pergerakan rupiah tetap menghadapi sejumlah faktor eksternal. Meski ditutup menguat pada Jumat, pasar masih mencermati perkembangan kebijakan The Fed, data ekonomi AS, serta dinamika geopolitik dan perdagangan global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6