Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot pada penutupan perdagangan Selasa sore, (30/6/2026). Analis menilai, tekanan rupiah didorong ketidakpastian pembicaraan perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Mengutip Antara, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS turun 56 poin atau 0,31% menjadi 17.907 per dolar AS dari sebelumnya 17.851 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada juga bergerak melemah di level 17.899 per dolar AS dari sebelumnya 17.856 per dolar AS.
Advertisement
"Ketidakpastian mengenai apakah kedua pihak akan bertemu menyoroti kerapuhan kesepakatan 17 Juni untuk menghentikan pertempuran yang telah menganggu aliran minyak global melalui Selat Hormuz,” ujar Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi, dikutip dari Antara.
Pasar tengah mengamati hasil potensi pembicaraan AS-Iran di Qatar di tengah serangan rudal akhir pekan dari kedua belah pihak, sehingga gencatan senjata tak berlanjut. Akan tetapi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menuturkan, takkan ada pertemuan negosiasi di tingkat manapun dengan pihak Amerika dalam beberapa hari mendatang.
Sentimen lain berasal dari keyakinan yang semakin besar Federal Reserve (the Fed) akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali pada 2026. Hal ini terjadi setelah bank sentral menunjukkan sikap hawkish selama pertemuan Juni seiring beberapa pembuat kebijakan terlihat menyerukan kenaikan suku bunga.
Perhatian sekarang beralih ke laporan pasar tenaga kerja AS Juni, dengan rilis Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis pada Kamis, 2 Juli 2026.
Para analis memperkirakan ekonomi AS akan menambah 114 ribu lapangan kerja, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3 persen, data yang dapat mempengaruhi ekspektasi terhadap jalur kebijakan the Fed.
Sentimen Domestik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1400474/original/063702300_1478686860-20161109--Donald-Trump-Unggul-Rupiah-Terpuruk-Jakarta-Angga-Yuniar-04.jpg)
Melihat sentimen dalam negeri, pasar disebut menunggu data neraca perdagangan pada Mei. Surplus perdagangan yang menyusut dinilai akan memberikan tekanan terhadap defisit transaksi berjalan/current account deficit (CAD) pada 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia secara kumulatif sampai April hanya US$ 5,64 miliar. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode Januari-April 2025 yang masih berada di atas US$ 10 miliar.
“Kondisi tersebut berpotensi memperlemah ketahanan eksternal dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah jika tidak diimbangi oleh masuknya aliran modal asing,” kata Ibrahim.
Advertisement
Rupiah Diprediksi Menguat, Minat Investor ke Emerging Market Meningkat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282582/original/062080800_1672910733-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_2.jpg)
Sebelumnya, nilai tukar rupiah diperkirakan kembali menguat pada perdagangan Selasa (30/6/2026), meski pada pembukaan pasar sempat bergerak melemah. Penguatan rupiah diproyeksikan didorong membaiknya selera risiko (risk appetite) investor terhadap aset di negara berkembang (emerging market), di tengah penurunan harga minyak dunia dan mulai meredanya penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran 17.820 hingga 17.870 per dolar AS.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan kembali menguat pada kisaran di 17.820 - 17.870 dipengaruhi oleh faktor global meningkatnya risk on pelaku pasar pada aset emerging market setelah yen jatuh dan tren harga minyak yang turun, serta index dollar yang mulai menjinak,” ujarnya dikutip dari Antara.
Meski demikian, pada perdagangan pagi ini rupiah dibuka melemah. Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda turun 32 poin atau 0,18 persen ke level 17.883 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.851 per dolar AS.
Rully menjelaskan, salah satu faktor yang mendorong meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko adalah pelemahan yen Jepang terhadap dolar AS.
Mengutip Xinhua, yen sempat menyentuh level sekitar 161,90 per dolar AS dalam perdagangan di New York. Posisi tersebut menjadi yang terlemah sejak Desember 1986, seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS.
“Kejatuhan yen akibat pelaku pasar meninggalkan safe asset yang identik dengan yen dan mengejar asset yang yield-nya tinggi dan pasar saham dengan momentum kenaikan saham-saham perusahaan teknologi,” ungkap Rully.
Permintaan Surat Utang Tinggi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337095/original/079976700_1609328703-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-4.jpg)
Selain sentimen global, Rully menilai faktor domestik juga turut memberikan dukungan terhadap pergerakan rupiah. Hal itu tercermin dari meningkatnya minat investor terhadap obligasi pemerintah dan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Menurutnya, permintaan yang tinggi terhadap surat utang pemerintah membuat imbal hasil (yield) obligasi mengalami penurunan, yang menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia.
“Yield obligasi pemerintah Indonesia menunjukkan penurunan mengindikasikan minat pelaku pasar yang meningkat, tenor 5 tahun turun 5,2 bps (basis points) jadi 7,08 persen, 16 tahun turun 4,6 bps jadi 7,3 persen, 6-8 tahun masing-masing turun 2,4 bps menjadi 7,1 persen dan 7,22 persen, dan SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) terus diburu,” ujar dia.
Di sisi lain, harga minyak dunia yang bertahan di kisaran US$ 70 per barel serta mulai melemahnya indeks dolar AS juga dinilai memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil.
Kombinasi sentimen global dan domestik tersebut diharapkan mampu menopang pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan, meski pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat serta dinamika ekonomi global.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5496891/original/097309800_1770608635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T103958.761.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710243/original/038928400_1782790135-IMG_3966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715404/original/084148600_1782803575-Cek_fakta_bsu_25_juta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714532/original/000144500_1782797436-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-30T122233.633.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2849790/original/043609100_1562754392-20190710-Rupiah-Stagnan-Terhadap-Dolar-AS3.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411708/original/048619800_1479708636-Iran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715414/original/056650500_1782804083-AP26180851266408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711445/original/003693600_1782792455-000_B8QK6YV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715315/original/077601700_1782799662-Netherlands__Jan_Paul_van_Hecke.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714917/original/028527700_1782798194-Brazil_s_Gabriel_Martinelli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625301/original/096522400_1782619158-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8713141/original/058795600_1782795003-Germany_players_are_dejected.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513256/original/026711200_1782437004-AP26176799194484.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710893/original/011996500_1782791219-WhatsApp_Image_2026-06-30_at_10.43.26__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709002/original/001727100_1782787701-000_B8QH9N2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711341/original/045734100_1782792164-IMG-20260630-WA0021.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263744/original/028849200_1781996788-AP26171656106233.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4875743/original/064820600_1719401843-20240626-Rupiah_Melemah-ANG_6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4721215/original/050847100_1705711212-fotor-ai-2024012073921.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3181744/original/039116300_1594892567-20200716-Rupiah-1.jpg)