Sukses

Pengusaha: Tak Ada Anak Muda RI yang Ingin Jadi Petani

Liputan6.com, Jakarta - Pelaku Usaha Pangan dan Pertanian, Nur Iswan meminta kepada pemerintah untuk memikirkan kesejahteraan para petani. Jika para etani mendapatkan kesejahteraan maka bisa meningkatkan produktivitas sehingga panen bisa melimpah.

"Sekitar 40 persen petani kita sekarang di atas 50 tahun. Di Indonesia, tidak ada anak muda berminat jadi petani. Tidak ada yang punya mimpi jadi petani," tegas Nur Iswan dalam Diskusi Beras Jadi Komoditas Strategis, ditulis pada Minggu (10/9/2017).

Menurutnya, ini adalah tugas pemerintah untuk membangun rasa kebanggan bahwa menjadi petani bisa sejahtera hidupnya. Salah satunya dengan kebijakan yang menguntungkan para petani.

"Harus dibangun prestise. Bekerja di sektor pertanian, prestisius tapi sejahtera. Di Amerika Serikat dan Brasil saja kalau lihat petaninya sehat, gagah, dan punya mobil ya sekelas Fortuner," ujar Nur Iswan.

Ia mengatakan, apabila petani hidup sejahtera, maka produktivitas mereka akan meningkat. Hal ini diperlukan mengingat jumlah penduduk akan terus bertambah, dan berimbas pada peningkatan konsumsi pangan.

"Kalau di hulunya tidak dibenahi, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan konsumsi pangan yang melesat tinggi. Ini tugas pemerintah, dan semua pihak untuk mensejahterakan petani sehingga ikut mengerek produksi pangan, termasuk beras," Nur Iswan berharap.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun juga ingin melihat para petani Indonesia hidup sejahtera. Namun, hal ini tidak akan terwujud kalau pola kerja dan pengolahan hasil tani masih konvensional seperti sekarang.

Karena itu, Jokowi ingin petani memiliki nilai tambah sehingga kesejahteraan pun meningkat. Caranya dengan menciptakan badan usaha atau korporasi untuk para petani.

"Kita harus korporasikan petani. Kita harus mengkorporasikan nelayan. Kita harus mengkorporasikan peternak-peternak kita. Mereka harus diajak ke sana," kata Jokowi Rabu lalu.

Petani tidak akan mendapat keuntungan besar kalau bekerja hanya pada lahan kecil dan mengurus lahan sampai panen. Padahal, nilai tambah besar justru ada pada proses agrobisnis.

"Dengan lahan yang relatif kecil, petani tidak punya kesempatan mendapat keuntungan yang lebih besar. Ketika mereka ikut berperan dalam korporasi dan proses agrobisnis, peluang meningkatkan nilai tambah menjadi lebih besar," ujar Jokowi.

Dia menilai, saat ini para ahli pertanian masih terjebak pada budi daya, pembentukan bibit, dan pupuk yang unggul. Sementara, proses bisnis seperti dinomorduakan.

"Paradigma inilah yang harus kita ubah besar-besaran. Kuncinya menurut saya adalah bagaimana mengonsolidasikan petani agar memiliki skala yang besar. Skala ekonomi yang besar, economic scale," tutur Jokowi.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 2 halaman

Ambil kendali

Jokowi mengingatkan pentingnya pengolahan pangan yang baik di Indonesia. Jokowi menilai, negara yang mempunyai ketahanan pangan kuat, akan menjadi negara yang kuat.

Pada masa mendatang, negara-negara di dunia nantinya akan saling berebut energi, air, dan pangan. Tanpa ketersediaan logistik yang baik, suatu negara itu akan mudah ditundukkan.

"Ke depan, bukan politik lagi yang jadi panglima, mungkin bukan hukum yang lagi yang jadi panglima, tapi pangan yang bisa menjadi panglima. Siapa yang memiliki pangan, dia yang mengendalikan," ujar Jokowi.

Untuk itu, Jokowi ingin Indonesia mulai menyiapkan sumber pangan memadai.

Semua pihak, kata Jokowi, baik para ahli maupun mahasiswa jangan ragu untuk berinovasi dan menciptakan temuan baru untuk memajukan pertanian Indonesia.