Babi Hutan dan Monyet Teror Ladang Petani Badui

Petani Badui di Lebak mengalami kerugian akibat serangan kawanan babi hutan dan monyet yang merusak sekitar lima hektare lahan pertanian.

Diterbitkan 28 Juni 2026, 23:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Petani Badui rugi besar akibat serangan babi hutan dan monyet merusak 5 hektar ladang.
  • Serangan satwa diduga karena kehilangan habitat akibat alih fungsi lahan dan pembangunan.
  • Petani takut mengusir satwa; Dinas Pertanian menyarankan "bebegig" sebagai pencegahan.

Liputan6.com, Jakarta - Kawanan babi hutan dan monyet menyerbu ladang milik petani Badui di Blok Cicuraheum, Kecamatan Gunungkencana, Kabupaten Lebak, Banten. Serangan satwa liar tersebut merusak tanaman di lahan seluas sekitar lima hektare, yang menyebabkan petani mengalami kerugian.

"Kami mestinya dari usaha pertanian ladang menghasilkan pendapatan Rp25 juta, namun kini merugi karena tanaman rusak akibat serangan binatang itu," kata Sarja (50) seorang petani Badui seperti dilansir dari Antara, Minggu (28/6/2026).

Diceritakan, kawanan monyet datang pukul 12.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB berkelompok antara 20 sampai 30 ekor menyerang tanaman pertanian pisang, singkong, ubi, jagung, tiwu endog, cabai dan lainnya sekitar pukul 01.10 WIB sampai pukul 03.00 WIB dini hari.

Sementara, serangan babi hutan pada dini hari sekitar pukul 02.00 sampai 03.30 WIB.

Serangan kawanan babi hutan dan monyet tidak hanya mengakibatkan kerusakan tanaman, tetapi juga menimbulkan rasa takut di kalangan petani Badui. Mereka khawatir karena satwa liar tersebut dapat melawan saat diusir dari area pertanian.

"Kami tidak berani melakukan pencegahan terhadap binatang itu, karena khawatir diserang kawanan satwa itu," kata Sarja.

Menurut dia, sekitar lima petani Badui yang menggarap ladang seluas lima hektare di Blok Cicuraheum, Kecamatan Gunungkencana, mengalami kerugian akibat serangan babi hutan dan monyet.

Para petani bahkan terpaksa memanen tanaman lebih awal untuk menghindari kerusakan yang lebih parah, karena khawatir hasil panen akan dimakan satwa liar tersebut jika dibiarkan hingga matang.

Ia mengatakan, serangan kawanan monyet dan babi hutan telah berlangsung selama dua bulan terakhir dan menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi para petani.

 

"Kami hanya pasrah dan kemungkinan serangan binatang itu sudah saatnya merusak tanaman pertanian palawija dan hortikultura," tutur Sarja.

 

Cerita Petani Lainnya

Begitu juga petani Badui lainya, Karna (55) mengatakan pihaknya tidak bisa memanen tanaman miliknya seperti pisang, ubi, pepaya dan kacang tanah, singkong akibat serangan monyet dan babi hutan.

Saat ini, populasi binatang menyerang tanaman petani setelah adanya alih fungsi lahan, karena habitatnya di kawasan hutan dieksploitasi pertambangan batu.

Selain itu juga pesatnya pembangunan permukiman , jalan ton , sehingga monyet kesulitan untuk mencari makanan.

"Kami menduga satwa itu kelaparan yang biasanya mencari makanan sekitar hutan aliran sungai, namun kini sudah kehilangan habitatnya," tutur dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan pihaknya berharap petani Badui dapat melakukan pencegahan agar pertanian ladang tidak diserang kawanan babi hutan dan monyet.

"Pencegahan itu bisa dengan cara membuat"bebegig" atau pakaian manusia dan dilengkapi kaleng dengan ikatan tambang dan jika ada binatang itu bisa tambang ditarik hingga berbunyi keras," jelas dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6