Rebalancing MSCI 2026: Saham CPIN Masuk Indeks Global Small Cap

MSCI mengubah konstituen di sejumlah indeks pada Agustus 2026. Ada satu saham Indonesia yang masuk MSCI Global Small Cap.

Diterbitkan 13 Agustus 2026, 04:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI Inc) merilis hasil peninjauan konstituen terbaru pada Agustus 2026. Pada indeks MSCI Global Small Cap, ada satu saham emiten Indonesia yang masuk, dan sembilan saham dihapus.

Dikutip dari laman MSCI, Kamis, (13/8/2026), saham emiten Indonesia yang masuk indeks MSCI Global Small Cap yakni Charoen Pokphand Indonesia. Sedangkan sembilan saham emiten Indonesia dihapus  antara lain saham PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT MD Entertainment Tbk (FILM), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).

Adapun MSCI menghapus dua saham emiten Indonesia di MSCI Global Standard Indexes yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Selain itu, MSCI tidak menambah dan menghapus saham asal Indonesia di MSCI Micro Cap Indexes.

MSCI mengumumkan di indeks MSCI Global All Cap ada tambahan 137 saham, dan 73 saham terdepak pada indeks tersebut. Lalu di indeks MSCI Frontier Markets akan ada tambahan enam saham dan lima saham terdepak. Tiga penambahan terbesar pada indeks MSCI Frontier Markets berdasarkan kapitalisasi pasar perusahaan yakni Asia Commercial Joint Stock Bank (Vietnam), Oman India Fertiliser Company (Oman), dan Southeast Asia Commercial Joint Stock Bank (Vietnam). Selain itu, ada tambahan 26 saham dan 17 saham terdepak pada indeks MSCI Frontier Markets Small Cap.

MSCI akan tetap tidak menerapkan perubahan sebagai bagian dari Tinjauan Indeks ini untuk sekuritas apa pun yang diklasifikasikan di Bangladesh untuk Indeks MSCI Bangladesh atau indeks gabungan yang terdampak. MSCI akan kembali menerapkan perubahan tinjauan indeks serta peristiwa korporasi untuk Indeks MSCI Bangladesh mulai Tinjauan Indeks November 2026.

Di indeks MSCI Global Standard ada penambahan 55 saham dan 92 saham akan dihapus dari MSCI ACWI. Sedangkan di indeks MSCI Global Small Cap, ada tambahan 203 saham dan 261 saham yang terdepak pada indeks MSCI ACWI Small Cap.

Konstituen di indeks MSCI akan berubah pada 31 Agustus 2026, dan efektif 1 September 2026. Adapun indeks review selanjutnya akan diumumkan pada 11 November 2026, dan efektif pada 1 Desember 2026.

Penutupan IHSG pada 12 Agustus 2026

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak signifikan hingga penutupan perdagangan saham Rabu, (12/8/2026). Kenaikan IHSG hari ini terjadi di tengah transaksi harian saham di bawah Rp 20 triliun dan menjelang pengumuman hasil tinjauan indeks MSCI.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini melonjak 1,69% ke posisi 6.373,84. Indeks saham LQ45 bertambah 1,29% menjadi 633,84.Sebagian besar indeks saham acuan menghijau.

Berdasarkan pantauan Liputan6.com, kenaikan IHSG yang signifikan ini terjadi setelah IHSG turun tajam pada Selasa, 11 Agustus 2026. Saat itu, IHSG melemah 1,5% ke 6.267 pada Selasa kemarin.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, pelaku pasar mengantisipasi potensi penyesuaian bobot saham Indonesia menyusul pengumuman resmi MSCI yang dijadwalkan dini hari nanti.

"Bisa jadi terdapat ekspektasi positif terhadap pencabutan status pembekuan (freeze) beberapa emiten. Adapun saham-saham konglomerasi Grup Barito milik Prajogo Pangestu seperti BREN, BRPT, CUAN, dan PTRO tercatat menjadi top movers yang menyumbang poin kenaikan IHSG paling substansial,” kata Nafan saat dihubungi Liputan6.com.

 

 

Sentimen IHSG

Ia menambahkan, bahkan penguatan tidak hanya terjadi di saham grup Barito, melainkan berdampak ke emiten komoditas dan teknologi pendukung seperti DSSA, DCII, dan BRMS yang terdorong oleh perbaikan sentiment foreign flow atau aliran dana investor asing yang masuk.

“Para pelaku pasar melakukan bargain hunting memanfaatkan koreksi tajam indeks pada Selasa sebelumnya,” tutur Nafan.

Ia mengatakan, saat ini, para pelaku pasar juga mencermati rilis data inflasi Juli AS yang diproyeksikan melandai ke 3,4% YoY, memperkuat ekspektasi dovish The Fed.

“Sedangkan dari domestik, pengajuan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia memberikan kepastian arah kebijakan moneter dan stabilitas nilai tukar Rupiah di mata investor institusi,” ujar Nafan.