Risiko Fiskal AS Meningkat, Obligasi Indonesia Berpeluang Dapat Aliran Dana Asing

Perubahan selera risiko dan pergeseran aliran dana investor obligasi akan bermanfaat untuk emerging markets termasuk Indonesia.

Diterbitkan 27 September 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Surat utang atau obligasi Indonesia berpeluang mendapatkan manfaat dari rotasi aliran obligasi investor asing dari Amerika Serikat (AS) menuju emerging markets.

Berdasarkan catatan Syailendra Capital, risiko fiskal Amerika Serikat (AS) jadi pendorong baru imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Utang AS sudah tembus US$ 40 triliun atau Rp 716.620 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.920). Dengan utang AS yang telah melampaui US$ 40 triliun, kebutuhan pembiayaan diperkirakan tetap tinggi. Dalam riset Syailendra menyebutkan, kondisi ini berpotensi menjaga term premium tetap tinggi dan membayasi penurunan imbal hasil jangka pendek.

"Investor obligasi AS mulai memperhitungkan risiko fiskal sebagai faktor tekanan. Kenaikan yield tenor panjang yang lebih besar dibandingkan tenor pendek menunjukkan investor menuntut kompensasi lebih tinggi atas meningkatnya fiskal defisit dan supply obligasi pemerintah,” demikian dikutip dari riset Syailendra, Minggu (27/9/2026).

Seiring sentimen itu, pergeseran investor obligasi AS ke investor yang lebih profit-oriented meningkatkan sensitivitas terhadap imbal hasil atau yield. Akumulasi obligasi pemerintah AS yang tinggi membuat investor itu lebih cepat merespons perubahan risk-reward, sehingga menuntut imbal hasil premium lebih tinggi atas meningkatnya risiko fiskal AS.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Scott Bessent sudah mengambil langkah meredam kenaikan yield treasury untuk meredam kenaikan yield treasury dari menggeser penerbitan ke tenor pendek hingga memperluas buyback atau pembelian kembali.

"Strategi ini mengurangi supply pressure di long-end dan berpotensi menahan kenaikan yield tenor panjang,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra Capital.

Perubahan risk appetite atau selera risiko dan pergeseran foreign bond flows berpotensi menguntungkan emerging markets (EM) Asia. Hal ini dengan Indonesia menjadi salah satu relative beneficiary. “Foreign inflows ke pasar obligasi Indonesia mulai membaik, didukung oleh yield yang atraktif dan fundamental domestik yang resilient,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra Capital.

 

 

Persepsi Positif Investor Asing terhadap Indonesia

Dalam riset itu juga menyebutkan, secara historis, pergerakan yield obligasi Indonesia cenderung mirror pergerakan imbal hasil obligasi AS. Namun, dalam beberapa waktu terakhir yield atau imbal hasil Indonesia terlihat lebih resilient yang didukung oleh penguatan rupiah dan meningkatnya fiskal credibility.

Adapun penerbitan global bond Indonesia telah mencapai US$ 17,4 miliar atau Rp 311,72 triliun hingga Agustus 2026, melampaui total penerbitan sepanjang 2024 dan 2025.

"Kuatnya aktivitas penerbitan mencerminkan appetite investor global yang tetap tinggi, sekaligus menunjukkan kepercayaan dan persepsi positif investor asing terhadap Indonesia,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra.

Selain itu, akses Indonesia tetap kuat ke pasar obligasi global menambah sentimen positif terhadap aset Indonesia.