Sukses

Planet Terpanas di Alam Semesta Punya Suhu hingga 4.326 Derajat Celsius

Liputan6.com, Jakarta - Planet mana yang paling ‘panas’ di alam semesta? Jika kamu berpikir Mars atau Venus, bisa jadi salah.

Sebab belum lama ini, sekelompok ilmuwan NASA menemukan planet baru yang suhunya diklaim paling panas di alam semesta. Tercatat, suhu planet tersebut bisa mencapai 4.326 derajat Celsius!

Planet ini dinamai dengan sebutan “KELT-9b”, dan berlokasi 650 tahun cahaya dari Bumi. Jika dihitung, jaraknya cukup dekat dari Tata Surya.

Setidaknya, butuh waktu satu hari setengah untuk bisa mencapaI orbit KELT-9b. Ukurannya sangat besar. Bahkan, bisa tiga kali lebih besar dari Jupiter.

Scott Gaudi, pimpinan ilmuwan yang juga mengajar di Ohio State University, mengungkap posisi planet paling panas tersebut.

“KELT-9b berada di konstelasi Cygnus. Suhunya lebih panas dari semua bintang-bintang yang hidup di alam semesta,” katanya sebagaimana Tekno Liputan6.com kutip via Mirror, Jumat (3/15/2019).

KELT-9b sendiri memiliki bintang yang berputar dengan tekanan gravitasi besar, seperti layaknya Bulan ke Bumi.

Namun, karena suhu planet terlampau panas, ia dapat memancarkan radiasi ekstrem. Alhasil, molekul kandungan air, karbon dioksida, dan metan tidak dapat terbentuk di planet tersebut.

“KELT-9b adalah jenis planet yang terbentuk dari sebuah massa, namun atmosfernya terbuat dari elemen berat: sodium, potassium hingga hidrogen dan helium yang bisa jadi komponen utama,” terang Gaudi.

Ke depannya, ilmuwan akan mempelajari KELT-9b dengan teleskop Spitzer dan Hubble untuk meninjau karakteristik planet tersebut.

Mereka berasumsi, KELT-9b justru tidak akan memiliki usia panjang. Pasalnya, suhu panas yang ekstrem membakar planet dengan sendirinya.

Sebelumnya, planet paling panas di alam semesta adalah WASP-33b. Jaraknya sekitar 380 tahun cahaya dari konstelasi Andromeda dengan suhu 3.200 derajat Celsius.

2 dari 4 halaman

Teleskop Baru NASA Bisa Temukan 1.400 Planet Baru

Seperti diketahui, NASA sudah mempersiapkan teleskop terbarunya yang menggantikan teleskop lawas Hubble. Teleskop ini bernama "Wide-Field Infrared Survey Telescope" (WFIRST).

Tak tanggung-tanggung, mereka bahkan menghabiskan biaya dengan jumlah tidak main-main dalam membuat teleskop tersebut, yakni sebesar Rp 113 triliun.

Dilansir Mirror, Jumat (1/3/2019), NASA sendiri mengungkap teleskop barunya ini memiliki kemampuan luar biasa dalam mencari planet baru.

Tak tanggung-tanggung, NASA sesumbar kalau teleskop tersebut bisa mencari hingga 1.400 planet baru.

Adapun teleskop WFIRST memanfaatkan teknologi "Gravitational Microlensing", yakni teknik yang digunakan pada teori Albert Einstein soal relativitas umum.

Matthew Penny, astronom NASA di Ohio State Department of Astronomy, berkata teleskop tersebut bisa menjadi jawaban atas keingintahuan manusia tentang sistem Tata Surya yang begitu besar.

"Tata Surya sangat besar, kami tentu ingin tahu seberapa besar sistemnya. Untuk melakukan hal itu, kamiharus menciptakan teleskop dengan kemampuan yang lebih hebat, di mana WFIRST akan mencari lebih banyak planet dengan orbit yang lebih luas," kata Penny.

WFIRST, klaim Penny, memiliki kombinasi teknologi yang menakjubkan, di mana menggabungkan teknologi lensa wide field dengan resolusi tinggi, yang mampu membuatnya dapat mencari planet baru dengan teknik microlensing yang lebih tajam.

"WFIRST memungkinkan kami mencari jenis planet yang bisa saja belum pernah kami lihat sama sekali."

"Dengan demikian, kami akan memahami seperti apa jenis planet baru terbentuk, dan seberapa unik Tata Surya kita," tandas Penny.

3 dari 4 halaman

Sekilas WFIRST

WFIRST juga akan menemui tempat 'kelahiran' planet-planet, bintang, dan galaksi tua di Tata Surya.

Teleskop diklaim sebagai teleskop paling besar yang akan dikirim ke antariksa. Ukurannya disebut sangat megah dan diibaratkan seluas lapangan tenis.

Bahkan, teleskop itu 100 kali lebih kuat daripada Hubble. John Mather, pimpinan proyek WFIRST, mengatakan bahwa untuk mengirim teleskop ke luar angkasa bukan perkara mudah.

Karena memiliki ukuran yang besar, maka NASA harus 'melipat'nya di dalam roket dengan lebar 5,5 meter.

"WFIRST akan disimpan di dalam roket milik ESA, Ariane 5. Wahana tersebut merupakan salah satu wahana paling kuat yang pernah dibuat. Jadi nanti, teleskop akan 'dilepas' dari roket dan perlahan membuka lipatan segmennya ketika sudah berada di luar angkasa," tutur Mather menjelaskan.

 

4 dari 4 halaman

Panel Kaca Bermaterial Emas

Komponen lain yang tak kalah menariknya adalah panel kaca bermaterial emas yang berfungsi sebagai perangkat untuk menangkap cahaya.

"Panel kaca ini bisa menangkap cahaya tujuh kali lebih cepat ketimbang Hubble. Ia juga mampu memeriksa spektrum inframerah meski lewat debu antariksa sekali pun," tambahnya.

(Jek/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

3 Mata Uang Termahal di Dunia
Loading
Artikel Selanjutnya
Astronom: Planet Kesembilan Akan Ditemukan 15 Tahun Lagi
Artikel Selanjutnya
Teleskop Baru NASA Bisa Temukan 1.400 Planet Baru