Cerita Intan Kieflie, Hadirkan Film Horor Rasa Lokal untuk Selera Internasional

Film Ritual Gaib: Nyai Randasura yang digarap Intan Kieflie dan suami, Stuart Simpson, didistribusikan di 38 negara dan kini tengah tayang di Indonesia.

Diterbitkan 19 September 2026, 12:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ada berbagai cerita menarik di balik layar film horor Ritual Gaib: Nyai Randasura yang kini tengah tayang di bioskop Tanah Air. Film yang menampilkan acting Dinda Hauw dan Rey Mbayang ini, disutradarai pasangan suami istri Intan Kieflie dan Stuart Simpson dan merupakan kolaborasi sineas Australia – Indonesia lewat Kraken Entertainment dan Anak Negeri Films.

Dalam wawancara dengan media pada Selasa (15/9/2026), Intan Kieflie mengungkap bahwa setelah lama berakting, ini adalah debut pertamanya sebagai sutradara.

“Saya belum pernah jadi sutradara. Enggak pernah berani jadi sutradara walaupun udah sering disuruh (untuk) at least mulailah dengan film pendek, karena bisa saya kan aktor,” tutur nomine Pemeran Pendukung Wanita Terbaik 2010 lewat film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita ini.

“Ini ya horor pertama, film pertama, tapi ini bukan horor banget. Karena Ritual Gaib itu sebenarnya drama keluarga dengan bumbu horor,” kata Intan.

Ia melanjutkan, “Nah. Kenapa jadi horor? Karena sutradara yang satunya, Stuart Simpson which is itu suami saya adalah si raja horor. sementara saya adalah drama queen.”

Intan Kiefly juga menjelaskan bahwa Ritual Gaib: Nyai Randasura memang diniatkan sejak awal untuk dilepas ke pasar secara internasional. Bahkan filmnya kini telah mendapatkan kepastian distribusi di 38 negara—termasuk Indonesia.

Karena hendak dibuat untuk menjaring pasar secara global, film ini sejak awal memang diarahkan untuk tak hanya mengikuti selera penonton Indonesia saja. Dan ini memang bukan perkara mudah.

“Terjadi sedikit pergesekan ketika kita ngomong secara kreatif dengan Indonesia, karena banyak yang bilang ‘This is not gonna works in Indonesia’. Iya, banyak yang bilang itu enggak bisa,” tuturnya.

Selera Penonton Indonesia vs Internasional

Salah satu perbedaan selera penonton lokal dan global, adalah keberadaan efek kejut berupa jump scare.

“Kalau bikin film horor di Indonesia, setiap dua menit tuh orang harus ada jump scare,” kata dia. Di sisi lain, penonton luar Indonesia justru menyukai yang sebaliknya.

“Karena orang luar enggak terlalu suka jump scare kalau enggak ada ceritanya. Jadi akhirnya, karena ini film dari dua otak yang berbeda, akhirnya kita memutuskan untuk kolaborasi penyutradaraan,” ia menjabarkan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Intan juga menjelaskan pasar film horor Indonesia yang potensial untuk saat ini, termasuk karena adanya persamaan latar agama penduduknya. “Market kita terbesar kan sekarang Middle East dan North Africa. Itu negara dengan komunitas muslimnya banyak. Dan mereka tuh suka banget horor Indonesia, dan mereka bilang kita tuh enggak bisa bikin film horor sebagus Indonesia,” tuturnya. Ia mengungkap bahwa untuk Ritual Gaib: Nyai Randasura, pihaknya sudah mendapat kepastian tayang di Malaysia. Brunei, dan Singapura sejak awal. “Kalau Malaysia bahkan dari awal sudah bilang ini tuh memang Malaysia banget,” kata dia. Film ini juga telah mendapat kepastian tayang di wilayah CIS seperti Rusia, Uzbekistan, Kazakhstan, dan lainnya. “Kazakhstan, itu kan muslimnya banyak di situ. Jadi buat mereka, horor Indonesia laku banget di situ. Tapi di sana film horor yang ada muslimnya jarang ada. So they like it."

Halaman
Show All
Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan