IHFFM 2026 Resmi Hadir, Optimalkan Potensi Besar Film Horor Indonesia di Pasar Australia

Melalui IHFFM 2026, film-film horor Indonesia akan dikenalkan ke pasar internasional.

Diterbitkan 18 September 2026, 11:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • IHFFM 2026 akan memperkenalkan film horor Indonesia ke pasar internasional, dimulai di Melbourne.
  • Potensi film horor Indonesia di Australia besar, namun promosi belum maksimal.
  • Festival ini bertujuan mempromosikan perfilman Indonesia dan ekonomi kreatif, bukan mencari keuntungan.

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah film horor Tanah Air akan menjangkau pasar internasional melalui acara Indonesian Horror Film Festival Melbourne (IHFFM) 2026. Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama dengan Indonesian Diaspora Network Global (IDN G) membuat proyek ini untuk memperkenalkan karya anak bangsa ke kancah internasional.

Menjadikan tempat pijakan pertamanya di Melbourne, Australia, Intan Kieflie, Founder of Kraken Entertainment, melihat bahwa film Indonesia memiliki potensi besar di Negeri Kanguru tersebut. Menurutnya, ketertarikan terhadap horor Indonesia sebenarnya sudah ada, tetapi karya-karya tersebut belum banyak diperkenalkan dan dibawa ke pasar Australia.

“Prospek film Indonesia di Australia itu menurut saya sangat besar. Kenapa? Karena mereka sebenarnya sudah tahu kita tuh punya horor Indonesia. Tapi no one bring it there. No one bring it to the market,” ujarnya dalam jumpa pers dan peluncuran IHFFM 2026 di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Sementara itu, Intan menilai salah satu tantangan yang membuat film horor Indonesia belum banyak dikenal di Australia adalah promosi yang belum maksimal. “Kenapa mereka hanya nonton horor Jepang, horor Thailand? Karena pemerintah Jepang sama Thailand itu di Australia gila banget promosinya. Mereka itu promosinya melalui berbagai macam cara,” tuturnya.

“Sementara kita tuh enggak ada kayak gitu,” tambahnya.

Festival Bukan untuk Cari Uang

Puan yang sudah berkecimpung di dunia film selama kurang lebih 15 tahun itu pun mengungkapkan bahwa festival ini diadakan bukan sebagai semata-semata untuk mengambil keuntungan, namun untuk membuat masa depan bagi perfilman di Indonesia.

“Festival ini sebenarnya bukan cara untuk ngumpulin duit. Ini hanya langkah awal, ini hanya media,” ungkapnya. “Kita enggak bikin duit loh di sini. Tapi buat produser dan buat perfilman Indonesia ini tuh masa depan.”

Baginya, tujuan utamanya adalah menjadikan acara ini sebagai wadah promosi. “Salah satunya kenapa kita ngadain horror festival ini adalah untuk itu. Ini tuh kayak kita benar-benar harus promosi. Ayo nonton,” jelasnya.

Tantangan agar Mudah Dipahami Pasar Internasional

Salah satu filmnya yang bertajuk The Black Ritual pun dibuat dengan persiapan yang matang agar mudah dipahami oleh pasar global. “Film ini benar-benar dari awal kita siapkan untuk gimana caranya kita bikin film tapi orang luar itu bisa memahami dengan gampang,” katanya.

“Karena apa yang kita pahami di sini dan apa point of view mereka di luar itu berbeda,” tambahnya.

Jadi Bentuk Promosi Ekonomi Kreatif

Di sisi lain, Dino Patti Djalal, Founder of FPCI, mengatakan bahwa penyelenggaraan IHFFM 2026 menjadi salah satu bentuk inisiatif diaspora dalam memperkenalkan sekaligus mempromosikan potensi ekonomi kreatif Indonesia, khususnya industri perfilman, ke masyarakat internasional.

“Ini suatu hal yang patut kita apresiasi karena diaspora secara independen mempunyai inisiatif untuk mempromosikan ekonomi kreatif Indonesia, khususnya film-film dan khususnya juga film horor kita,” tuturnya.

Ia pun mengharapkan agar promosi budaya dan film Indonesia akan terus berlanjut ke depannya. “Kita harapkan lebih banyak lagi ke depan inisiatif ini dari diaspora untuk mempromosikan budaya dan film Indonesia,” tambahnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Nama Lee Dong Wook Dicatut Modus Love Scam Ratusan Juta

Nola Vemiliana, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan