6 Fakta Morgan Oey Bintangi Film Ghost in the Cell Karya Joko Anwar, Kini Tembus 3 Juta Penonton

Ghost in the Cell menandai kali kedua Morgan Oey kerja bareng Joko Anwar. Tahun lalu, keduanya bersinergi dalam film laris Pengepungan di Bukit Duri.

Diterbitkan 23 Mei 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ghost in the Cell tampil perkasa dengan 3 jutaan penonton. Film karya sineas Joko Anwar ini diperkuat barisan aktor papan atas Tanah Air dari Abimana Aryasatya, Aming, Tora Sudiro, Lukman Sardi, Morgan Oey, hingga Endy Arfian. Ghost in the Cell menandai kali kedua Morgan Oey berkolaborasi dengan Joko Anwar. Tahun lalu, keduanya bersinergi dalam Pengepungan di Bukit Duri yang mendulang sejuta penonton lebih. Lewat peran Edwin dalam film itu, Morgan Oey untuk kali pertama diganjar nominasi Piala Citra Pemeran Utama Pria Terbaik FFI 2025.

Morgan Oey tak punya alasan menolak saat Joko Anwar menyodorkan peran Bimo dalam Ghost in The Cell. “Yang pasti bisa dilihat, tiap proyek Joko Anwar selalu mengeksplorasi beragam genre dan punya keresahan. Pengepungan di Bukit Duri misalnya, tentang diskriminasi, isu sosial, konflik horizontal juga suara minoritas yang dibungkam. Ghost in the Cell mengusung isu lingkungan dan satir politik. Ini relate, seolah rakyat tinggal di sistem autopilot, serasa terpenjara dalam hidup mereka sendiri,” katanya dalam wawancara eksklusif lewat telepon dengan Showbiz Liputan6.com baru-baru ini.

Morgan Oey menyebut secara teknis, semua aktor punya peran penting dalam Ghost in the Cell. Tak ada peran numpang lewat atau mubazir, termasuk Bimo. Bernama lengkap Bimo Gumira, ia adalah anak tunggal.

Ibunya, Ratna, keturunan Jawa, bekerja sebagai pelayan retsoran di Glodok, Jakarta. Ayah Bimo, Jimmy, keturunan Tionghoa, bekerja sebagai tukang pukul yang berafiliasi dengan mafia. Berikut 6 fakta Morgan Oey membintangi Ghost in the Cell.

1. Adegan-adegan Panjang

Terang-terangan Joko Anwar menyatakan, Ghost in the Cell unik karena naskahnya hanya menyajikan 43 scene. Terbilang sedikit untuk ukuran film panjang di bioskop. Morgan Oey membenarkan. Pendekatannya lewat scene-scene panjang.

“Bahkan, ada one shot sepanjang lima menit full dialog. Long shot komedi, horor, komedi lagi. Semua pemain ditantang Abang Joko. Jumlah scene-nya tidak banyak jika dibandingkan dengan film lain pada umumnya,” Morgan Oey membeberkan.

 

2. Joko Anwar dan Background Story Tiap Karakter

Morgan Oey menyebut, yang khas dari kinerja Joko Anwar adalah latar belakang para tokoh terang benderang. Penokohan yang kuat adalah kunci. Itu sebabnya para tokoh dalam film Joko Anwar punya alasan, motivasi, dan kepentingan yang jelas termasuk Bimo.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

“Background story-nya dikasih langsung sama Abang. Bimo awalnya dianggap sebagai rival. Jadi di penjara, ada geng-gengan. Bimo karakter pragmatis, pintar membaca situasi, dan cermat memahami mesti memihak ke siapa agar posisinya aman,” ujar Morgan Oey.  

Halaman
Show All
Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan