Pasar Keuangan Global Bakal Dipengaruhi Data Inflasi AS

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 2,78% dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,61% pekan lalu.

Diterbitkan 10 Agustus 2026, 21:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak menguat pada pekan lalu.Pekan ini, rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) akan menjadi perhatian.

Mengutip riset PT Syailendra Capital, Senin,(10/8/2026), pekan lalu, Indonesia merilis beberapa data ekonomi domestik antara lain inflasi sebesar 2,88% (sebelumnya 3,34%), inflasi inti 2,76% (sebelumnya 2,76%), neraca dagang defisit US$ 0,45 miliar (sebelumnya US$ 1,61 miliar), dan cadangan devisa sebesar US$ 145,3 miliar (sebelumnya US$ 145,6 miliar).

Selain itu, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II 2026 tumbuh 5,26%. PDB Indonesia lebih tinggi dari konsensus pasar 5,1% tetapi melambat dari kuartal sebelumnya 5,61%.

“Pos belanja pemerintah mencatatkan pertumbuhan tertinggi 15,9% YoY, sedangkan pos konsumsi rumah tangga relatif stagnan dengan pertumbuhan 5,06% YoY,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra.

Selain itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menambah likuiditas perbankan BUMN Rp 70 triliun, dan memperpanjang penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) hingga Juli 2027 untuk mendorong penyaluran kredit serta menopang pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, Danantara sedang menyusun peta transformasi BUMN selama lima tahun ke depan. Hal itu mencakup rencana IPO BUMN antara lain Pegadaian, Pupuk Indonesia, Pelindo dan InJourney untuk meningkatkan nilai perusahaan dan transparansi.

Sedangkan dari sentimen luar negeri menunjukkan non farmpayroll (NFP) Amerika Serikat (AS) per Juli 2026 tercatat susut 23.000 dari Juni ada tambahan 57.000 lapangan kerja yang menunjukkan pelemahan signifikan di pasar tenaga kerja. “Kondisi ini dapat mengurangi probabilitas the Federal Reserve (the Fed) menaikkan suku bunga AS ke depannya,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra Capital.

Sementara itu, Iran menegaskan Selat Hormuz belum akan dibuka lagi selama tuntutan ke Amerika Serikat belum dipenuhi yang mencakup permintaan kompensasi atas kerusakan perang hingga pengenaan biaya bagi kapal yang melintas.

 

IHSG dan Rupiah Kompak Menguat

Di tengah sentimen itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat 0,61% ke level 17.800 per dolar AS. Indeks dolar AS stagnan di level 99,6.

Di pasar obligasi, obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun turun tipis ke level 7,28% yang diikuti dengan foreign outflow sebesar Rp 1,8 triliun pada pekan lalu. Di sisi lain, obligasi pemerintah Amerika Serikat bertenor 10 tahun turun dari 4,71% ke 4,64% pada pekan lalu.

Di pasar saham, IHSG melonjak 2,78% pada pekan lalu ke level 6.410 dengan aliran dana yang keluar sebesar Rp 534 miliar. Sementara itu, indeks saham acuan di Amerika Serikat atau wall street menguat. Indeks Nasdaq dan S&P 500 masing-masing mendaki 3,8% dan 2,9%. Indeks Dow Jones bertambah 2,7%.

Pada pekan ini,  berikut data ekonomi yang akan dicermati:

11 Agustus: Penjualan ritel di Indonesia

12 Agustus: Data inflasi Amerika Serikat

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.