IHSG Sepekan Diprediksi Menguat, Rupiah hingga The Fed Membayangi

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepekan diprediksi melanjutkan kenaikan tetapi terbatas. Berikut sentimen yang membayangi IHSG.

Diterbitkan 27 Juli 2026, 09:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguat selama sepekan tepatnya pada perdagangan saham 27 Juli-31 Juli 2026. Lalu apa saja sentimen yang akan pengaruhi IHSG sepekan?

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG masih berpotensi menguat dengan kecenderungan terbatas. IHSG akan bergerak di level support 5.987 dan level resistance di 6.268.

Ia mengatakan, ada sejumlah sentimen yang akan pengaruhi IHSG. Pertama, ada Federal Open Market Committee (FOMC) Meeting. Herditya menuturkan, pada pertemuan itu, the Federal Reserve (the Fed) akan menahan suku bunga  pada level 3,75%. Kedua, rilis data makro ekonomi Amerika Serikat (AS) seperti Produk Domestik Bruto (PDB) dan Personal Consumption Expenditure (CPE) pada kuartal II 2026.

Faktor ketiga, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang akan cenderung volatile mencermati dari indeks dolar Amerika Serikat yang masih cenderung uptren.

“Dengan ada tarif impor baru dari AS, kami perkirakan akan berpengaruh terhadap volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan juga inflasi impor,” kata Herditya saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Senin, (27/7/2026).

Faktor keempat, Herditya mengatakan, investor juga mencermati kondisi Timur Tengah yang saat ini masih cenderung memanas.

 

IHSG Sepekan Naik Terbatas ke 6.196, Analis Ungkap Penyebabnya

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat terbatas pada perdagangan saham 20-24 Juli 2026. Analis menilai, kenaikan IHSG sepekan didorong faktor internal dan eksternal, terutama konflik Timur Tengah yang kembali memanas.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (25/7/2026), IHSG naik 0,34% menjadi 6.196,43 dari penutupan pekan lalu. Dengan demikian, IHSG melanjutkan kenaikan dari pekan lalu yang melonjak 4,2% di 6.175. Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI menguat 1,13% menjadi Rp 10.870 triliun dari Rp 10.749 triliun pada pekan lalu.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG naik 0,34% tetapi muncul adanya tekanan jual. Ia menilai, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSG. Pertama, memanasnya kembali kondisi Timur Tengah sehingga menyebabkan kenaikan harga minyak mentah dunia mencapai US$ 100 per barel.

Herditya mengatakan, hal itu meningkatkan kekhawatiran investor akan potensi kenaikan inflasi global. Kedua, tekanan IHSG juga dipengaruhi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memberlakukan tarif impor baru sebesar 10-12,5% terhadap 60 mitra dagang termasuk Indonesia.

"Faktor ketiga, kenaikan imbal hasil obligasi serta kekhawatiran akan ada potensi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga acuannya lebih tinggi atau higher for longer,” kata Herditya saat dihubungi Liputan6.com.

Faktor keempat, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang cenderung stabil setelah suku bunga acuan atau BI Rate bertahan pada level 5,75%. Faktor kelima, Herditya menuturkan, investor juga mencermati rilis laporan keuangan semester I 2026.

 

  • liputan6
    Analisis komprehensif ini membahas tren pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dampak rebalancing MSCI, rekomendasi saham terkini, pengertian dan komponen IHSG, serta faktor-faktor penggeraknya.
    Ihsg
  • liputan6
    Saham adalah hak yang dimiliki orang (pemegang saham) terhadap perusahaan berkat penyerahan bagian modal sehingga dianggap berbagai dalam pe
    Saham
  • liputan6
    Rupiah Indonesia adalah mata uang resmi yang berlaku di Indonesia.
    Rupiah
  • IHSG Sepekan
  • Perdagangan Saham