Strategi BELI Dongkrak Kinerja di Tengah Persaingan Bisnis E-Commerce

PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) menyiapkan strategi untuk mendorong kinerja dengan foksus pada pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.

Diterbitkan 19 Juni 2026, 20:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kinerja bisnis PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) menunjukkan tren pertumbuhan yang positif sepanjang 2025. Hal ini menjadi pijakan bagi emiten di sektor teknologi mencapai pertumbuhan lebih tinggi ke depan.

Chief Corporate Officer dan Investor Relations Blibli, Eric Winarta mengatakan, perusahaan akan berfokus pada pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan melalui peningkatan produktivitas, penguatan margin, disiplin pengelolaan biaya, serta integrasi ekosistem yang semakin erat.

Ekosistem Blibli Tiket yang mencakup segmen Ritel 1P, Ritel 3P, Institusi, dan Toko Fisik terus menjadi mesin utama pertumbuhan usaha. Dengan fundamental bisnis yang semakin kuat dan fokus pada profitabilitas, Blibli optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu perusahaan teknologi dan perdagangan omnichannel terintegrasi terdepan di Asia Tenggara.

Sepanjang 2025, Blibli membukukan pendapatan neto sebesar Rp 22,4 triliun atau setara US$ 1,36 miliar, tumbuh 34% secara tahunan (year-on-year). Pertumbuhan tersebut didorong oleh kontribusi positif dari seluruh lini bisnis, termasuk kategori elektronik konsumen, segmen bisnis institusi, serta ekspansi jaringan toko fisik yang memperkuat strategi omnichannel perusahaan.

Kenaikan pendapatan menunjukkan efektivitas strategi bisnis Blibli dalam mengintegrasikan kanal digital dan fisik untuk menjangkau pelanggan secara lebih luas. Di tengah dinamika ekonomi global dan persaingan industri yang semakin ketat, perusahaan juga dinilai mampu mempertahankan ketahanan model bisnis serta menjaga momentum pertumbuhan secara berkelanjutan.

“Ke depan, kami akan tetap fokus pada pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan melalui peningkatan produktivitas, penguatan margin, disiplin biaya, serta integrasi ekosistem yang semakin erat. Kami percaya kombinasi kapabilitas digital, jaringan fisik yang luas, dan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pelanggan akan terus menjadi fondasi yang solid bagi penciptaan nilai jangka panjang,” ungkap Eric, Jumat (19/9/2026).

Tak hanya terkait kinerja, Blibli juga menempati posisi ke-228, naik 32 peringkat dari tahun 2025 dalam daftar Fortune Southeast Asia 500 dan menjadikannya perusahaan Indonesia dengan peringkat tertinggi pada kategori Internet Service Retailing di sektor teknologi.

 

 

Pendapatan Global Digital Niaga Tembus Rp 7,8 Triliun

Sebelumnya, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), pengelola e-commerce Blibli masih membukukan rugi bersih pada kuartal I 2026, tetapi kinerjanya menunjukkan perbaikan signifikan seiring lonjakan pendapatan dan penyusutan rugi operasional.

Mengutip keterbukaan informasi BEI, Kamis (28/5/2026) laporan keuangan per 31 Maret 2026, emiten pengelola platform Blibli ini mencatat pendapatan neto sebesar Rp 7,83 triliun, melonjak 66,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,69 triliun. 

Meski masih mencatat rugi tahun berjalan sebesar Rp 301,98 miliar, angka tersebut membaik dibandingkan rugi Rp 641,50 miliar pada kuartal I-2025. Rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun menjadi Rp 303 miliar dari sebelumnya Rp 638,1 miliar.

Di sisi lain, kenaikan pendapatan BELI ditopang pertumbuhan seluruh segmen usaha, terutama penjualan smartphone, bisnis institusi, serta ekspansi toko fisik. Perseroan juga mencatat peningkatan take rate dari 9,0% menjadi 9,9% pada kuartal I-2026.

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, beban pokok pendapatan naik menjadi Rp 6,65 triliun dari Rp 3,82 triliun. Namun demikian, laba bruto tetap meningkat menjadi Rp 1,18 triliun dibandingkan Rp 874,39 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi operasional, rugi usaha berhasil ditekan menjadi Rp 204,20 miliar dari Rp 582,89 miliar. Beban penjualan tercatat sebesar Rp 533,91 miliar, sedangkan beban umum dan administrasi mencapai Rp 281,69 miliar.

Perseroan juga membukukan pendapatan keuangan sebesar Rp 11,38 miliar, namun masih dibayangi biaya keuangan yang meningkat menjadi Rp 69,06 miliar.

 

Aset dan Liabilitas Sama-Sama Naik

Per 31 Maret 2026, total aset BELI tercatat sebesar Rp 18,63 triliun, meningkat dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp 17,80 triliun. Kenaikan terutama berasal dari aset lancar yang naik menjadi Rp 10,01 triliun.

Kas dan setara kas tercatat sebesar Rp 1,84 triliun, naik dari Rp 1,54 triliun pada akhir Desember 2025. Perseroan menyebut peningkatan kas ditopang aktivitas pendanaan selama periode berjalan. Sementara itu, total liabilitas meningkat menjadi Rp 9,47 triliun dari Rp 8,34 triliun. Liabilitas jangka pendek mendominasi dengan nilai Rp 8,21 triliun, termasuk utang bank jangka pendek sebesar Rp 3,54 triliun.

Di sisi lain, total ekuitas turun menjadi Rp 9,15 triliun dari Rp 9,45 triliun pada akhir 2025 akibat akumulasi defisit yang masih besar.