Harga Saham Terendah Rp 1 Berlaku 28 September 2026, Analis: Likuiditas Bakal Lebih Sehat

Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana menilai positif penyesuaian harga saham terendah Rp 1 oleh BEI.

Diterbitkan 22 September 2026, 19:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan batas harga minimum (floor price) menjadi Rp 1 dinilai sebagai langkah positif untuk membuka kembali mekanisme price discovery (proses terbentuknya harga) yang selama ini terkunci di level Rp 50.

Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, mengatakan aturan floor selama ini justru menghambat pembentukan harga wajar saham-saham yang secara fundamental sudah lebih murah, tetapi tetap diperdagangkan seolah-olah bernilai Rp50.

"Floor Rp 50 selama ini mengunci price discovery: saham yang secara fundamental sudah lebih murah dari Rp 50 tetap diperdagangkan seolah-olah harganya Rp 50. Akibatnya likuiditas macet, bid-ask tidak sehat, dan investor yang ingin keluar atau masuk pada harga yang lebih realistis terhambat," ujar Wawan kepada Liputan6.com, Selasa (22/9/2026).

Dia menuturkan, dengan dibukanya harga batas bawah menjadi Rp 1, likuiditas pasar diharapkan membaik dan pergerakan harga saham lebih mencerminkan kekuatan permintaan dan penawaran (supply and demand) yang sesungguhnya.

Ia menilai, dampak kebijakan ini terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak akan signifikan. Lantaran, bobot saham-saham berharga Rp 50 ke bawah dalam indeks relatif kecil.

"Moderat. Bobot saham Rp 50 ke bawah di indeks kecil. Yang akan terpengaruh justru saham 2nd atau 3rd liner, bukan blue chip," kata Wawan.

Ia mengingatkan investor untuk tidak salah kaprah menganggap saham berharga di bawah Rp 10 otomatis murah, karena pergerakan sekecil apapun bisa berdampak besar secara persentase.

Infovesta: Rp 90 T Saham Nyangkut di Rp 50, GOTO Mendominasi

"Harga saham di bawah Rp 10 tidak serta-merta murah, bergerak 1 atau 2 tick saja itu bisa rugi puluhan persen," tegasnya.

Berdasarkan perhitungan Infovesta Utama, terdapat sekitar Rp 90 triliun kapitalisasi pasar saham yang saat ini tertahan di level Rp 50. Dari jumlah tersebut, saham GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi yang terbesar dengan kapitalisasi sebesar Rp 57,03 triliun.

"Dari hitungan kami ada Rp 90 triliun saham-saham yang nyangkut di gocap, paling besar GOTO Rp 57 triliun, yang lain relatif kecil," ujar Wawan.

Selain GOTO, sejumlah saham lain yang juga tercatat di level Rp 50 antara lain:

  1. Central Proteina Prima Tbk (CPRO) dengan kapitalisasi Rp 2,98 triliun
  2. Trada Alam Minera Tbk (TRAM) Rp 2,48 triliun
  3. Rimo International Lestari Tbk (RIMO) Rp 2,25 triliun
  4. Bakrie Telecom Tbk (BTEL) Rp 2,23 triliun