Liputan6.com, Jakarta - Konflik di sekitar Selat Hormuz kembali memanas setelah sempat mereda selama sebulan. Harga minyak naik sekitar 7% menjadi US$ 95 per barel.
Di sisi lain, harga batu bara menguat 5,88% pekan ini. Sedangkan indeks Nikkei dan CSI 300 masing-masing turun 2,09% dan 1,33%. Demikian mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (6/9/2026).
Selain itu, pekan ini ditutup dengan situasi global berbeda. Di mana laporan data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang jauh lebih kuat dari perkiraan kembali memunculkan kemungkinan kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) pada bulan ini.
Advertisement
Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap target-target Iran di sekitar Selat tersebut, dan Teheran membalas dengan serangan pesawat nirawak (drone) serta rudal yang ditujukan ke pangkalan-pangkalan Amerika di seluruh kawasan. Sementara AS Presiden Trump mengisyaratkan ketidaktertarikannya untuk bernegosiasi.
Namun, aliran arus minyak justru membaik, bukannya memburuk. Menteri Energi AS menyatakan lebih dari 17 juta barel minyak melintasi Selat tersebut pada Senin, jumlah tertinggi sejak perang dimulai pada akhir Februari dibandingkan dengan sekitar 20 juta barel sebelum konflik terjadi.
Dengan kata lain, pergerakan harga lebih didorong oleh kekhawatiran akan kemungkinan yang akan terjadi daripada oleh kekurangan pasokan yang nyata saat ini, dan harga kemungkinan akan tetap sensitif terhadap berita-berita terkini selanjutnya.
Di AS, ekspektasi mengenai suku bunga mengalami fluktuasi yang cukup besar. Setelah pidato Ketua the Fed Kevin Warsh di Jackson Hole, probabilitas kenaikan suku bunga pada September melonjak dari sekitar sepertiga menjadi kira-kira 70%, sebelum kemudian melandai ke angka sekitar 52% pada Kamis ketika Gubernur The Fed, Christopher Waller, menyatakan akan mendukung kebijakan mempertahankan suku bunga tetap jika data mengonfirmasi bahwa inflasi mulai mereda.
Data Ketenagakerjaan AS Bayangi Suku Bunga The Fed
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3074972/original/008936900_1584006692-20200312-Wall-Street-7.jpg)
Akan tetapi, laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan penambahan 162.000 lapangan kerja pada Agustus, kira-kira tiga kali lipat dari perkiraan 53.000 dan merupakan capaian terkuat sejak Maret, sementara data Juli yang sebelumnya mencatat pengurangan 23.000 lapangan kerja direvisi menjadi penambahan 21.000, dan tingkat pengangguran tetap stabil di angka 4,1%.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) melonjak tajam, terutama pada tenor jangka pendek; imbal hasil obligasi tenor 30 tahun mencapai sekitar 5,25% dan tenor 10 tahun sekitar 4,80% sebelum akhirnya turun kembali dari level lonjakan awal tersebut.
Bagi pasar negara berkembang (emerging markets), poin utamanya bukan terletak pada arah kebijakan The Fed, melainkan pada volatilitas itu sendiri, mengingat fluktuasi tajam dalam ekspektasi suku bunga AS turut menggerakkan nilai mata uang dan harga obligasi di tingkat global.
Advertisement
Aksi Beli Investor Asing Jadi Penopang
Dari domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,8% menjadi 6.636, dan investor asing membukukan aksi beli US$ 132 juta atau Rp 2,32 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.630).
”Perlu dicatat, mengingat perubahan indeks MSCI mulai berlaku pada penutupan perdagangan Senin pekan ini dan memicu aksi jual oleh index funds, posisi beli itu menunjukkan investor asing melakukan pembelian dalam jumlah yang lebih dari cukup untuk mengimbanginya,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia.
Pada pekan ini, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengumumkan inflasi Agustus 2026. Tercatat inflasi tahunan naik menjadi 3,19% pada Agustus 2026 dari sebelumnya 2,88%, sedikit di atas perkiraan. Harga pangan menjadi faktor utama, menyumbang lebih dari 1%.
"Hal ini sebagian mencerminkan permintaan musiman pada Hari Kemerdekaan, dan kembalinya Program Makan Bergizi Gratis,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia.
Mewaspadai Inflasi Pangan
Selain itu, inflasi inti naik signifikan menjadi 2,92%, tertinggi sejak Maret 2023. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti yang baru diangkat menanggapi masalah ini secara langsung.
Ia mencatat inflasi pangan yang fluktuatif telah meningkat hampir dua kali lipat dan Bank Indonesia sedang bekerja sama dengan pemerintah pusat serta daerah untuk menerapkan langkah-langkah pengendalian harga pangan yang terarah.
Adapun setelah pengangkatan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia menghilangkan ketidakpastian yang sempat membayangi aset-aset Indonesia selama dua bulan terakhir. Berbagai kelas aset yang bergerak ke arah berbeda, dan saham mencatat kenaikan. Hal itu didukung kepastian kepemimpinan bank sentral, nilai tukar rupiah yang menguat terhadap dolar AS ke 17.637, serta data ekonomi lebih baik dari China, mitra dagang terbesar Indonesia.
Sebaliknya, pasar obligasi bergerak ke arah berlawanan, di mana imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik menjadi 7,117% dari sekitar 7,00%, sehingga sebagian keuntungan dari reli Agustus kembali tergerus.
“Pergerakan ini lebih mencerminkan kondisi global dibandingkan kondisi domestik, meskipun tren inflasi dalam negeri yang lebih tinggi turut memperkuat dampaknya,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Advertisement
Sinyal Positif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5344976/original/094862600_1757498720-4.jpg)
Data ketenagakerjaan AS terbaru menambah tekanan tersebut, dan arah pergerakan imbal hasil obligasi Indonesia dalam beberapa minggu mendatang kemungkinan besar akan lebih dipengaruhi oleh perkembangan di AS ketimbang sentimen domestik.
Tingkat imbal hasil saat ini masih menawarkan pendapatan yang dapat diandalkan, dan nilai tukar mata uang tetap berada di kisaran Rp 17.500, angka asumsi yang ditetapkan dalam rancangan anggaran pemerintah 2027.
“Secara keseluruhan, pekan ini memberikan sinyal positif di pasar domestik di tengah situasi global yang penuh gejolak,” demikian seperti dikutip dari Ashmore.
Sinyal Positif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497595/original/070518800_1770638545-1.jpg)
Ashmore menyebutkan, kembalinya aksi beli investor asing merupakan perkembangan yang telah dinantikan sejak adanya arus masuk modal yang terbatas pada Juli. Hal ini menjadi semakin signifikan mengingat pembelian tersebut terjadi di tengah tekanan jual paksa terkait penyesuaian indeks.
Ashmore bersikap hati-hati karena kinerja satu pekan belum cukup untuk membentuk sebuah tren, harga minyak masih fluktuatif, dan data ketenagakerjaan terbaru kembali memperkuat argumen bagi kenaikan suku bunga AS.
"Pendekatan kami tidak berubah: kami mengutamakan perusahaan yang transparan dan memiliki likuiditas serta fundamental yang kuat, dikombinasikan dengan obligasi berkualitas tinggi yang memberikan pendapatan stabil, serta portofolio yang terdiversifikasi di berbagai wilayah dan kelas aset. Salah satu faktor utama yang perlu dicermati adalah data inflasi AS pekan depan, yang kini menjadi penentu penting menjelang keputusan The Fed pada 16 September,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334946/original/033690300_1787906817-cek_fakta_bank_mandiri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5371798/original/091008600_1759721976-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__84_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4147880/original/044633900_1662436165-WhatsApp_Image_2022-09-06_at_10.36.26_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329639/original/025640700_1787286446-purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5390136/original/019934000_1761231981-AP25286531544387.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5634864/original/020342900_1778235630-ernie-journeys-Y3KZtv76Grc-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5344976/original/094862600_1757498720-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267165/original/042073600_1602658746-20201014-IHSG-Dibuka-di-Zona-Merah-angga-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3566690/original/055374600_1631185686-20210909-PPKM-IHSG-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2935920/original/023277800_1570705755-20191010-IHSG-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339655/original/075284100_1788423714-kuhne.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3893145/original/056566800_1641196873-20220103-Pembukaan_Awal_Tahun_2022_IHSG_Menguat-2.jpg)