Navigasi Kacau hingga Mesin Mati, Ini Bahaya Pesawat Nekat Tembus Abu Anak Krakatau

Mulai dari kaca kokpit buram hingga mesin mati mendadak, ini deretan bahaya fatal jika pesawat nekat menerobos abu Anak Krakatau.

Diterbitkan 06 September 2026, 10:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bandara Internasional Soekarno-Hatta ditutup sementara hari ini, Minggu (6/9/2026) hingga pukul 09.30 WIB. Keputusan penutupan sementara (aerodrome closed) ini diambil PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) menyusul diterbitkannya Notice to Airmen (NOTAM) dari AirNav Indonesia terkait bahaya sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang berdampak pada puluhan ribu penumpang merupakan langkah mutlak demi keselamatan. Memaksa pesawat beroperasi menembus ruang udara yang terpapar abu vulkanik memiliki risiko fatal yang berujung pada kelumpuhan sistem hingga mesin mati di udara.

Pengamat penerbangan, Alvin Lie, menegaskan bahwa partikel abu vulkanik sangat berbeda dengan awan atau debu biasa. Material ini berwujud kepingan yang sangat tajam dan keras, sehingga mampu merusak komponen vital pesawat dalam hitungan menit.

"Pertama-tama kita harus paham bahwa abu vulkanik itu partikelnya bersifat tajam dan keras, sehingga yang paling ringan terjadi pada pesawat adalah kaca-kaca pada pesawat itu bisa mengalami rusak," ucap Alvin saat dihubungi Liputan6.com di Jakarta, Minggu (6/9/2026).

Alvin kemudian merinci deretan bahaya dan risiko fatal bisa dialami pesawat jika nekat beroperasi menembus abu vulkanik.

Bahaya Fatal Mengintai Pesawat

  • Kebutaan Jarak Pandang Pilot: Gesekan partikel tajam dan keras akan langsung merusak kaca kokpit. Kaca yang semula bening seketika menjadi buram penuh goresan, membuat pilot buta arah karena pandangan ke luar terhalang total.
  • Kekacauan Navigasi & Sensor: Abu vulkanik sangat rawan menyumbat Pitot tube (tabung sensor utama pengukur kecepatan dan ketinggian). Jika tersumbat, instrumen navigasi akan memberikan data palsu yang mengacaukan orientasi penerbangan.
  • Kelumpuhan Sistem Kendali Utama: Partikel kasar ini berpotensi mengganjal pergerakan attitude indicator serta sendi-sendi mekanis pada sayap dan ekor pesawat. Akibatnya, komponen penting seperti flap, aileron (pengendali kemiringan), dan elevator (pengendali gerakan menukik/mendongak) macet total dan pesawat tidak bisa dikendalikan.
  • Mati Mesin di Udara (Engine Failure): Ini adalah ancaman paling mematikan. Abu yang tersedot ke dalam mesin akan merusak permukaan baling-baling turbin. Lebih buruk lagi, material ini mengontaminasi aliran udara di ruang bakar, menghambat proses pembakaran, dan memicu mesin pesawat mati mendadak (shutdown).

"Jadi, sudah benar keputusan untuk sementara waktu menutup ruang udara di Jakarta, Bandung, dan sekitarnya yang saat ini masih tertutup abu vulkanik," katanya.

Bandara Soekarno-Hatta Tutup Sampai 09.30 WIB

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat puluhan ribu penumpang terdampak penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta imbas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9/2026). Secara keseluruhan, sebanyak 22.798 penumpang mengalami dampak mulai dari pembatalan hingga penjadwalan ulang penerbangan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menerangkan bahwa hasil asesmen sebaran abu vulkanik mengharuskan penghentian sementara operasional bandara sejak pukul 01.30 WIB hingga 09.30 WIB. 

"Total penumpang terdampak pada periode penutupan ini mencapai 22.798 penumpang," kata Lukman dalam keterangan resminya, Minggu (6/9/2026).

Sebagai informasi, hasil paper test terbaru dari Stasiun Meteorologi Kelas I Soekarno-Hatta (Gedung 725 AMOS) pada pukul 06.05–06.35 WIB masih menunjukkan indikasi positif sebaran abu vulkanik di area bandara.

"Sehingga penutupan bandara diperpanjang hingga Minggu (6/9) pukul 09.30 WIB sesuai NOTAM Nomor A3344/26 NotamR A3341/26," jelas Lukman.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6