Menakar Prospek IHSG ke 9.000 dan Sektor Saham Penopang

Pada kuartal pertama 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan. Berikut prediksi IHSG dan sektor saham yang akan menopangnya.

Diterbitkan 20 Maret 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada kuartal I 2026, salah satunya didorong sentimen global seperti ketegangan geopolitik. Lalu bagaimana peluang IHSG hingga akhir 2026 dan sektor saham yang akan menopangnya?

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Jumat, (20/3/2026), IHSG turun 17,81% ke posisi 7.106,83 pada penutupan perdagangan saham Selasa, 17 Maret 2026.

COO Bareksa Ni Putu Kurniasari menuturkan, peluang kenaikan IHSG masih sulit pada semester I 2026. Hal ini seiring tidak hanya kebijakan fiskal saja yang menjadi sorotan tetapi juga ketegangan geopolitik  global terutama di Timur Tengah.

“Semester pertama masih banyak question mark. Namun, kami melihat hingga semester akhir jika kebijakan fiskal APBN diberikan Pak Purbaya dan tim direspons positif di mata investor. Kemudian perang berhenti, semester kedua lebih baik,” kata Ni Putu seperti dikutip Jumat, (19/3/2026).

Selain itu, Ni Putu juga melihat laporan keuangan perusahaan juga mulai membaik menjadi katalis positif untuk pasar. Ditambah suku bunga yang rendah. “Laporan kuartalan mulai membaik pertumbuhannya dibandingkan tahun sebelumnya,” kata dia.

Selain itu, ia juga melihat suku bunga di level terendah menjadi angin segar untuk IHSG.  Seiring hal itu, Ni Putu optimistis IHSG bakal sentuh hingga akhir 2025.

Selain itu, Ni Putu menilai, sektor saham yang akan menopang IHSG, salah satunya perbankan. Hal ini karena sektor saham perbankan memiliki valuasi murah. Investor “Sektor saham masih lagging perbankan. Pegang sektor bank yield dividen 8-9 persen. Sektor sahamnya ketinggalan tetapi bisa membaik lebih cepat. Valuasi saham Indonesia masih murah, tinggal menunggu kebijakan bisa lebih stabil sehingga investor bisa masuk,” ujar dia.

Selain perbankan, sektor saham yang akan jadi penopang IHSG yakni sektor saham energi dan komoditas emas.  

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

IHSG Melesat 1,2% Jelang Libur Panjang Nyepi dan Lebaran 2026

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona hijau pada perdagangan saham Selasa, (17/3/2027), jelang libur panjang Nyepi dan Lebaran 2026. Kenaikan IHSG hari ini didorong seluruh sektor saham yang menghijau dan transaksi harian saham di atas Rp 20 triliun.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini melompat 1,2% ke posisi 7.106,83. Indeks saham LQ45 bertambah 1,22% ke posisi 722,41. Seluruh indeks saham acuan menghijau.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, penguatan IHSG ini masih inline pada laporan Selasa pagi.

"Kami masih memperkirakan adanya rebound dalam jangka pendek setelah IHSG mengalami koreksi cukup dalam kemarin,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

 

 

Sektor Saham

Ia mengatakan, di sisi lain, dari perkembangan global, harga minyak mentah turun setelah Iran membuka Selat Hormuz untuk beberapa negara sehingga suplai minyak diharapkan berangsur pulih.

“Dari dalam negeri, nilai tukar Rupiah menguat terhadap USD dan juga hari ini BI Rate stay di level 4,75%,” ujar Herditya.

Pada perdagangan saham Selasa pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.148,25 dan level terendah 7.059,89. Sebanyak 457 saham menguat sehingga angkat IHSG. 214 saham melemah dan 148 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 1.555.710 kali dengan volume perdagangan saham 31,1 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 24,5 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.987.

Seluruh sektor saham menghijau. Sektor saham basic melonjak 3,43%, dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham energi naik 1,05%, sektor saham industri menguat 0,85%, sektor saham consumer nonsiklikal bertambah 1,07%.

Selain itu, sektor saham consumer siklikal menguat 0,28%, sektor saham kesehatan melompat 0,60%, sektor saham keuangan bertambah 0,46%, sektor saham properti mendaki 1,42%, sektor saham teknologi meroket 2,89%. Kemudian sektor saham infrastruktur mendaki 3,38% dan sektor saham transportasi meroket 3,69%.