Cuaca Ekstrem Sebabkan Rumah Warga Roboh di Situbondo Jatim, Kini Rata dengan Tanah

Cuaca ekstrem kembali memakan korban materil, sebuah rumah roboh di Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur (Jatim).

Diterbitkan 17 Februari 2026, 12:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Cuaca ekstrem kembali memakan korban materil di wilayah Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur (Jatim). Sebuah rumah milik Sudarsono (57), warga Kp Sidomulyo, Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, roboh hingga rata dengan tanah setelah diterjang hujan lebat dan angin kencang pada Selasa pagi (17/2/2026).

​Peristiwa bermula saat hujan deras disertai angin kencang mengguyur wilayah Kecamatan Banyuputih sejak dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB. Kondisi bangunan yang sudah agak rapuh tak mampu menahan beban cuaca ekstrem tersebut.

​Tepat pada pukul 07.30 WIB, struktur rumah semi permanen itu mulai mengeluarkan suara retakan. Beruntung, Sudarsono yang saat itu berada di dalam rumah memiliki respons cepat. Mendengar suara kayu patah yang mengerikan, ia segera lari keluar bangunan sesaat sebelum rumahnya ambruk total.

​"Korban terkejut mendengar suara kayu patah dan langsung menyelamatkan diri ke luar rumah. Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam kejadian ini," ujar koordinator Pusdalops BPBD Situbondo Puriono.

​Akibat kejadian ini, bangunan milik Sudarsono dinyatakan rusak total. Estimasi kerugian materil ditaksir mencapai Rp 15.000.000.

Tim reaksi cepat (TRC) dan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Pusdalops BPBD) Situbondo langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan pendataan.

 

Langkah Pemulihan bagi Korban

​Pihak BPBD Kabupaten Situbondo tengah menjalankan tahap Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana untuk menentukan langkah pemulihan bagi korban.

"Penyaluran bantuan logistik juga sedang dipersiapkan untuk meringankan beban Bapak Sudarsono," ucap Puriono.

"​BPBD mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih mungkin terjadi, mengingat kondisi bangunan yang tua atau rapuh sangat rentan terhadap terjangan angin kencang," jelas Puriono.