ISRA 2025, Momentum Memperkuat ESG Untuk Keberlanjutan Sistem Bisnis Sirkuler

ISRA 2025 didesain sebagai diseminasi ilmu pengetahuan, baik bagi civitas akademika maupun perusahaan dari berbagai sektor dalam melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang diwujudkan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Diperbarui 11 Juli 2025, 17:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Sleman - Mengambil tema ‘Driving Impact, Building a Sustainable Future’, Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2025 diharapkan menjadi momentum penting penerapan Environmental (Lingkungan), Social (Sosial) dan Governance (Tata Kelola) atau ESG untuk keberlanjutan model bisnis sirkuler.Ajang ini mengajak pemangku kepentingan berperan aktif dalam menciptakan masa depan yang berkelanjutan.

Berlangsung di Sleman pada Kamis (10/7/2025), ini merupakan ajang ketiga kalinya dan untuk pertama kalinya ISRA dihelat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebelumnya, periode 2023 dan 2024 berlangsung di Solo, Jawa Tengah.

“Tahun ketiga, kami memboyong ke Yogyakarta untuk lebih mendekatkan partisipan dari banyak perusahaan, akademisi dan praktisi keberlanjutan. Momentum libur panjang untuk menikmati objek wisata Yogyakarta kami gunakan,” kata Ketua Penyelenggara ISRA 2025, Titis Puspita Dewi.

Sebagai ajang tahunan, ISRA 2025 didesain sebagai diseminasi ilmu pengetahuan, baik bagi civitas akademika maupun perusahaan dari berbagai sektor. ISRA 2025 juga menjadi bentuk apresiasi atas keberhasilan pelaku bisnis dari berbagai industri atas inovasi, konsistensi, dedikasi, dan komitmen mereka dalam melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang diwujudkan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Titis mengatakan ESG menjadi topik pembahasan utama di berbagai panel diskusi, dikarenakan saat ini banyak perusahaan, institusi, organisasi masyarakat dan individu tertarik pada keberlanjutan. Baik dari lingkungan, sosial maupun tata kelola agar bisnis maupun kegiatan masyarakat memiliki dampak.

“Dua tahun sebelumnya, ISRA memilih tema-tema yang berkaitan dengan perubahan iklim, dan ESG sekarang ini telah menjadi bagian penting dari perubahan iklim. Intinya adalah bagaimana perusahaan-perusahaan melakukan praktek-praktek keberlanjutan untuk mencapai mitigasi dan adaptasi perubahan iklim itu tadi,” paparnya.

Salah satu bukti banyak perusahaan yang menerapkan ESG ada pada inklusivitas tenaga kerja dimana mereka memberi kesempatan bekerja dan bagi penyandang disabilitas. Serta perluasan mindset bersama-sama mengatasi perubahan iklim.

Tak hanya panel diskusi dan konferensi, penerapan ESG juga diwujudkan dalam bentuk apresiasi bagi para praktisi dan pelaksana program TJSL yang telah memenuhi prinsip keberlanjutan dan memberikan dampak signifikan bagi masyarakat.

Awarding of ISRA 2025 diraih oleh 74 perusahaan dalam tujuh kategori yaitu Economic Empowerment, Education, Gender Equality & Social Inclusion, Health Quality Improvement, Biodiversity Conservation, CSR Video Documentation dan yang terbaru kategori Sustainability Report.

Menurut Titis, meski jumlah penerima penghargaan menurun dibanding sebelum-sebelumnya. Namun dari sisi keragaman, tahun ini lebih banyak dengan masuknya berbagai perusahaan pembiayaan, pemberdayaan masyarakat maupun perusahaan teknologi.

 

74 Perusahaan meraih penghargaan di Awarding of ISRA 2025

Sebelumnya di panel diskusi ‘Enabling ESG: Tools, Data, and Digital Solutions’, Guru Besar Bidang Akuntansi Berkelanjutan dan Tata Kelola Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Surabaya, Iman Harymawan membahas pengembangan indikator ESG berbasis riset akademik yang relevan untuk konteks Indonesia.

“Dari 95 perusahaan yang kita survei tentang ESG, 30 persen memiliki kerangka kerja, 18 persen memiliki materi topik, dan 10 persen memiliki peta jalan. Artinya banyak perusahaan yang tidak memiliki peta jalan dan selama ini hanya ikut-ikutan soal ESG,” paparnya.

Menurutnya ESG ini menjadi aspek penting untuk diterapkan perusahaan agar bisa terus berkelanjutan. Bagaimana mereka ikut menjaga kelestarian lingkungan, hubungan sosial dengan karyawannya, sampai tata kelola yang benar mengikuti regulasi pemerintah.

Banyaknya perusahaan Indonesia yang belum memiliki peta jalan ESG, baginya disebabkan belum masifnya literasi terkait hal ini. Banyak perusahaan yang menjadikan pertanggungjawaban sosial perusahaan (CSR) adalah ESG.

“ESG menjadi pondasi selain capital dan perlu dilakukan melalui banyak koordinasi oleh perusahaan. ESG ini sederhananya adalah pola pikir mengubah bisnis model dari sebelumnya linier ke bisnis model yang sirkuler,” tegasnya.

Head Communication and Partnership Impact Meter, Dyah Putri Utami memaparkan bagaimana platform digital dapat memperkuat transparansi, efektivitas program keberlanjutan, serta mendorong pengambilan keputusan yang berbasis data dan indikator global.

Sebagai bagian dari puncak penghargaan ISRA 2025, sejumlah tokoh dan institusi terpilih menerima pengakuan khusus atas kontribusi luar biasa mereka dalam mendorong tanggung jawab sosial dan keberlanjutan.

Pertama, penghargaan Social Responsibility Person of the Year dianugerahkan kepada Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi,. Kedua, penghargaan Social Responsibility Leadership of the Year diberikan kepada Direktur Utama PT PLN Indonesia Power atas komitmen strategis dalam praktik keberlanjutan.

Di sisi inovasi, Waste4Change mendapat apresiasi sebagai Social Responsibility Initiative of the Year, serta Chocolate Monggo dinobatkan sebagai Social Responsibility Brand of the Year atas keberhasilannya mengintegrasikan nilai sosial dan lingkungan dalam merek dan bisnisnya.

Social Responsibility Women Leadership of the Year dianugerahkan kepada Nurhayati Subakat atas dedikasinya untuk menajamkan peran perempuan dalam payung bisnis berkelanjutan.