Liputan6.com, Jakarta - Rumah sederhana itu berdiri di sebuah gang sempit di kawasan Singosaren, Banguntapan, Bantul. Jalannya hanya cukup dilalui satu sepeda motor. Tak ada papan nama besar ataupun bangunan megah yang menandakan sebuah tempat usaha. Namun, siapa sangka dari rumah itulah puluhan orang datang untuk belajar membatik.
Di rumah itulah Arni Alisha mengembangkan Artniq Batik, usaha batik yang lahir dari sebuah tugas akhir kuliah. Bagi banyak mahasiswa, tugas akhir menjadi penutup perjalanan di bangku kuliah. Namun bagi alumnus Program Studi Pendidikan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang lulus pada 2016 ini, tugas akhir justru menjadi titik awal lahirnya sebuah usaha yang terus berkembang hingga kini.
Advertisement
Berawal dari Tugas Akhir Kuliah dan Inovasi Serabut Kelapa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528787/original/072769500_1782460439-WhatsApp_Image_2026-06-26_at_1.49.52_PM.jpeg)
Kala itu, Arni ingin menghadirkan inovasi dalam membatik tanpa meninggalkan pakem batik tulis. Pada saat itu, Yogyakarta mulai berkembang berbagai teknik membatik selain menggunakan canting, salah satunya teknik sapu lidi. Dari situ, ia menyadari bahwa batik dapat dikembangkan dengan berbagai media, selama tetap mempertahankan proses dasarnya.
"Di Jogja rata-rata kan batiknya pakai canting tulis. Waktu itu lagi booming teknik sapu lidi. Dari situ aku berpikir, ternyata batik tidak harus pakai canting saja. Aku ingin bikin teknik sendiri, tapi tetap mempertahankan proses membatik," ujarnya.
Arni kemudian bereksperimen menggunakan serabut kelapa. Bahan yang mudah ditemukan itu dibentuk menyerupai kuas, lalu digunakan setelah proses pencantingan dan pewarnaan pertama selesai. Serabut kelapa dikibaskan di atas kain sehingga menghasilkan tekstur khas yang tidak dapat dibuat menggunakan kuas biasa. Teknik tersebut kemudian dikenal sebagai Batik Serabut Kelapa.
Bagi Arni, penggunaan serabut kelapa bukan untuk menggantikan canting, melainkan memperkaya teknik membatik. Proses mencanting sebagai ciri khas batik tulis tetap dipertahankan, lalu dipadukan dengan kibasan serabut kelapa untuk menghasilkan motif yang unik. Sebanyak 9 karya batik hasil tugas akhirnya kemudian dipamerkan di kampus.
Respons yang diterima di luar dugaan. Inovasi tersebut mengantarkannya mengikuti berbagai lomba batik tingkat provinsi hingga memperoleh kesempatan mempresentasikan karyanya di forum internasional. Pada 2018, ia mengikuti pameran di Kedutaan Besar Jepang. Ia juga mendapat dukungan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk mempresentasikan inovasi batiknya di Beijing, China.
Pengalaman itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa karya yang lahir dari tugas akhir memiliki potensi menjadi sebuah usaha. Pada 2020, ia mulai menata bisnisnya secara lebih serius. Hak cipta Batik Serabut Kelapa diurus, Nomor Induk Berusaha (NIB) dikantongi, dan lahirlah Artniq Batik.
"Art itu seni, sedangkan niq berasal dari unique. Harapannya Artniq Batik bisa menghasilkan karya yang memiliki nilai seni tinggi sekaligus punya keunikan tersendiri," katanya.
Advertisement
Dari Menjual Batik Menjadi Kelas Membatik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528788/original/084140300_1782460439-WhatsApp_Image_2026-06-26_at_1.49.49_PM.jpeg)
Pada awalnya, Artniq Batik berfokus memproduksi berbagai produk fesyen seperti vest, kebaya pendek, kaus, hingga aksesori batik. Kendati demikian tak sedikit orang yang ingin belajar membuatnya.
"Sering ada yang tanya, 'Mbak, bisa nggak mengadakan pelatihan batik?'. Dari situ aku berpikir ternyata peluangnya besar."
Permintaan tersebut perlahan mengubah arah bisnisnya. Jika sebelumnya lebih banyak menjual produk, kini Artniq Batik lebih dikenal melalui jasa pelatihan membatik. Konsep yang ditawarkan pun berbeda. Alih-alih menunggu wisatawan datang ke sentra batik, Arni membawa kelas membatik langsung ke lokasi pelanggan. Mulai dari sekolah, instansi pemerintah, perusahaan, hotel.
"Kalau di Jogja, biasanya orang datang ke Batik Giriloyo atau Tamansari untuk belajar membatik. Tapi kalau aku, justru aku yang datang ke mereka. Jadi aku menyesuaikan kebutuhan mereka, misalnya dengan menyiapkan kain ukuran 30×30 atau tote bag untuk media membatik. Karena itu, EO juga sering melakukan repeat order."
Dalam satu sesi pelatihan, biaya yang ditawarkan mulai dari Rp70 ribu per peserta dengan jumlah peserta mulai dari kelas privat hingga ratusan orang. Salah satu pelatihan terbesar yang pernah ia tangani melibatkan sekitar 180 peserta di sebuah hotel di Yogyakarta. Belum lama ini, ia juga mengajar 136 siswa SD Muhammadiyah Sokonandi 1 secara serentak.
Model bisnis tersebut membuka peluang baru. Banyak event organizer kini menjadi pelanggan tetap karena pelatihan membatik yang ditawarkan lebih fleksibel dan dapat diselenggarakan di berbagai lokasi.
Para peserta pelatihan di Artniq Batik memberikan kesan positif terhadap pengalaman mereka belajar membatik. Suprihatin mengatakan, pelatihan berlangsung seru karena para trainer menguasai materi dengan baik serta ramah dalam mendampingi peserta.
"Pelatihannya seru, trainer menguasai materi batik dan sangat ramah," ujar Suprihatin.Sementara itu, Siti juga merasakan hal serupa. Ia menilai proses pelatihan berjalan rapi dan detail, dengan suasana yang nyaman berkat sikap pemilik yang ramah dan mudah bergaul.
"Rapi dan detail, owner-nya ramah, supel, dan santun," ujar Siti.
Praktik Desain Busana di Rumah BUMN BRI Yogyakarta
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528789/original/091108600_1782460439-arni.jpg)
Meski usahanya terus berkembang, Arni mengaku tantangan terbesarnya justru datang dari sisi pengelolaan bisnis. Sebagai seseorang yang berasal dari dunia seni, ia masih terus belajar memahami manajemen keuangan, pemasaran, hingga pengelolaan sumber daya manusia.
"Aku masih belajar memisahkan keuangan pribadi dengan usaha. Marketing juga masih terus belajar karena ternyata tidak mudah buat orang seni memahami bisnis."
Keinginan untuk meningkatkan kapasitas tersebut membawanya bergabung dengan Rumah BUMN BRI Yogyakarta pada 2022.Melalui program inkubasi selama tiga bulan, Arni mendapat berbagai pelatihan untuk mengembangkan usahanya. Salah satu yang paling berkesan adalah pelatihan desain fesyen.
Meski berlatar belakang seni kerajinan, ia memperoleh banyak wawasan baru mengenai proses mendesain pakaian, menerapkan motif batik pada busana, hingga memahami karakter bentuk tubuh agar desain yang dihasilkan lebih proporsional.
"Basic-ku bukan tata busana. Setelah ikut pelatihan, aku jadi tahu langkah-langkah mendesain baju dengan benar. Narasumbernya juga benar-benar praktisi, jadi ilmunya langsung bisa diterapkan."
Sebagai penutup program, para peserta menampilkan hasil karyanya dalam sebuah fashion show. Pengalaman tersebut membuat Arni semakin percaya diri mengembangkan produknya ke arah fesyen.
Tak berhenti di situ, Rumah BUMN BRI Yogyakarta juga membuka kesempatan baginya untuk mengikuti berbagai pelatihan, memperluas jaringan, dan berkolaborasi dengan sesama pelaku UMKM.
"Yang aku suka, pelatihannya bukan cuma teori. Kami langsung praktik dan menghasilkan karya yang bisa dibawa pulang. Gratis lagi, jadi benar-benar membantu UMKM belajar."
Mengambil KUR BRI untuk Kembangkan Usaha
Untuk memperluas usahanya, Arni memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI pada 2023. Ia memperoleh pinjaman sebesar Rp30 juta dengan tenor empat tahun. Baginya, akses pembiayaan tersebut menjadi modal untuk terus mengembangkan usaha batik yang telah dirintisnya.
"Aku pilih KUR BRI karena prosesnya gampang." ungkapnya.
Kini, meski masih memproduksi batik untuk kebutuhan pameran maupun pesanan khusus, arah usahanya semakin berfokus pada kelas membatik. Menurut Arni, minat masyarakat terhadap aktivitas ini terus meningkat seiring berkembangnya tren experiential tourism, di mana wisatawan tidak hanya ingin membawa pulang oleh-oleh, tetapi juga pengalaman.
"Kalau dulu orang ke Jogja cuma cari batik untuk dibeli. Sekarang mereka juga ingin merasakan pengalaman membuat batik."
Bagi Arni, batik telah memberikan lebih dari sekadar penghasilan. Keterampilannya membatik membawanya berkeliling ke berbagai daerah, bahkan hingga ke luar negeri. Dari setiap perjalanan, ia bertemu orang-orang baru, membangun relasi, dan memperluas jaringan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Gara-gara batik aku bisa travelling, ketemu banyak orang, nambah saudara. Itu bonus yang menyenangkan."
Batik telah membawanya melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri. Namun, masih ada satu tempat yang paling ingin ia kunjungi yaitu, Tanah Suci. Wanita berhijab ini berharap bisa menunaikan ibadah umrah dari hasil kerja keras yang ia bangun melalui usaha batiknya.
"Aku pengen suatu saat bisa umrah dari hasil usaha ini." pungkas Arni.
Advertisement
Rumah BUMN BRI Yogyakarta Membuat UMKM Kian Berkembang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4516531/original/030294800_1690450769-image0__25_.jpeg)
Ditemui terpisah, Fiera Dwi Hapsari (26) selaku Koordinator Rumah BUMN BRI Yogyakarta menjelaskan bahwa pihaknya secara rutin menyelenggarakan berbagai program pembinaan untuk membantu UMKM berkembang. Program tersebut terdiri dari pelatihan reguler yang mencakup materi dasar bisnis, digitalisasi, hingga pelatihan tematik, serta program tahunan seperti BRI Incubator yang memberikan pendampingan lebih intensif bagi UMKM terpilih.
“Program reguler ada pelatihan dengan berbagai tema yang masih masuk dalam silabus pembinaan kami. Mulai dari pelatihan dasar, pelatihan bisnis, pelatihan digital, sampai pelatihan tematik,” ujar Fiera Dwi Hapsari pada Selasa (19/5/2026)
Selain peningkatan kapasitas usaha, Rumah BUMN BRI Yogyakarta juga membantu UMKM dalam aspek pemasaran. Produk-produk anggota binaan berkesempatan dipromosikan melalui media sosial Rumah BUMN BRI Yogyakarta, termasuk dibuatkan materi promosi dan iklan untuk memperluas jangkauan pasar.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5496891/original/097309800_1770608635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T103958.761.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710243/original/038928400_1782790135-IMG_3966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715404/original/084148600_1782803575-Cek_fakta_bsu_25_juta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1860527/original/082452700_1734048766-pexels-david-kanigan-239927285-29558894.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528786/original/061172800_1782460439-WhatsApp_Image_2026-06-26_at_1.49.51_PM.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1372762/original/077068000_1476344055-yogya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8593999/original/023505700_1782562806-ekuador.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776135/original/014006000_1782843284-063_2284049459.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776134/original/059322300_1782843171-000_B8UA24W.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3299157/original/094356500_1605660408-AP20322768020969.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8505254/original/095572100_1782426499-063_2283328466.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710453/original/039368100_1782790641-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8378845/original/006458400_1782257129-England_s_Harry_Kane.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715414/original/056650500_1782804083-AP26180851266408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8690619/original/084862300_1782751323-KT_Timoho__7_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8577450/original/052058300_1782535375-WhatsApp_Image_2026-06-27_at_07.42.43.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8689679/original/038437300_1782749382-LUSEE_bag_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710406/original/041079300_1782790600-WhatsApp_Image_2026-06-30_at_10.00.12__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535469/original/004594100_1774015488-IMG_0283.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8689112/original/032643500_1782748110-WhatsApp_Image_2026-06-29_at_10.18.22_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8684125/original/089795800_1782736826-Owner_Jenk_Nik_Brownies_Batik_Cake___Cookies.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8683693/original/057493000_1782735957-IMG_0428.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8674843/original/056227000_1782716818-Dina_3.jpg)