Sukses

Masjid Kedunggudel, Tempat Pangeran Diponegoro Sembunyi dan Atur Strategi

Sukoharjo - Di Sukoharjo, Jawa Tengah, ada sebuah dukuh bernama Kedunggudel. Lokasinya di Kelurahan Kenep, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo. Sebelum sampai Jembatan Banmati atau empat kilometer dari arah Sukoharjo Kota, berbelok kanan menelusuri jalan kampung. Di situlah tempatnya.

Menurut tokoh setempat, Sehono, Kedunggudel merupakan sentra perekonomian masyarakat karena di sana banyak pengusaha jenang, batik, hingga perusahaan jamu, dan kosmetik. Tak jauh dari Pasar Rakyat Kedunggudel ada masjid yang sejarahnya bisa dirunut sampai ke zaman perang Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda.

Masjid tersebut bernama Darussalam. "Keberadaan masjid sudah ada sejak penjajahan Belanda. Pada masa perang Pangeran Diponegoro masjid ini menjadi tempat persembunyian, sehingga Belanda tidak mampu menghancurkannya," katanya.

Saat perang Diponegoro tahun 1825-1830, Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Paku Buwono (PB) VI, pernah bertapa di Kedunggudel. Kala itu, berlangsung pula pertemuan Sinuhun [PB VI] dengan Pangeran Diponegoro.

Musyawarah ini sering dilakukan di masjid untuk membangun konspirasi melawan penjajah. "Namun, hal itu tercium tentara Belanda dan Kedunggudel dibumihanguskan," ujarnya.

Dia bercerita tidak ada literatur tertulis mengenai kisah Pangeran Diponegoro dan Paku Buwono VI tersebut. Namun, berdasarkan tradisi sejarah lisan dan jejak peninggalan menyebut Kedunggudel sudah ada sejak masa sebelum kemerdekaan.

"Pernah Belanda mencoba menghancurkan Masjid Kedunggudel [Darussalam] dengan senjata kanon (meriam), tetapi tidak meletus. Alhasil, masjid menjadi benteng aman bagi pejuang Indonesia," tuturnya, dimuat Solopos.com, Minggu, 29 April 2018.

Baca berita menarik dari Solopos.com lain di sini.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

2 dari 2 halaman

Jumlah Tiang Sama dengan Masjid Demak

Bangunan Masjid Darussalam tampak kuno dikeliling dinding tembok dengan dua daun pintu. Tiang di dalam masjid ada 16, sama dengan Masjid Demak.

Tiang-tiang masjid itu dari kayu jati bulat utuh dengan ketinggian enam meter hingga delapan meter. Di serambi masjid juga terdapat tiang berjumlah delapan. Suasana sejuk terasa saat masuk ke masjid.

Atap eternit masjid tampak rapi dengan gelagar kayu tertata, sehingga menambah keasrian ornamen masjid. "Ada perpaduan budaya di setiap ornamen masjid. Keragaman ini menunjukkan peradaban manusia yang utuh tidak membedakan asal-usul, yang terpenting guyub dan damai," ujar Sehono.

Salah seorang pengurus masjid yang juga ahli akupunktur ini menyatakan tiga kali Masjid Darussalam direhab untuk menyesuaikan kondisi. "Wilayah ini pernah banjir sehingga bangunan masjid ditinggikan agar tidak tergenang," imbuhnya.

Sudah tiga kali renovasi, terakhir mengganti satu tiang berukuran tinggi delapan meter. Namun, mencari bahan kayu jati utuh setinggi delapan meter sulit. "Meskipun dananya ada," katanya.

Akhirnya dicarikan pohon jati utuh, tapi menjadi dua bagian masing-masing panjang empat meter. "Masjid ini ada sejak abad ke-14. Artefak unik dan tatanan mimbarnya berlambang bunga Wijayakusuma. Seseorang yang sudah menjadi imam diharapkan mampu menghidupkan dan memakmurkan masjid," tuturnya.

Pada awalnya, masjid beratap sirap sehingga warga Kedunggudel menyebutnya sebagai Masjid Tiban. Pada 1916, atap masjid diganti dari sirap dengan genting dan tiang di serambi ditinggikan.

Pada tahun 1916, Kedunggudel memiliki Madrasah Muhamadiyah yang dipelopori KH Asnawi didukung Kiai Demang, Kiai Dul Rozak, dan Kiai Imam Muhadi. "Pada 1922, Kedunggudel dianggap sebagai basis Muhammadiyah untuk Solo bagian selatan," sebutnya.

Bahkan, Masjid Kedunggudel ini pernah menjadi tempat muktamar pertama Muhammadiyah.