Sukses

Serunya Jelajah Pagi di Dusun Bekas Basis Perjuangan Pangeran Diponegoro

Liputan6.com, Kulon Progo - Dusun Nglinggo, Desa Pagerharjo di Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, berkaitan dengan sejarah tiga prajurit Pangeran Diponegoro yang mendirikan perkampungan tersebut, yaitu Ki Nglinggo Manik, Gagak Roban, dan Dalem Tanu. Namun, siapa sangka dusun ini memiliki kekayaan alam dengan pemandangan yang indah, terutama saat pagi hari.

Tidak kaget jika wisata alam Dusun Nglinggo, kini mulai dikenal masyarakat. Tidak hanya menikmati pemandangan, pengunjung wisata alam di desa ini juga diajak untuk mengenal budaya sekitar.

"Yang live in, waktu malam kami ajarkan kesenian tradisional lengger tapeng. Ini sudah empat generasi, pas malamnya kita suguhkan itu," ucap Teguh Kumoro pengurus Pokdarwis Desa Wisata Nglinggo, Desa Pagerharjo, Samigaluh, Kulonprogo, belum lama ini.

Teguh mengatakan budaya asli Nglinggo ini menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan yang datang ke Nglinggo. Sebab, kesenian ini juga mengajarkan tentang filosofi hidup, sehingga akan berkesan bagi para pengunjung.

"Tapeng itu tayub tapi pakai topeng. Kita pernah tampil di Jogja juga ini khas dari sini. Ada juga di Borobudur itu juga dari sini kita pernah ajarkan," katanya.

Udara yang sejuk karena termasuk daerah tinggi, Dusun Nglinggo memiliki pemandangan hamparan kebun teh dan kopi. Teh, kopi, dan gula aren menjadi napas bagi warga Nglinggo selain wisata alam.

"Di sini teh, kopi dan produksi gula aren. Ada paketannya juga untuk tiga ini," katanya.

Salah satu spot untuk melihat hamparan teh, kopi, dan pohon pinus ada di Bukit Ngisis. Spot lain ada di bukit yang bisa melihat kekayaan wisata alam ini dari gunung Jaran (kuda) yang dahulunya adalah tempat kuda-kuda prajurit Diponegoro.

"Ini Bukit Ngisis, di atas itu bukit jaran tapi karena ada 200 anak tangga makanya yang sepuh-sepuh memang (capek) sampai ke atas. Kita sampai bikin di sini dinamai Bukit Ngisis dengan udara dingin bisa ngisis (bahasa Jawa: tempat mencari semilir angin sepoi-sepoi) di sini," katanya.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 dari 4 halaman

Spot Swafoto dan Agrowisata

Teguh menceritakan, dusunnya terkenal dengan produksi teh. Hal ini menjadi andalan dusun Nglinggo sebagai wisata alam dan sudah masuk dalam paket wisata.

"Kita tonjolkan kearifan lokal tidak hanya kebun teh, tapi juga pegunungan kita jual edukasi paketan teh," katanya.

Paket wisata di Desa Wisata Nglinggo meliputi proses pemetikan hingga pengolahan teh. Tidak hanya teh, paket serupa juga untuk proses pengolahan kopi dan aren.

"Kita tawarkan proses pemetikan teh ada sangrai secara tradisional dan penyangraian kopi dan proses pengambilan nila aren. Ini jadi pembelajaran yang belum pernah lihat pohon aren," ujarnya.

Paket teh, kopi dan aren ini menurut Teguh menarik bagi wisatawan asing seperti Australia, Perancis dan Belanda. Paket petik teh, kopi dan aren itu dipatok biaya Rp 250 ribu per 10 orang.

"Memang sedikit, harapan kami kalau banyak orang tidak bisa praktik jadi kami ingin mereka bisa melakukan, yang senang itu turis asing. Biasanya satu jam kita siasati hasil praktik kita berikan ke wisatawan," katanya.

Teguh menegaskan, selain paket teh, kopi, dan aren, pengunjung bisa juga berfoto di perbatasan tiga daerah. Sebab, Dusun Nglinggo ini berada di perbatasan Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Purworejo, dan Magelang.

"Bawahnya hutan pinus rencananya akan ada tugu perbatasan di sebelah utara Magelang barat Purworejo dan timur Kulon Progo sarana tambahan selfie wisata," imbuhnya.

 

3 dari 4 halaman

Paket Offroad hingga Borobudur

Desa wisata alam Dusun Nglinggo juga memiliki paket wisata offroad (jelajah medan ekstrem). Paket offroad ini terhitung baru dengan peminat yang cukup tinggi.

"Kita pusatkan untuk outbond (pelatihan di alam terbuka) dan ada wisata offroad," katanya.

Paket ini terbagi untuk trek pendek hingga trek panjang. Penikmat fasilitas wisata ini bisa menyiapkan uang Rp 350 ribu untuk trek pendek dan Rp 800 ribu untuk trek panjang menuju Candi Borobudur.

"Tarifnya sampai Rp 750 ribu-Rp 800 ribu ini jalurnya ekstrem. Semua dari sini kita antarkan ke Borobudur. Kita harapkan wisatawan," ujarnya.

Saat ini, masyarakat sekitar sudah memahami jika wisata menjadi napas kehidupan warga. Sehingga, beberapa warga bersiap untuk menambah jumlah jip yang akan digunakan.

"Kendaraan jip itu milik masyarakat sudah ada 10. Kalau ada butuh 100 jip, makanya kita sudah hubungi teman-teman dari kota," ujarnya.

Selain itu, fasilitas homestay di wilayahnya cukup menampung wisatawan yang live in. Setidaknya 150 wisatawan dapat menempati homestay yang tersebar di rumah warga.

"Ada cottage itu hanya 20 rumah, Rp 200 ribu per rumah untuk tiga orang belum masuk makan. Kalau dengan homestay itu Rp 200 ribu itu sudah dengan makan," katanya.

4 dari 4 halaman

Longsor Jadi Hambatan

Potensi alam yang indah Dusun Nglinggo ini menarik setidaknya 63 ribu pengunjung datang melihat alam Nglinggo tahun 2017 dan ada tambahan 22 ribu di tahun 2016. Ada penurunan jumlah kunjungan ini dipengaruhi beberapa faktor seperti kondisi cuaca.

"Ya, turun karena bencana tanah longsor itu pengaruh, wisata alam identik dengan kondisi alam, juga banyak tidaknya tanggal merah dan cuaca," katanya.

Menurut Teguh, tanah longsor di beberapa kawasan menuju Dusun Nglinggo membuat penurunan jumlah wisata. Ia meminta pemerintah bergerak cepat jika ada longsor di sepanjang jalan menuju tempat wisata ini.

"Ya memang begitu risiko wisata alam itu. Sangat dipengaruhi kondisi alam sekitar," katanya.

Ia menjelaskan, melihat kondisi itu, ia berharap tahun ini jumlah kunjungan wisatawan kembali meningkat. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh peningkatan ekonomi dari objek wisata ini.

"Ya, harapannya tahun ini kembali naik wisatawan, kita juga kerja sama dengan biro wisata agar kunjungan terus meningkat," katanya.

Pendapatan objek wisata ini juga didapat dari retribusi masuk kawasan Dusun Nglinggo. Tiket masuk kawasan ini termasuk murah, yaitu Rp 5 ribu.

"Mulai tahun 2016 dapat payung hukum kita ada kontribusi jadi tiket Rp 5 ribu jadi Rp 3 ribu untuk Pokdawris yang Rp 2 ribu ke pemda, tapi yang 25 persen dikembalikan ke Pokdarwis," katanya.

Wisata ini dibuka untuk umum mulai pukul 07.00 WIB hingga 15.30 WIB. Jika ada pengunjung yang camping (bertenda) di lokasi ini pengelola sudah menyiapkan keamanan pengunjung.

"Paket malam camping sudah stand-by di sini kita jaga juga," tuturnya.

Loading
Artikel Selanjutnya
Mandi Sinar Matahari Pagi di Pantai Trisik Kulon Progo
Artikel Selanjutnya
Gowes Nusantara 2019 Berakhir di Kulon Progo, Warga Tempuh Tantangan Hingga 100 Km