Abu Vulkanik Anak Krakatau Meluas, Warga Diminta Terus Pantau Kualitas Udara

Di bagian Sumsel, kualitas udara sangat tidak sehat tetapi karena asap kebakaran hutan.

Diterbitkan 07 September 2026, 05:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • KLH/BPLH memantau abu vulkanik GAK; masyarakat diminta waspada.
  • Kualitas udara Sumatera Selatan "Sangat Tidak Sehat" akibat abu dan karhutla.
  • Masyarakat diimbau tenang, ikuti info resmi, kelompok rentan pakai masker.

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). terus memantau sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Plt Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH/BPLH, Noer Adi Wardoyo, meminta masyarakat tetap tetap tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan seiring dengan meluasnya sebaran abu vulkanik tersebut.

"Kondisi saat ini menuntut kita untuk lebih mawas diri seiring meluasnya abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Di tengah situasi ini, kepedulian terbesar kami di KLH/BPLH adalah memastikan Anda dan keluarga tetap sehat dan aman," ujar Noer Adi melalui keterangan tertulis, Minggu (6/9/2026).

Hingga Minggu (6/9/2026) pukul 14.00 WIB, sistem Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan perbedaan kondisi udara yang cukup signifikan antar-wilayah. Berikut rinciannya:

Kategori Sedang: Jakarta GBK (64), Serang Sumurpecung (85), Tangerang Pasir Jaya (65), Tangerang Selatan Serpong (78), Cilegon Pulomerak (63), dan Kabupaten Bogor Leuwiliang (83).

Kemudian di wilayah Sumatera Bagian Selatan, parameter kritis PM2.5 membuat kualitas udara di beberapa titik menyentuh level Sangat Tidak Sehat. Berikut rinciannya:

Kategori Sangat Tidak Sehat: Palembang Bukit Kecil (216), Kab. Penukal Abab Lematang Ilir (237), dan Kab. Ogan Ilir (213).

Kategori Tidak Sehat: Kab. Lahat (112), Kabupaten Musi Rawas (165), Kota Prabumulih (139), Kabupaten Musi Banyuasin Serasan Jaya (128), Kabupaten Tebo (169), Jambi Paal Lima (166), dan Kab. Tanjabtim Muara Sabak (114).

Kategori Sedang: Kabupaten Muara Enim (81), Bengkulu Singaran Pati (61), dan Bandar Lampung Talang (57).

Kategori Baik: Kabupaten Lampung Selatan Way Urang (30).

"Buruknya kualitas udara di Sumatera Bagian Selatan juga dipicu oleh dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," ucap Noer Adi.

"Selain itu, perlu kami sampaikan bahwa KLH/BPLH juga masih memperdalam hubungan langsung peningkatan partikulat dengan erupsi GAK yang memerlukan kajian teknis lebih lanjut," sambung dia.

 

Masyarakat Diminta Tetap Tenang tapi Waspada

 

Menurut Noer Adi, KLH telah menerjunkan tim teknis guna memantau kualitas udara ambien (PM2.5, PM10) serta konsentrasi gas Sulfur Dioksida (SO2).

Tak hanya udara, lanjut dia, kualitas air laut di pesisir Banten dan Lampung juga turut menjadi objek pengawasan.

"Pemantauan kualitas udara terus dioptimalkan melalui Air Quality Monitoring System (AQMS). Kami juga memperkuat koordinasi bersama BMKG, PVMBG, BNPB, Kementerian Kesehatan, hingga pemerintah daerah untuk memastikan mitigasi berjalan terpadu," terang Noer Adi.

Merespons kondisi ini, pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun tetap waspada. Masyarakat diminta untuk selalu memantau informasi resmi mengenai perubahan kualitas udara.

"Diimbau untuk tetap tenang, mengikuti informasi resmi dari pemerintah, serta meningkatkan kewaspadaan apabila terjadi perubahan kualitas udara," ucap dia.

"Kelompok rentan (anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernapasan) diimbau berhati-hati dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan jika diperlukan," tutup Noer Adi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6