Kebakaran TPA Putri Cempo Belum Padam, Helikopter 56 Kali Water Bombing

Pantauan di lokasi menunjukkan kepulan asap masih terlihat di sejumlah titik, terutama Blok B dan Blok D.

Diterbitkan 07 September 2026, 05:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo, Jebres, Solo, masih belum sepenuhnya padam hingga Minggu (6/9/2026). Memasuki hari kelima, tim gabungan terus menangani bara api yang bertahan di dalam timbunan sampah.

Pantauan di lokasi menunjukkan kepulan asap masih terlihat di sejumlah titik, terutama Blok B dan Blok D. Sementara itu, asap di Blok C relatif lebih sedikit. Petugas tetap melakukan penyisiran dan pendinginan untuk mencegah bara kembali memicu kobaran api.

Kebakaran dilaporkan terjadi pada Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 19.45 WIB. Hingga Minggu siang, pemadaman masih difokuskan pada Blok B, C, dan D dengan luas area terdampak sekitar 4,4 hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Solo Ari Dwi Daryatmo mengatakan, tebalnya timbunan sampah menjadi kendala utama karena bara dapat bertahan di bagian dalam dan kembali muncul ke permukaan.

"247 personel gabungan dan 32 damkar untuk mempercepat proses pemadaman sekaligus pendinginan. Fokus pemadaman masih dilaksanakan di tiga blok tersebut," ujar Ari, Minggu (6/9/2026).

Sebanyak 247 personel gabungan dan 32 armada pemadam kebakaran dikerahkan untuk menangani kebakaran. Operasi dilakukan melalui jalur darat dan udara dengan melibatkan personel Polri, TNI, serta pemadam kebakaran dari wilayah Solo Raya.

Petugas di darat menyemprotkan air ke titik-titik yang masih mengeluarkan asap dan melakukan pendinginan pada area timbunan yang dinilai menyimpan bara.

 

PLN Asesmen Jaringan SUTET

Selain pemadaman, pengamanan jaringan listrik di sekitar lokasi juga menjadi perhatian. Sebanyak 28 personel PLN dikerahkan untuk melakukan asesmen terhadap jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).

Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak terdapat kerusakan pada jaringan maupun sarana dan prasarana kelistrikan akibat panas kebakaran.

"PLN melaksanakan asesmen jaringan SUTET untuk memastikan apakah ada kerusakan terkait jaringan atau sarpras akibat panas kebakaran ini," tutur Ari.

Terkait kemungkinan penerapan operasi modifikasi cuaca, BPBD Kota Solo masih menunggu arahan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga telah dilakukan apabila metode tersebut diperlukan.

 

Helikopter Polri 56 Kali Water Bombing

Dukungan pemadaman dari udara dilakukan Polri menggunakan helikopter melalui operasi water bombing. Selama tiga hari pelaksanaan, helikopter tersebut telah menjatuhkan sekitar 28.000 liter air ke sejumlah titik kebakaran.

Kapolresta Surakarta Kombes Pol Catur Cahyono Wibowo mengatakan, operasi tersebut dilakukan untuk membantu pemadaman dari darat, terutama di area timbunan sampah yang sulit dijangkau petugas.

"Selama tiga hari water bombing yang dilakukan Polri sebanyak 56 kali. Hari pertama 26 kali, hari kedua 20 kali, dan hari ini 10 kali," ujar Catur.

Dalam setiap penerbangan, helikopter membawa sekitar 500 liter air. Air untuk operasi tersebut diambil dari Sungai Bengawan Solo, kemudian dijatuhkan ke titik-titik yang masih terlihat mengeluarkan api maupun asap.

"Untuk kapasitas airnya sekitar 500 liter sekali angkut dan air diambil dari Sungai Bengawan Solo," terang Catur.

Catur mengatakan, pemadaman dari udara membantu mempercepat penanganan, khususnya pada area yang tidak dapat dijangkau secara maksimal menggunakan peralatan pemadam dari darat.

"Untuk kegiatan pemadaman sudah kami lakukan sejak kemarin. Sampai saat ini kami masih melakukan pemadaman dan akan terus dilakukan sampai selesai," imbuhnya.

Hingga Minggu siang, tim gabungan masih disiagakan di TPA Putri Cempo. Pemadaman dan pendinginan terus dilakukan untuk memastikan bara di dalam timbunan sampah tidak kembali memunculkan titik api.