Napas Orangutan di Tengah Kepungan Asap Hutan Kalimantan

Asap karhutla yang belum menyentuh kawasan konservasi ternyata tetap mengancam orangutan. Sebanyak 21 ekor kini menunjukkan gejala ISPA.

Diterbitkan 07 September 2026, 06:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Api belum menjangkau kawasan Hutan Kota Nyaru Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Namun asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah lebih dulu sampai dan mulai mengganggu orangutan yang tinggal di dalamnya.

Sebanyak 21 orangutan yang berada di kawasan tersebut kini menunjukkan gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan asap.

"Lokasi kita ini masih aman dari api, tapi tidak aman dari asap. Dan paparan itu membuat kami di sini ada 21 orangutan yang menunjukkan gejala ISPA," kata CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Jamartin Sihite di Hutan Kota Nyaru Menteng, Palangka Raya, Sabtu (5/9/2026).

Bagi orangutan, asap menjadi ancaman yang tak kalah serius dibanding api. Satwa yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di pepohonan itu tidak memiliki perlindungan seperti manusia yang bisa menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk.

Karhutla bahkan sudah memaksa tim konservasi melakukan penyelamatan terhadap sejumlah orangutan. Bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah (BKSDA Kalteng), para pegiat konservasi sejauh ini telah mengevakuasi lima orangutan.

Dua di antaranya adalah Raya dan Rayu, induk dan anak yang ditemukan di kawasan Hutan Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, pada 2 September 2026.

Keduanya ditemukan di atas pohon saat asap mengepung kawasan tersebut. Di bawahnya, lahan gambut terbakar. Dalam kondisi itu, Raya dan Rayu harus bertahan di tengah habitat yang semakin tidak aman.

 

 

Persiapkan Kemungkinan Terburuk

Menyelamatkan orangutan dari lokasi seperti itu bukan pekerjaan mudah. Keberadaan satwa kerap berada jauh di dalam kawasan yang sulit dijangkau. Ketika jalur darat tidak memungkinkan, tim harus menyusuri sungai untuk mencapai titik lokasi.

"Sehingga kita butuh waktu untuk sampai ke titik orang utan, dan kemudian membawa mereka keluar juga butuh waktu," ungkap Jamartin.

Tim yang melakukan evakuasi juga harus mempersiapkan kemungkinan terburuk. Dokter hewan ikut diterjunkan bersama peralatan medis untuk memastikan kondisi satwa dapat segera ditangani jika mengalami gangguan kesehatan.

"Karena kita harus antisipasi yang terburuk," katanya.

Laporan Terlambat Jadi Kendala

Selain medan yang sulit, proses penyelamatan juga kerap terkendala laporan masyarakat yang terlambat.

Manajer Program Orangutan Foundation Indonesia (OFI) mengatakan satwa yang membutuhkan pertolongan terkadang baru dilaporkan setelah berada di tengah permukiman selama beberapa hari.

"Jadi kadang-kadang sudah di masyarakat satu atau dua hari baru dilaporkan ke kita," kata dia.

Padahal, semakin cepat informasi diterima, semakin besar peluang tim melakukan evakuasi sebelum kondisi satwa memburuk atau habitatnya semakin terancam.

Karena itu, para pegiat konservasi mengajak masyarakat tidak menganggap keselamatan satwa sebagai persoalan yang bisa dikesampingkan ketika karhutla terjadi.

Menjaga habitat yang masih aman dan segera melaporkan keberadaan satwa yang membutuhkan pertolongan menjadi bagian penting dari upaya penyelamatan.

"Yang utama sekarang ini juga menjaga habitat atau rumah yang masih bagus nih, sehingga satwa-satwa yang terdampak, punya tujuan yang jelas di sana," tutur Yoga.

Menurut dia, masyarakat juga perlu melihat satwa liar sebagai sesama makhluk hidup yang memiliki hak untuk hidup dan mendapatkan rasa aman.

"Posisikan satwa liar sama dengan kita manusia, sama-sama makhluk hidup, sehingga jaga semua alam yang ada," imbuhnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6