Pramono Anung Dorong Kebaya Jadi Identitas Budaya Jakarta

Pramono menegaskan kebaya harus terus dirawat sebagai identitas budaya.

Diterbitkan 01 Agustus 2026, 18:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Pemprov DKI prioritaskan penguatan identitas budaya Jakarta, bukan hanya fisik.
  • Ruang publik strategis disiapkan untuk pertunjukan seni dan budaya tradisional.
  • Pelestarian kebaya, warisan UNESCO, menjadi fokus utama Pemprov DKI Jakarta.

Liputan6.com, Jakarta - Pemprov DKI Jakarta memberikan ruang seluas-luasnya bagi ekspresi kebudayaan sebagai wujud penguatan identitas budaya yang berjalan beriringan dengan karakter utama kota.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan, pembangunan Jakarta tidak boleh hanya berorientasi pada kemajuan infrastruktur fisik dan pertumbuhan ekonomi semata.

Penguatan identitas budaya harus berjalan beriringan sebagai bagian dari karakter utama kota. Sebagai kota yang multikultural, multietnis, dan terbuka, Pramono menegaskan komitmen penuh Pemprov DKI Jakarta dalam memberikan ruang seluas-luasnya bagi ekspresi kebudayaan.

Ruang-ruang publik strategis seperti Balai Kota, Kota Tua, Lapangan Banteng, hingga kawasan Maramis dipersiapkan secara aktif untuk menggelar berbagai pertunjukan seni dan budaya tradisional.

“Inilah yang namanya budaya kita, kita rawat bersama-sama. Apalagi kebaya ini merupakan warisan budaya takbenda yang sudah diakui UNESCO. Kalau bukan kita yang merawat, pasti tidak ada,” ujar Pramono dalam keterangannya, Sabtu (1/8/2026).

Pramono juga menyoroti pentingnya pelestarian kebaya lintas etnis, mulai dari kebaya Betawi, Enci, Jawa, Madura, hingga ragam kebaya dari berbagai daerah di Nusantara.

Pemprov DKI Jakarta bersama Perhimpunan Kebayaku sukses menyelenggarakan perhelatan budaya bertajuk “Kharisma Batavia Menuju Jakarta”.

Acara yang digelar di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, itu menjadi bagian dari rangkaian menyambut 500 Tahun Kota Jakarta pada 2027. Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Pramono bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno serta para duta besar negara sahabat.

Mengusung tema “Kharisma Batavia Menuju Jakarta”, kegiatan ini dirancang sebagai ruang kolaborasi strategis antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat untuk memperkuat pelestarian budaya lokal di tengah transformasi Jakarta menjadi kota global yang modern, tetapi tetap berakar pada identitas dan tradisi.

Pada kesempatan yang sama, Pramono menyampaikan apresiasi kepada Perhimpunan Kebayaku atas konsistensi dan dedikasinya dalam melestarikan kebaya melalui berbagai kegiatan kreatif yang melibatkan masyarakat lintas generasi.

 

Refleksi Sejarah dan Makna Kebaya

Ketua Perhimpunan Kebayaku Nunun Daradjatun dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema acara tersebut merupakan refleksi perjalanan panjang yang mengajak masyarakat menghayati kembali akar budaya bangsa.

Menurutnya, sebuah kota besar tidak hanya dibangun dari gedung dan infrastruktur jalan, tetapi juga berdiri di atas fondasi sejarah serta nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Batavia mungkin sudah berganti nama menjadi Jakarta sekarang. Tetapi sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung dan jalan-jalan, melainkan dibangun oleh sejarah, nilai-nilai yang diwariskan, serta budaya yang hidup di tengah masyarakat Jakarta dan Betawi,” ujar Nunun.

Nunun juga menekankan bahwa kebaya merupakan warisan budaya yang dinamis, terus tumbuh, dan beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar identitasnya.

Lebih dari sekadar estetika berbusana, kebaya menyimpan kisah mendalam tentang ketulusan dan ketangguhan perempuan Indonesia dalam merawat nilai-nilai kehidupan serta meneguhkan jati diri bangsa.

Rangkaian acara dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni dan budaya yang memukau.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6