Rahasia Styling Kebaya Modern, Tampil Modis Tanpa Kehilangan Makna

Film pendek Jalan Pulang memperlihatkan bagaimana padu padan kebaya dirancang agar menyatu dengan karakter, sekaligus terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Diterbitkan 28 Juli 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Busana kerap menjadi salah satu elemen yang mencuri perhatian dalam sebuah film. Pendekatan berbeda justru diterapkan dalam film pendek Jalan Pulang. Alih-alih menampilkan kebaya dengan gaya yang terlalu glamor, tim kreatif memilih menghadirkan busana yang terasa dekat dengan keseharian.

Pilihan tersebut membuat kebaya tidak sekadar menjadi pemanis visual, tapi turut menghidupkan karakter dan memperkuat cerita. Proses di balik setiap tampilan pun tidak dilakukan secara instan.

Tim kreatif melakukan riset dan eksplorasi untuk menemukan padu padan kebaya yang sesuai dengan latar belakang, kepribadian, serta kebiasaan setiap tokoh. Proses tersebut turut diperlihatkan lewat instalasi berisi moodboard, sketsa desain, referensi visual, serta material kostum saat peluncuran film dalam rangka Hari Kebaya Nasional.

Desainer Hagai Pakan mengatakan, tantangan terbesar bukan menciptakan tampilan yang glamor. "Yang lebih challenging buat aku adalah membuatnya terlihat seperti penampilan sehari-hari, tapi tetap kelihatan realis. Jangan sampai overdressed, tapi juga jangan underdressed," katanya saat jumpa pers di Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.

Menurutnya, setiap kostum juga harus mengikuti perjalanan emosi karakter. Kebaya tidak boleh tampil terlalu dominan hingga mengalihkan perhatian dari cerita. "Yang perlu aku jaga adalah penggabungan yang stylish, tapi juga tidak merusak emosi cerita," lanjutnya.

Untuk menghadirkan kesan yang natural, Hagai tidak hanya mempertimbangkan model kebaya, tapi juga gaya hidup setiap karakter. Ia membayangkan bagaimana tokoh tersebut berpakaian dalam kesehariannya, lalu menyesuaikan pilihan kain, siluet, serta aksesori agar tetap terasa autentik di layar.

Setiap Karakter Punya Gaya Berkebaya Berbeda

Karakter perempuan muda yang bekerja di industri kreatif, misalnya, ditampilkan modis dengan memanfaatkan kebaya yang sudah ada di lemari. Sementara itu, karakter ibu di rumah tetap mengenakan kain dengan padu padan yang sederhana sehingga tidak terlihat seperti hendak menghadiri acara formal.

Pendekatan tersebut membuat kebaya terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus memperkuat identitas setiap karakter. Hagai mengatakan, pilihan busana juga dirancang agar unsur Indonesia tidak berhenti sebagai dekorasi visual. Kebaya dan kain justru menjadi bagian dari perjalanan cerita melalui cara karakter mengenakannya.

"Bagaimana caranya karakter tersebut tetap memanfaatkan kebaya yang ada di lemari mereka dengan padu padan agar terlihat stylish? Indonesia tidak hanya jadi dekorasi, tapi jadi bagian dari ceritanya," kata sang desainer.

Gaya Tradisional Jadi Inspirasi

Meski mengusung tampilan yang lebih modern, Hagai justru menemukan inspirasi dari cara perempuan Indonesia mengenakan kebaya pada masa lalu. Kenangan memadupadankan kebaya milik sang ibu untuk adiknya kembali terlintas saat menggarap film ini.

Pengalaman tersebut membuatnya melihat bahwa gaya klasik masih relevan untuk diterjemahkan dengan pendekatan yang lebih segar. Menurut Hagai, inovasi kebaya tidak selalu harus dimulai dengan menciptakan bentuk baru. Menengok kembali sejarah dan berbagai unsur tradisional dapat membuka kemungkinan gaya yang lebih relevan untuk masa kini.

"Kadang-kadang hal yang paling terasa baru justru berasa dari hal yang paling basic atau klasik. Jadi kita perlu menilik dulu sejarah, karena banyak hal yang tradisional justru akan menjadi inovasi di masa depan," ujarnya. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kebaya memiliki ruang luas untuk terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Terinspirasi Kehidupan Sehari-Hari

Bagi Hagai, keberhasilan styling dalam Jalan Pulang tidak hanya terlihat dari tampilan di layar, tapi juga kemampuannya menginspirasi masyarakat mengenakan kebaya dalam keseharian. Beragam padu padan yang ditampilkan diharapkan dapat menjadi referensi bagi mereka yang ingin tampil modern tanpa meninggalkan identitas budaya.

Hagai menilai, kebaya perlu terus berkembang mengikuti kebutuhan perempuan yang beragam. Perbedaan profesi, preferensi, serta latar daerah membuat gaya berkebaya tidak bisa diseragamkan.

"Semuanya harus makin beragam, makin variatif, makin baik. Karena semua perempuan berasal dari daerah yang berbeda, punya preferensi, profesi, dan kebutuhan memakai kebaya yang berbeda," imbuhnya.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kebaya tidak harus tampil berlebihan untuk menarik perhatian. Padu padan yang tepat justru dapat membuatnya menyatu dengan karakter pemakainya, menjadi bagian dari cerita, sekaligus tetap relevan dengan gaya hidup perempuan masa kini.