Liputan6.com, Jakarta - Kecelakaan KRL dan kereta api Argo Bromo Anggrek terjadi pada Senin malam 27 April 2026 di sekitar Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat.
Kala itu, KRL yang sedang menunggu sinyal untuk berangkat dari Stasiun Bekasi Timur, ditabrak dari belakang oleh kereta api Argo Bromo. Korban pun berjatuhan.
Hingga Rabu 29 April 2026, total 16 korban meninggal dunia akibat insiden berdarah tersebut. Kesemuanya adalah perempuan. Ya, sebab KRL yang ditabrak dari belakang itu terkena hanya ke gerbong khusus perempuan.
Advertisement
Vice President (VP) Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda mengungkapkan, korban meninggal terbaru bernama Mia Citra. Korban yang berumur 25 tahun sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bekasi.
"Kami turut berduka dan berbelasungkawa bahwa penumpang atas nama Mia Citra meninggal dunia di RSUD Bekasi," kata Karina, Rabu 29 April 2026.
Korban meninggal lainnya adalah Tuti Aditasari (31), Harum Anjasari (27), Nur Alimantun Citra Lestari (19), Farida Utami (50), Vica Agnia Fratiwi (23), Ida Nuraida (48), Dita Septia Wardany (20), Fatmawati Rahmayani (29), dan Arinjani Novita Sari (25).
Lalu ada Nur Ainia Eka Rahmadhynna (23), Nuryati (41), Nur Caela (39), Engar Retno Krisjayanti (35), Ristuti Kustirahayu, dan Adelia Rifani.
Keluarga hingga teman-teman serta rekan kerja mereka pun berduka. Banyak kisah yang terselip menyimpan memori tersendiri untuk dikenang indah dari para korban.
Misalnya Nurlaela, guru SDN Pejagan 11 Pulogebang, Jakarta Timur. Almarhumah tercatat sebagai PNS Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak 2019 dan bertugas di SDN Pulogebang 11.
Selain menjadi guru kelas 2, Nurlaela juga memegang tugas tambahan sebagai bendahara serta pengelola perpustakaan sekolah. Nurlaela (37), sehari-hari rutin menggunakan moda transportasi KRL untuk berangkat maupun pulang bekerja.
Almarhumah dikenal sebagai pribadi pekerja keras dan pendiam. Tiga bulan lalu, Nurlaela baru menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Negeri Jakarta.
Kemudian ada Nur Ainia Eka Rahmadhyna. Saat jenazah Nur Aina tiba di rumah bukan sekadar membawa duka, tetapi juga memecahkan bendungan emosi yang sejak tadi ditahan keluarga.
Begitu pintu ambulans terbuka, tangis pecah tanpa aba-aba. Halaman rumah yang dipenuhi kerabat dan tetangga mendadak larut dalam kesedihan. Di antara kerumunan, sosok sang adik karyawan Kompas TV itu menjadi pusat perhatian. Ia tampak paling terpukul. Tangisnya pecah menjadi jeritan, memohon agar peti itu dibuka.
Seperti apakah kisah haru dari para perempuan hebat yang menjadi korban kecelakaan kereta di Bekasi? Simak selengkapnya Tim News Liputan6.com:
Sosok Pekerja Keras Nurlaela, Guru SD yang Baru Saja Selesai Pendidikan Magister
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5568575/original/034668300_1777362960-nurlela.jpg)
Nurlaela, guru SDN Pejagan 11 Pulogebang, Jakarta Timur, menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan yang melibatkan KRL Commuter Line dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam 27 April 2026.
Kedisdik DKI Jakarta Nahdiana menjelaskan, almarhumah tercatat sebagai PNS Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak 2019 dan bertugas di SDN Pulogebang 11. Selain menjadi guru kelas 2, Nurlaela juga memegang tugas tambahan sebagai bendahara serta pengelola perpustakaan sekolah.
"Jadi almarhumah ini 2019 menjadi PNS Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang tugasnya di SDN Pulogebang 11. Dedikasi almarhumah menurut kesaksian kepala sekolah, teman-temannya, beliau sangat bertanggung jawab. Jadi kita doakan Insya Allah almarhumah husnul khotimah," kata Nahdiana saat pemakaman almarhumah di Cikarang, Selasa 28 April 2026.
Dirinya juga menyampaikan, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta menitipkan duka cita dan keprihatinan mendalam atas kepergian guru yang akrab disapa Bu Ela itu. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga memastikan pendampingan bagi keluarga korban.
Selain membantu mengurus administrasi terkait status almarhumah sebagai pegawai negeri dan guru, Pemprov DKI juga akan memberi pendampingan psikososial, terutama kepada anak tunggal korban.
"Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur menitipkan semua proses administrasi dan lain-lainnya, akan kami lakukan pendampingan terhadap anak yang satu, anak tunggalnya. Kami pesankan kepada suami, ibunda dan ananda, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan melakukan pendampingan, baik proses administrasi maupun psikososial," ujar Nahdiana.
Nurlaela (37), sehari-hari rutin menggunakan moda transportasi KRL untuk berangkat maupun pulang bekerja. Almarhumah dikenal sebagai pribadi pekerja keras dan pendiam. Tiga bulan lalu, Nurlaela baru menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Negeri Jakarta.
"Dia pekerja yang ulet, enggak banyak bicara, benar-benar kerja orangnya. Dia baru lulus S2 tiga bulan lalu di UNJ," kata paman korban Mulyadi.
Nurlaela meninggalkan seorang anak yang kini duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Almarhumah dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga, tak jauh dari rumah duka.
Saat kejadian, Nurlaela dalam perjalanan kembali ke rumah usai mengajar di SD Pejagan 11 Pulogebang, Jakarta Timur. Itu sebabnya, keluarga di rumah langsung cemas bukan main saat mendengar kabar ada kecelakaan kereta di Bekasi Timur.
Ponsel Nurlaela terus dihubungi. Tetapi, tak kunjung ada jawaban. Beberapa saat kemudian, nomor Nurlela balik menghubungi. Namun, bukan suara Nurlaela yang terdengar.
Melainkan, seseorang yang mengabarkan ponsel ibu satu anak itu ditemukan di sekitar lokasi kecelakaan. Sementara keberadaan Nurlaela, saat itu belum diketahui.
"Kami sudah khawatir karena belum pulang, ditelepon tidak angkat. Pas diangkat orang lain dari pihak berwenang bilang handphone ditemukan, tapi korban belum diketahui ada di mana," kata Mulyadi, paman korban saat ditemui di rumah duka.
Keluarga syok bukan main dan segera menuju lokasi. Satu jam pencarian, akhirnya Nurlaela ditemukan. Tetapi sudah tak lagi bernyawa. Akhirnya, jenazah Nurlaela dibawa ke rumah duka di Kampung Ceger, RT 02/RW 02, Desa Tanjungbaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi dan tiba sekitar pukul 03.00 WIB.
"Jam satu kami baru ketemu, terus koordinasi dan jemput. Sampai rumah jam tiga pagi," katanya.
Menurut Mulyadi, kondisi jenazah almarhumah dalam keadaan utuh, meski mengalami patah kaki dan diduga luka dalam.
"Alhamdulillah, kondisi tubuhnya utuh, tidak ada luka yang mengkhawatirkan. Cuma kakinya patah dan mungkin ada luka dalam," kata Mulyadi.
Advertisement
Peti Tertutup Nur Ainia, Sosok Ceria Si Pecinta Kucing
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5568892/original/012409900_1777388072-WhatsApp_Image_2026-04-28_at_21.32.20.jpeg)
Malam di Griya Asri 2, Tambun, Bekasi, baru saja beranjak gelap ketika suara sirene memecah sunyi. Jarum jam menunjukkan pukul 19.33 WIB, saat sebuah ambulans dari RS Polri perlahan berhenti di depan rumah duka.
Di dalamnya, terbujur jenazah Nur Ainia Eka Rahmadhyna, korban kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, yang malam itu akhirnya pulang.
Pantauan Liputan6.com, Selasa 28 April 2026, kedatangannya bukan sekadar membawa duka, tetapi juga memecahkan bendungan emosi yang sejak tadi ditahan keluarga.
Begitu pintu ambulans terbuka, tangis pecah tanpa aba-aba. Halaman rumah yang dipenuhi kerabat dan tetangga mendadak larut dalam kesedihan. Beberapa orang menunduk dalam diam, sementara yang lain tak lagi mampu menyembunyikan air mata.
Petugas menurunkan peti jenazah karyawan Kompas TV itu dengan hati-hati. Di atasnya, hanya tertulis nama almarhumah, satu-satunya penanda yang bisa dikenali keluarga. Wajah Nur Ainia tak lagi dapat dilihat untuk terakhir kalinya, menyisakan ruang kosong yang tak tergantikan dalam ingatan orang-orang terdekatnya.
Di antara kerumunan, sosok sang adik menjadi pusat perhatian. Ia tampak paling terpukul. Tangisnya pecah menjadi jeritan, memohon agar peti itu dibuka.
Dengan tangan gemetar, ia mengetuk peti jenazah, seolah berharap keajaiban kecil bisa terjadi, sekadar melihat wajah kakaknya untuk terakhir kali. Namun kenyataan tetap tak berubah. Kepergian itu telah menjadi garis akhir yang tak bisa ditarik kembali.
Ayah, ibu, dan nenek almarhumah berusaha menenangkan. Mereka memeluk erat sang adik yang terus meronta dalam duka. Usaha mereka adalah bentuk kekuatan yang tersisa di tengah kehilangan yang begitu dalam, meski kesedihan malam itu terasa terlalu besar untuk ditenangkan dengan kata-kata.
Di tengah kesedihan itu, sang ayah, Hary Marwata, mencoba menggambarkan sosok putrinya dengan suara yang tertahan. Hary Marwata mengungkapkan komunikasi terakhir dengan Ain terjadi pada Senin sore. Ia sempat mengirim pesan kepada sang putri, meminta dijemput seperti kebiasaan pulang kerja.
"Biasanya memang minta dijemput sekitar setengah sembilan malam. Itu sudah rutin," ucap Hary.
Namun malam itu, Ain-demikian ia akrab disapa tak kunjung kembali. Bahkan, keluarganya sempat kesulitan melacak keberadaannya karena ponsel miliknya tertinggal di lokasi kecelakaan.
Selama bekerja, Ain dikenal menggunakan KRL sebagai moda transportasi utama. Ia disebut lebih memilih berada di gerbong khusus perempuan.
“Dia memang selalu di gerbong wanita. Sudah kebiasaannya begitu,” tuturnya.
Di mata orang tua, Ain adalah sosok anak yang sederhana dan penurut. Sehari-hari, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sepulang kerja dan jarang bepergian.
"Anaknya nurut, enggak banyak tingkah. Pulang kerja ya di rumah. Jarang keluar," kenang ayahnya.
Beberapa hari sebelum kejadian, Ain bahkan masih sempat menghabiskan waktu bersama ibunya untuk berbelanja. Selain itu, Ain turut membantu perekonomian keluarga. Meski sang ayah masih bekerja, kontribusi Ain dinilai cukup berarti.
"Iya, dia ikut bantu," ucap Hary singkat.
Momen terakhir yang diingat sang ayah terjadi pada Senin pagi, sebelum Ain berangkat kerja. Seperti biasa, ia menyiapkan bekal makanannya sendiri.
"Enggak ada firasat apa-apa. Pamit biasa saja," tutup Hary.
Perlahan, peti jenazah dibawa masuk ke dalam rumah dan ditempatkan di ruang duka. Suara tangis mulai mereda, berganti dengan lantunan doa yang dipanjatkan satu per satu.
Dalam diam yang kini berbeda makna, Nur Ainia 'pulang', bukan lagi sebagai sosok yang menyapa, melainkan sebagai kenangan yang akan terus hidup di hati keluarganya.
Malam itu, Griya Asri 2 tak hanya menjadi saksi kepulangan seorang anak, kakak, dan cucu. Ia juga menjadi saksi betapa kehilangan bisa begitu sunyi, namun meninggalkan gema yang panjang di hati mereka yang ditinggalkan.
Harum Anjarsari, Niat Berlibur yang Kandas dan Selalu Bilang Aku Ingin Pulang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5570184/original/047008800_1777517541-Harum.jpeg)
Seharusnya pekan ini Harum Anjarsari (30) dan suaminya Radit (36) serta anaknya akan berlibur bersama. Insiden kecelakaan kereta KRL terhantam KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur pada Senin 27 April 2026, mengubah mimpi indah keluarga kecil ini. Harum Anjarsari meninggal dunia dalam kecelakaan tragis itu.
Malam itu, Radit menunggu di rumah mereka di kawasan Tambun, Bekasi. Ditemani anak bungsunya yang masih tiga tahun. Layar ponselnya terus menyala, menunggu kabar dari sang istri yang malam itu menjadi penumpang KRL Cikarang Line.
Beberapa saat sebelum tragedi itu terjadi, pesan terakhir datang dari dalam gerbong KRL. Dia memberi kabar ada KRL yang menabrak sebuah mobil di Bekasi Timur.
"Sayang, ini keretanya nabrak mobil," kata Radit mengulang kembali pesan istrinya, Rabu 29 April 206.
Radit, yang terbiasa naik kereta, tahu situasi seperti itu bisa berlarut. Dia menyarankan istrinya turun dan berbagi lokasi. Radit siap menjemput pulang pujaan hatinya. Tapi sang istri memilih menunggu.
Empat puluh menit berlalu tanpa kabar. Radit berangkat dari Tambun menuju Bekasi Timur, membawa anaknya yang berusia tiga tahun. Di sana, suasana sudah kacau. Orang-orang bergerombol, informasi simpang siur, tidak ada kepastian. Akhirnya dia memilih pulang sebentar untuk mengantarkan anaknya.
Malam itu belum selesai. Bersama dua temannya, Radit mulai menyisir beberapa rumah sakit. Tak ada nama sang istri. Menjelang setengah lima sore, telepon kembali berdering. Kali ini bukan untuk mencari, melainkan memastikan. Radit tak lagi bertanya banyak. Dia pasrah menerima.
"Kalau memang sudah takdirnya," ujarnya.
Dia mengingat kembali sosok istrinya. Perempuan yang dinikahi pada 2021. Dalam lima tahun pernikahan, ritme hidup mereka diisi perjalanan pulang-pergi kerja, kadang bersama, kadang terpisah jalur.
"Hidupnya baik, makanya saya nikahin," ujar dia.
Harum bekerja sebagai leader di perusahaan skincare, memegang tanggung jawab untuk dua brand. Dia terbiasa berpindah moda transportasi seperti LRT, kereta, atau sesekali satu kendaraan bersama Radit jika arah kerja mereka sejalan.
Di rumah, dua anak laki-laki menunggu. Yang sulung berusia tujuh tahun, tinggal bersama keluarga.
Tentang kecelakaan itu, Radit tak menampik perasaan yang datang. Marah. Kecewa. Semua bercampur dalam satu malam yang panjang.
"Tapi kalau kita menyalahkan kejadian ya buat saya nggak dewasa sebagai manusia, karena emang apapun sudah digarisin sama Tuhan. Saya nikah sama dia sudah digarisin tanggalnya berapa, punya anak juga tanggal berapa itu pasti sudah ditulis. Dan itu meninggal pun pasti sudah ditulis," tutupnya.
Namun rupanya, seminggu sebelum kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur, Harum Anjarsari (30) berulang kali mengucapkan hal yang sama pada ibunda tercinta. Ia ingin pulang.
Aku mau pulang ke rumah mama," begitu yang diingat Sri Lestari (58), ibu Harum, saat ditemui Liputan6.com.
Tidak sekali. Berkali-kali, seperti ada sesuatu yang belum selesai.
Sri Lestari tak punya firasat apa-apa. Menganggap hanya keluhan biasa dari putri tercinta yang lelah bekerja dan ingin kembali ke rumah. Sri juga tak merasa ada yang ganjil dengan kalimat berulang itu. Namun dari cerita teman-temannya, kalimat itu terus muncul dengan nada berbeda.
"Aku mau pulang, sudah capek," kata Sri menuturkan kembali ucapan Harum.
Sri tak pernah benar-benar tahu capek seperti apa yang dimaksud anaknya. Ia baru mendengar potongan kalimat itu dari orang lain, setelah semuanya terjadi.
"Iya, sebelum meninggal dia minta pulang," kata Sri.
Kejadian kemarin benar-benar memilukan. Tetapi Sri seolah menemukan makna kata 'pulang' yang sebenarnya. Yang kerap kali diulang Harum di akhir hidupnya. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
"Ya itu… akhirnya pulang," ujar Sri.
Bagi Sri Lestari, hubungannya dengan Harum bukan sekadar ibu dan anak. Mereka seperti teman yang tumbuh bersama, berbagi cerita tanpa sekat.
"Dekat, bestie banget, kayak teman," kata Sri.
Sri bahkan mengenal teman-teman Harum sejak sekolah, teman nongkrong, hingga rekan kerja. Nama-nama itu tak asing di telinganya.
"Sampai teman kerjanya pun saya kenal," ujar dia.
Harum mulai bekerja sejak usia 19 tahun, bahkan sebelum ijazahnya selesai diurus. Bagi Sri, anaknya terbiasa berjalan lebih cepat dari waktunya sendiri.
"Motonya dia pengen ngebahagiain orang tua," kata Sri.
Rutinitas kecil menjaga hubungan itu tetap hidup. Siang hari, mereka masih sempat bertukar kabar. Saat libur panjang, Harum hampir selalu pulang. Menginap beberapa hari di rumah dan membawa anaknya yang masih kecil. Video call juga menjadi penghubung ketika rindu datang tiba-tiba.
Kini, kebiasaan itu berhenti di satu titik. “Sudah enggak bisa lagi nginep di rumah aku," kata Sri.
Advertisement
Jejak Terakhir Nur Alimatun di Stasiun Jatinegara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5570192/original/095012500_1777517686-Alimatun.jpeg)
Kabar duka menyelimuti keluarga besar Universitas Trisakti. Nur Alimatun Citra Lestari (19), mahasiswi program studi Manajemen Asuransi, ditemukan meninggal dunia setelah sempat dinyatakan hilang kontak usai pulang dari kampus bersama rekan-rekannya di Stasiun Jatinegara.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi para sahabatnya, termasuk Riza (21), orang terakhir yang sempat bertemu dan menghabiskan waktu bersama almarhumah. Riza menceritakan momen perpisahan mereka yang tidak biasa di Stasiun Jatinegara sebelum kejadian.
"Jadi, bareng-bareng pulangnya. Kebetulan tujuan di keretanya sama. Cuma beda rute aja. Cuman memang pada saat itu, keretanya almarhumah itu beda sama jalur saya," kata Riza kepada wartawan di RS Polri, Jakarta, Selasa malam (28/4/2026).
Riza menjelaskan, biasanya mereka menunggu di peron yang berdekatan. Namun, pada malam kejadian, takdir seolah membawa mereka ke arah yang berbeda di dalam area stasiun yang menjadi titik transit tersebut.
"Jadi, biasanya kita peron 1 sama 2. Ini pisah di peron 2, saya peron 2 dan dia (Nur Alimantun Citra Lestari) di peron 6. Jadi, memang kita pisahnya di bagian atas itu Jatinegara," ujar Riza mengenang momen terakhir itu.
Riza yang mendapatkan jadwal kereta lebih awal sempat berupaya memastikan posisi sahabatnya. Namun, karena perbedaan jalur peron yang cukup jauh, komunikasi fisik di antara mereka pun terputus di titik perpisahan tersebut.
"Saya kan dapet kereta duluan. Terus sempat ngecek buat kita sendiri ada di mana. Kebetulan, kita enggak liat lagi," ucapnya.
Kecemasan mulai muncul saat pihak keluarga dan teman-teman tidak mendapatkan kabar dari Alimantun hingga pukul 22.00 WIB. Teman korban lainnya, Catherine (19) menyebut, almarhumah adalah sosok yang sangat peduli terhadap teman-temannya.
"Dari kejadian di jam 9, dia memang udah enggak ada kabar, kata teman-teman yang yang sempat Whatsapp-an. Kebetulan saat hari kejadian, saya enggak sempat hubungan," ujar Catherine.
Catherine menceritakan, hari itu sebenarnya mereka baru saja menyelesaikan Ujian Tengah Semester (UTS) di kampus. Karena sedang masa ujian, mereka menyempatkan diri untuk berkumpul lebih lama sebelum akhirnya pulang.
"Biasanya kita pulang lebih malam ya. Nyesel aja gitu, kenapa sih enggak malam sekalian gitu. Biasanya jam 8 kita baru keluar dari kampus, tapi ini jam setengah 8 udah di Jatinegara," ungkap Catherine.
Upaya pencarian dilakukan sejak malam hari dengan melacak keberadaan ponsel korban. Berdasarkan data lokasi, ponsel almarhumah sempat terdeteksi berada di area Bekasi pada dini hari sebelum akhirnya tidak aktif.
"Pas di-check location hapenya tuh jam 1 ada di stasiun Bekasi Timur, masih di situ. Dan berusaha di-call juga. Sempet in another call juga. Terus, jam setengah 7 tuh masih berdering. Terus, selebihnya jam 7 ke atas udah off," jelas Catherine.
Pihak keluarga dan sahabat sempat mendatangi rumah sakit sejak pagi hari untuk mencari kejelasan. Namun, saat itu jenazah korban masuk ke RS Polri dengan status belum teridentifikasi sehingga identitasnya belum bisa dikonfirmasi.
"Sebenernya dari pagi ke RS ini udah nanya atas nama ini. Cuma, belum ada kabarnya, yang ada tuh mayat yang belum teridentifikasi. Jadi, suruh nunggu dulu kabar 1x24," ungkapnya.
Vica Agnia Fratiwi, Lulus Kuliah Cum Laude dan Rajin Ibadah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5568512/original/006483900_1777361395-WhatsApp_Image_2026-04-28_at_13.35.58.jpeg)
Vica Acnia Fratiwi (23) menjadi salah satu korban jiwa dalam kecelakaan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur. Kakak Vica, Nina (30), menjelaskan adiknya sempat berencana menjalani studi S2.
"Dia mau kuliah, masih mau S2. Dia kan soalnya ambis (punya ambisi) banget kan. Anaknya pinter kayak gitu kan," kata Nina ditemui di rumah duka Vica di kawasan Telaga Murni, Kabupaten Bekasi, Rabu 29 April 2026.
Nina bercerita Vica adalah anak yang tekun. Bahkan, Vica lulus kuliah hanya dalam tiga setengah tahun dan lulus dengan predikat cum laude dari Universitas Lampung (Unila).
"Jadi dia benar-benar kayak kalau misalnya belajar itu bener-bener kayak gitu banget. Iya pas kemarin lulusnya cum laude termasuk," kata Nina.
"(Lulus) tahun 2024, tiga setengah tahun di Unila," sambungnya.
Nina juga mengenang Vica sebagai orang yang rajin beribadah. Vica bahkan sempat melakukan salat Magrib sebelum menaiki KRL saat malam kejadian.
"Orangnya cantik, pinter, nggak neko-neko, rajin ngaji dia. Rajin ngaji, rajin salat, jadi kayak sebelum dia naik KRL pun itu juga salat Magrib dulu, jadinya kayak 'Ya Allah'," cerita Nina.
Sebelum Vica ditemukan meninggal, keluarga mendatangi gedung DVI di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Salah satu keluarga yang hadir adalah Watarisin (70).
Dia mencari keponakannya, Vica Acnia Pratiwi (23). Keluarga kehilangan kontak dengan Vica sesaat setelah kabar kecelakaan kereta api tersiar luas. Vica diketahui sedang dalam perjalanan pulang dari tempatnya bekerja, menggunakan moda transportasi KRL commuter line.
"Dia (Vica) ini keponakan. Pulang kerja naik kereta," kata sang paman, Watarisin kepada wartawan di RS Polri, Selasa 28 April 2026.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296249/original/006576900_1784009127-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T124739.847.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5394044/original/017340400_1761624269-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312077/original/024885800_1785478974-indomaret.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5390489/original/006123400_1761278823-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__96_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5568170/original/054622600_1777350836-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1373271/original/062549400_1476380984-bekasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302387/original/003320700_1784544976-Argentina_s_Nicolas_Otamendi__19__and_Nahuel_Molina__26__scuffle_with_Spain___s_Rodri__16_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294318/original/065079400_1783829517-063_2285706113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9245742/original/085478200_1783138991-verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299398/original/064759200_1784250864-000_B8VA8NK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300741/original/083077900_1784373810-olmo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8669810/original/074257300_1782706469-WhatsApp_Image_2026-06-29_at_11.12.12.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/679259/original/ilustrasi-penganiayaan-140520-andri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/527394/original/aniaya-ilustrasi-131207b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/938053/original/002913100_1437993639-PIC-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3245895/original/034449900_1600779706-PENANGKAPAN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300746/original/057527600_1784375064-WhatsApp-Image-2026-07-18-at-16.34.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298628/original/068418300_1784178205-unnamed__34_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298726/original/042432100_1784180626-5e51cf3b-672c-41a4-a794-38c7f4539f3b.jpg)