Polisi Bongkar Kasus Peredaran Ganja di Kawasan Cawang Jaktim, Tiga Terduga Pelaku Ditangkap

Polisi membongkar peredaran ganja di kawasan Cawang, Jakarta Timur (Jaktim) dan menangkap tiga terduga pelaku.

Diterbitkan 09 Februari 2026, 12:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Polisi membongkar peredaran ganja di kawasan Cawang, Jakarta Timur (Jaktim). Tiga orang terduga pelaku pun ditangkap.

Penangkapan dilakukan di halaman parkir RS UKI, Jalan Mayjen Sutoyo, Kramat Jati, Kamis, 5 Februari 2026. Total, ganja seberat 9.465 gram disita sebagai barang bukti.

Kanit Unit 3 Subdit 2 Ditresnarkoba Polda Metro Jaya AKP Rian Faozi menerangkan, bermula dari informasi warga soal aktivitas mencurigakan satu mobil Daihatsu Xenia yang masuk area parkir rumah sakit.

Kepolisian langsung memantau gerak-gerik orang di dalam. Tiga orang di dalam mobil masing-masing berinisial A, S, dan B ditangkap.

"Ketiganya ditangkap saat berada di dalam satu unit mobil Daihatsu Xenia di area parkir rumah sakit," kata dia kepada wartawan, Senin (9/2/2026).

Saat penggeledahan, polisi menemukan paket-paket ganja dalam bungkusan besar dan kecil. Tiga paket besar dililit lakban cokelat.

Selain ganja, petugas menyita empat unit telepon genggam serta satu unit mobil yang digunakan para tersangka.

"Kami amankan diduga narkotika jenis ganja seberat 9.465 gram," jels Rian.

Ketiganya kemudian dibawa ke Ditresnarkoba Polda Metro Jaya untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sebelumnya, BNN (Badan Narkotika Nasional) Provinsi Bali menyebut Pulau Dewata menjadi pasar menggiurkan bagi jaringan narkoba nasional hingga internasional, akibat harga narkotika yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga di luar negeri.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Bali, Brigjen Pol Budi Sadikin, mengungkap, dalam pemetaan harga narkoba di Bali bisa berkali-kali lipat dibanding negara asalnya.

 

BNN Bongkar Alasan Bali Jadi Pasar Menggiurkan Bisnis Narkoba

Hal itu disampaikannya dalam Rapat Koordinasi Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) di Wilayah Provinsi Bali Tahun 2026, Kantor Gubernur Provinsi Bali, Denpasar, Kamis 5 Februari 2026.

Di Bali, harga sabu mencapai Rp 1,6 juta per gram atau di atas rata-rata harga nasional di kisaran Rp 1,5 juta per gram.

"Di luar negeri itu cuma sekitar Rp 100 ribu per gram. Masuk Indonesia bisa Rp 1,5 juta, diecer jadi Rp 3 juta," kata Budi.

Sementara itu, harga ekstasi di Bali sendiri disebut mencapai Rp 800 ribu per butir, angka yang jauh lebih tinggi dibanding sejumlah wilayah lain atau rata rata nasional, yaitu Rp 400 ribu per butir.

Menurut Budi, tingginya harga jual tersebut membuat Bali menjadi target empuk jaringan narkoba lintas wilayah. Peredaran tidak lagi hanya melibatkan jaringan lokal, tetapi telah berkembang menjadi jaringan nasional hingga internasional.

"Jaringannya ada nasional, internasional, dan regional. Dari Kalimantan masuk, dari Medan masuk, bahkan jaringan luar negeri," terang dia.

 

Data Kasus Sepanjang 2025

Data pengungkapan kasus sepanjang 2025 menunjukkan Denpasar mencatat 571 kasus narkoba, tertinggi di Bali. Angka tersebut disusul Badung dengan 114 kasus, Buleleng 98 kasus, Tabanan 49 kasus, dan Gianyar 42 kasus.

Menurut BNNP Bali, wilayah wisata dengan perputaran ekonomi tinggi menjadi magnet utama peredaran narkotika, baik sebagai pasar konsumsi maupun jalur distribusi jaringan sindikat.

Secara nasional, prevalensi penyalahgunaan narkoba pada 2025 mencapai 4,1 juta orang usia produktif, meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Perputaran uang bisnis haram ini bahkan ditaksir menembus Rp 500 triliun per tahun.

"Kondisi ini bikin bisnis narkoba makin ramai karena untungnya luar biasa besar," papar Budi.

Dalam forum tersebut, Budi menegaskan narkoba termasuk extraordinary crime yang setara dengan korupsi dan terorisme. Ia mengibaratkan narkoba sebagai perusak akar pohon bangsa.

"Kalau akarnya rusak, ranting dan daun pasti tumbang. Kita harus jaga pohon Indonesia ini tetap kuat," terang Budi.

Di sisi lain, Budi juga menyoroti keterbatasan layanan rehabilitasi di Pulau Dewata. Saat ini, fasilitas rawat inap utama masih terpusat di RS Manah Santi Mahotama dan RSD Mangusada Badung.

"Sehingga warga di Bali Barat dan Bali Utara menghadapi kendala jarak untuk mendapatkan pelayanan yang intensif," pungkas Budi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6