Bahlil Sebut Soeharto Layak Jadi Pahlawan, Singgung Bapak Pembangunan dan Sosok di Balik RI Macan Asia

Bahlil membeberkan, sejumlah prestasi Soeharto. Mulai dari meningkatkan pertumbuhan ekonomi di atas 7% hingga mengendalikan inflasi pada zamannya.

Diterbitkan 06 Desember 2025, 00:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Golkar berterima kasih kepada Presiden Prabowo atas gelar pahlawan nasional Soeharto.
  • Bahlil menyoroti prestasi Soeharto seperti pertumbuhan ekonomi dan swasembada pangan.
  • Bahlil mengakui adanya pro dan kontra terkait gelar pahlawan Soeharto.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia berterima kasih kepada Presiden Prabowo atas pemberian gelar pahlawan nasional kepada kader legendarisnya yang juga menjabat sebagai Presiden ke-2 RI, Soeharto. Menurut dia, gelar tersebut amat layak, mengingat segala perjuangan dan pengorbanannya untuk bangsa Indonesia.

"Partai Golkar lewat mekanisme yang baik, kami mengusulkan kepada Pak Presiden Prabowo untuk diberi gelar pahlawan dan Alhamdulillah lewat mimbar terhormat ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pak presiden yang telah menganugerahi Pak Harto sebagai pahlawan nasional," kata Bahlil saat puncak HUT ke-61 Partai Golkar di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (5/12/2025).

Bahlil lalu membeberkan, sejumlah prestasi Soeharto. Mulai dari meningkatkan pertumbuhan ekonomi di atas 7% hingga mengendalikan inflasi pada zamannya.

"Alhamdulillah di bawah Presiden Pak Harto kita mampu pertumbuhan ekonomi di atas 7%, menurunkan inflasi di bawah 15%, swasembada pangan, swasembada energi teknologi kita juga baik, bahkan kita terkenal dengan Macan Asia," bangga Bahlil.

Bahlil menilai, tak heran jika Soeharto disebut sebagai bapak pembangunan. Sebab kontribusinya dalam meletakkan fondasi pembangunan bangsa.

Bahlil Nilai Wajar Pro Kontra Pahlawan Nasional Soeharto

Namun demikian, Bahlil mengamini, apa yang telah terjadi menuai pro kontra. Tidak semua pihak menerima saat Soeharto menjadi pahlawan nasional. Terlepas dari itu, Bahlil menyebut perbedaan pandang adalah sesuai yang lumrah.

"Kami menghargai pro dan kontra tapi hal itu biasa," dia menandasi.

Sebagai informasi, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada 10 tokoh pada Hari Pahlawan 2025 di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025). Salah satunya adalah Soeharto.

Hal itu memicu polemik, lantaran sebagian pihak menyatakan mertua Prabowo itu tidak layal menjadi pahlawan karena memiliki rekam jejak hitam pelanggaran HAM, diktator karena memimpin hingga 32 tahun.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6