Bahlil: Hak Cipta Saya Ada di Kementerian Investasi

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menceritakan hadirnya menteri investasi dan bukan hanya kepala BKPM saja.

Diterbitkan 08 Agustus 2026, 11:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM) Bahlil Lahadalia menceritakan dulunya Kementerian Investasi hanya tempat tempel saja dan tidak memiliki kewenangan. Hal tersebut diungkap Bahlil dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku 10 Karya Nyata untuk Negeri Setengah Abad karya dirinya, Jumat,7 Agustus 2026.

"Dulu Kementerian Investasi hanya dijadikan sebagai front office, hanya tempat tempel. Seperti harimau, tapi tidak punya gigi. Ini jujur," ujar Bahlil, ditulis Sabtu, (8/8/2026).

Dia mengatakan, kala itu saat menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)nya hanya Rp 800 miliar. Namun, Bahlil mengaku tak kehilangan akal meski dirinya tidak dibesarkan di dunia akademik yang baik.

"Uangnya waktu itu APBNnya tidak lebih dari Rp 800 miliar. Investor datang ke sini, kita tidak punya kewenangan waktu itu. Maka karena memang kita tidak dibesarkan di dunia akademis secara baik, saya dibesarkan di jalanan, saya tidak kehilangan akal, saya menyelesaikan investasi ada Rp 708 triliun," kata dia.

Menurut Bahlil, saat itu target investasi terus naik setiap tahunnya. Dia pun mengaku saat meninggalkan jabatan sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM, berhasil mendapatkan investasi hingga Rp 1.700 triliun.

"Waktu itu target investasi setiap tahun naik. Pada tahun 2020 investasi kita Rp 780 triliun. Dan saya meninggalkan Kementerian Investasi, investasi mencapai Rp 1.700 triliun," kata Bahlil.

Cerita Saat Kepala BKPM Jadi Kementerian Bahlil lalu menceritakan awal mula bagaimana Kepala BKPM bertambah juga menjadi Kementerian Investasi.

"Ada cerita menarik, saya menceritakan kenapa BKPM menjadi Kementerian Investasi. Jadi waktu itu saya disuruh untuk negosiasi dengan China, Jepang, dan Korea tentang ekosistem baterai mobil dan beberapa investasi, US$ 8,6 miliar waktu itu," cerita dia.

 

Cerita Bahlil

Saat itu, Bahlil mengaku bertemu dengan menteri di negara-negara tersebut, sedangkan dirinya Kepala BKPM. Meski pun di Indonesia Kepala BKPM itu setingkat menteri, tapi berbeda saat di luar negeri. "Saya ketemunya dengan menteri-menterinya. Saya waktu itu BKPM pejabat kepala bagian setingkat menteri, bukan minister, tapi chairman. Jadi pulang gol US$ 8,6 miliar tereksekusi tanpa bahasa inggris. Jadi jangan tanya saya bahasa inggrisnya berapa," ucap Bahlil.

Sepulang dari luar negeri, Bahlil pun menemui Presiden kala itu Jokowi. Dia mengaku malu menjalankan misi mencari investor karena saat di luar negeri jabatannya hanya Chairman, bukan Minister.

"Saya pulang saya lapor sama Presiden Jokowi. Bapak, misi sudah saya tuntaskan. Tapi saya jujur, saya malu menjalankan misi ini. Loh, kenapa? Pak, kita ini mempermalukan negara kita. Saya ketemunya itu, sama Menko-nya, saya cuma kepala badan, sekalipun di negara kita tahu kepala badan itu setingkat menteri. Jadi, di sana minister, di sini chairman," ucap Bahlil.

Dari situlah menurut Bahlil awal mulanya hingga ada jabatan Menteri Investasi/Kepala BKPM. "Ini sebenarnya cerita dibalik. Jadi, mohon maaf, sebenarnya hak cipta saya ada di Kementerian Investasi. Jadi, sejak tahun 2021, feeling saya, Kementerian Investasi itu harus menjadi Kementerian Investasi dan Hilirisasi. Maka, Deputi Hilirisasi sudah ada sejak tahun 2021 dan betul, itulah di zaman kami, kira-kira begitu," jelas Bahlil.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6