Apakah Bulan Juni Masih Ada Hujan? Ini Penjelasan dari BMKG

BMKG menyatakan bahwa bulan Juni 2025 masih ada kemungkinan hujan meskipun biasanya identik dengan kemarau.

Diperbarui 03 Juni 2025, 22:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Apakah bulan Juni masih ada hujan? Pertanyaan ini sering muncul saat memasuki bulan yang biasanya identik dengan musim kemarau. Menurut informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), masih ada kemungkinan hujan pada bulan Juni. Fenomena ini dikenal dengan istilah "kemarau basah".

Kemarau basah ditandai dengan curah hujan yang masih tinggi meski sudah memasuki musim kemarau. Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan kondisi cuaca yang tidak biasa.

"Fenomena ini lebih umum disebut Kemarau Basah," kata Guswanto dikutip Rabu 28 Mei 2025 lalu.

BMKG memprediksi kemarau basah akan berlangsung hingga akhir Agustus 2025. Persentase wilayah yang terdampak diperkirakan akan terus meningkat.

Pada Juni 2025, wilayah terdampak mencapai 56,54%, kemudian meningkat menjadi 75,38% pada Juli, dan mencapai puncaknya 84,94% pada Agustus. Setelah Agustus, Indonesia diperkirakan memasuki musim pancaroba (peralihan) hingga November, sebelum memasuki musim hujan pada Desember 2025 hingga Februari 2026.

Kemarau Basah di Berbagai Wilayah

Kemarau basah diperkirakan akan terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Beberapa daerah yang terdampak antara lain:

  • Sebagian Aceh
  • Sebagian besar Lampung
  • Jawa bagian barat hingga tengah
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur
  • Sebagian kecil Sulawesi
  • Sebagian Papua bagian tengah

Namun, perlu dicatat bahwa persebaran hujan tidak merata. Hingga awal Juni 2025, baru sekitar 11% wilayah Indonesia yang memasuki musim kemarau, sementara wilayah lainnya masih mengalami curah hujan yang signifikan.

Anomali Iklim dan Kewaspadaan

BMKG mencatat adanya anomali iklim tahun ini, dengan curah hujan yang masih tinggi di banyak wilayah meskipun sudah memasuki bulan Juni. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap fenomena ini antara lain:

  • Suhu permukaan laut yang lebih hangat
  • Angin monsun yang aktif
  • Adanya La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem. Penting untuk mengikuti perkembangan informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG agar dapat mempersiapkan diri dengan baik.

Infografis

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6