Sukses

Cegah Terorisme, BNPT Dorong Peran Masyarakat Sebagai Kesiapsiagaan Nasional

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar memastikan, pihaknya terus memperkokoh ketahanan nasional yang terdiri dari aspek ideologi politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan. Menurut Boy semua aspek itu memiliki kaitan satu dan lainnya, khususnya yang menyangkut toleransi, radikalisme dan terorisme.

"Tentu ini tidak lepas dari ancaman, hambatan dan gangguan dimana hal itu adalah sebuah realita, sebuah kondisi nyata yang merupakan (kejahatan) transnasional yang anti dengan konstitusi negara dan Pancasila," kata Boy saat berpidato dalam acara Deklarasi Kesiapsiagaan Nasional di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (2/8/2022).

Boy memastikan, kejahatan transnasional kerap menghalalkan berbagai cara demi mencapai tujuan. Misalnya, penggunaan kekerasan dalam mencapai tujuan bersifat anti kemanusiaan.

Oleh karena itu, kesiapsiagaan nasional merupakan salah satu strategi pencegahan terorisme dengan mendorong kelompok dan organisasi masyarakat untuk berperan aktif dalam pencegahan tindak pidana terorisme.

"Masyarakat memiliki beberapa faktor yang menjadi penting untuk dilibatkan dalam pencegahan tindak pidana terorisme," jelas Boy.

Mengurai faktor tersebut, sambung Boy, pertama dalam konteks kultur dan budaya yang ada pada masyarakat hakikatnya tidak sejalan dengan ideologi radikal terorisme atau ekstrimisme kekerasan lainnya sehingga masyarakat akan secara sukarela membantu kebijakan pemerintah dalam hal kontra terorisme.

Kedua, ancaman terorisme yang muncul dari paham radikal terorisme memungkinkan masyarakat menjadi korban yang terdampak langsung sehingga pemberdayaan masyarakat akan berjalan dengan maksimal karena masyarakat secara rasional menyadari bahwa mereka berpotensi menjadi korban dari tindak pidana terorisme jika tidak ikut terlibat dalam pencegahan terorisme.

Ketiga, masyarakat merupakan sebuah komunitas yang terbentuk secara sadar dan memiliki relasi atau keterkaitan satu sama lain sehingga dapat berguna dalam mempromosikan kebijakan kontra terorisme dalam sebuah komunitas masyarakat.

"Faktor-faktor tersebut yang akan membuat pemberdayaan masyarakat menjadi program yang tepat dan berdampak besar dalam menciptakan resiliensi sehingga mendorong terciptanya masyarakat yang siap siaga menghadapi paham radikal terorisme maupun tindak pidana terorisme," jelas Boy.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Tingkatkan Kewaspadaan

Boy berharap, kegiatan deklarasi kesiapsiagaan nasional dapat meningkatkan kewaspadaan dalam mengantisipasi tindak pidana terorisme melalui sistem deteksi dini ancaman terorisme berbasis komunitas.

"Kami berkeyakinan bangsa Indonesia yang memiliki identitas jati diri yang tentu sudah menjadi legacy peninggalan para pendiri bangsa. Itu adalah sebagai sebuah sistem nilai yang tidak diragukan lagi," Boy menutup..

Sebagai informasi, acara Deklarasi Kesiapsiagaan Nasional mengundang sejumlah peserta dari seluruh provinsi, seperti Kaban Kesbangpol tingkat provinsi seluruh Indonesia, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) dan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) dari 34 provinsi.

Acara ini juga diisi dengan dialog kebangsaan yang diisi oleh Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemdagri Bahtiar, Tokoh PBNU Alissa Wahid, Stafsus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Romo Benny Susetyo, Psikolog, Arijani Lasmawati.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS