Kisah Unik Pavel Durov, dari Miliarder Jadi Buronan Rusia

Kisah unik datang Pavel Durov di mana miliarder pendiri Telegram tersebut didakwa dengan tuduhan membantu aktivitas terorisme oleh Otoritas Rusia.

Diterbitkan 31 Juli 2026, 07:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Moscow - Kisah unik datang Pavel Durov. Miliarder pendiri Telegram tersebut secara resmi didakwa dengan tuduhan membantu aktivitas terorisme oleh Otoritas Rusia. Pemerintah Rusia juga memulai proses untuk memasukkan miliarder teknologi tersebut ke dalam daftar buronan internasional.

Dikutip dari Anadaolu, Jumat (31/7/2026), dalam pernyataannya, Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) menuduh pihak Telegram gagal menghapus kanal, grup percakapan, dan bot yang disebut aktif digunakan oleh badan intelijen Ukraina untuk merencanakan serangan teroris dan pembunuhan massal di wilayah Rusia.

FSB menyatakan dugaan tindak pidana yang dilakukan melalui platform pesan instan tersebut telah menyebabkan banyak korban jiwa, termasuk perempuan dan anak-anak, serta kerugian mencapai jutaan dolar.

Lembaga keamanan itu juga menuduh agen intelijen Ukraina menyamar sebagai perempuan muda melalui layanan pencarian pasangan "Daivinchik" di Telegram untuk merekrut pria Rusia agar terlibat dalam aksi terorisme.

Menurut FSB, sejak Juli tahun lalu aparat di 16 wilayah Rusia telah menangkap 46 pengguna layanan tersebut yang dituduh menyerang polisi dan melakukan aksi pembakaran atas perintah intelijen Ukraina.

Apabila dinyatakan bersalah, Durov terancam hukuman penjara delapan hingga 15 tahun, bahkan hukuman penjara seumur hidup berdasarkan hukum Rusia.

Dari Mahasiswa Jadi Miliarder Teknologi

Pavel Durov lahir di Leningrad, yang kini bernama St. Petersburg, pada 10 Oktober 1984. Ia tumbuh di lingkungan keluarga akademisi. Ayahnya merupakan profesor filologi klasik di Universitas Negeri St. Petersburg, sementara ibunya mengajar sejarah.

Masa kecilnya sempat dihabiskan di Italia. Ia bersekolah di Turin ketika sang ayah mengajar bahasa Rusia di salah satu universitas di kota tersebut sebelum akhirnya kembali ke Rusia.

Setelah lulus dengan predikat terbaik dari St. Petersburg Academic Gymnasium pada 2001, Durov meraih gelar di bidang filologi bahasa Inggris dan penerjemahan dari Universitas Negeri St. Petersburg pada 2006.

Saat masih menjadi mahasiswa, ia membangun sebuah forum daring yang kemudian berkembang menjadi VKontakte, jejaring sosial terbesar di Rusia yang diluncurkan pada 2006 dan kerap disebut sebagai versi Rusia dari Facebook.

Hubungan Durov dengan pemerintah Rusia mulai memburuk ketika memimpin VKontakte. Berdasarkan berbagai laporan media, aparat keamanan meminta akses terhadap data pengguna serta mendesak penghapusan sejumlah komunitas di platform tersebut, permintaan yang secara terbuka ditolak Durov.

Pada periode yang sama, ia sempat mengadakan pertemuan tertutup dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Dalam biografi yang ditulis jurnalis Nikolay Kononov berdasarkan penuturan Durov, Putin mengkritik berbagai konten di VKontakte, termasuk materi pornografi dan film bajakan.

Durov kemudian mengatakan bahwa pertemuan tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa alasan untuk tetap tinggal di Rusia "perlahan menghilang."

Pada 2014, Durov menjual sisa 12 persen sahamnya di VKontakte dan mengundurkan diri sebagai CEO perusahaan.

Setelah meninggalkan Rusia, ia menerbitkan esai berjudul Seven Reasons Not to Return. Dalam tulisan itu, ia menyebut tidak adanya sistem peradilan yang independen dan banyaknya aturan hukum yang saling bertentangan sebagai alasan utama keputusannya hengkang dari Rusia.

Sejak saat itu, Durov memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengembangkan Telegram yang diluncurkan setahun sebelumnya.

 

Telegram Tumbuh Jadi Platform Global

Telegram resmi diperkenalkan pada Agustus 2013 sebagai layanan pesan lintas platform yang gratis dengan fokus utama pada perlindungan privasi pengguna.

Dalam waktu singkat, aplikasi tersebut berkembang menjadi salah satu platform pesan instan terbesar di dunia.

Pada April 2018, pengadilan di Moskow memerintahkan pemblokiran Telegram setelah perusahaan menolak menyerahkan kunci enkripsi kepada aparat keamanan. Larangan tersebut akhirnya dicabut pada 2020.

Durov memindahkan markas Telegram ke Dubai pada 2017. Ia menyebut lingkungan bisnis yang kondusif dan tidak adanya pajak penghasilan sebagai alasan memilih emirat tersebut. Kantor pusat Telegram kemudian didirikan di kawasan Dubai Media City.

Memiliki Sejumlah Kewarganegaraan

Selama beberapa tahun terakhir, Durov memperoleh beberapa kewarganegaraan.

Ia mendapatkan kewarganegaraan Saint Kitts dan Nevis melalui program investasi setelah menyumbang sebesar 250 ribu dolar AS.

Menurut Durov, paspor tersebut diperolehnya pada 2013 ketika situasinya di Rusia semakin sulit di tengah perselisihan dengan pemerintah.

Pada 2021, ia resmi menjadi warga negara Prancis dan Uni Emirat Arab.

Prancis memberikan kewarganegaraan sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi dan hubungan bisnis internasional negara tersebut.

Sementara itu, Uni Emirat Arab mengubah aturan kewarganegaraannya sehingga memungkinkan investor dan tenaga profesional berkeahlian tinggi memperoleh status warga negara.

Forbes menobatkan Durov sebagai penduduk terkaya di Uni Emirat Arab pada 2021. Saat itu kekayaannya diperkirakan mencapai 17,2 miliar dolar AS, menjadikannya salah satu pengusaha teknologi terkaya di dunia.

 

Filosofi Libertarian dan Gaya Hidup Disiplin

Durov selama ini menggambarkan dirinya sebagai seorang libertarian yang mendukung kebebasan individu, hubungan yang dibangun secara sukarela, dan seminimal mungkin campur tangan negara.

Ia juga dikenal menjalani gaya hidup yang disiplin.

Durov mengaku tidak mengonsumsi alkohol, tidak menonton televisi, serta menghindari nikotin, gula, makanan cepat saji, kopi, teh hitam maupun teh hijau.

Ia juga mendorong orang lain untuk mengurangi konsumsi daging dan produk farmasi.

Durov fasih berbahasa Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Persia, dan Latin. Meski demikian, ia mengatakan bahasa Inggris adalah satu-satunya bahasa yang menurutnya benar-benar penting untuk dikuasai.

Salah satu pernyataannya yang paling dikenal adalah bahwa "perhatian adalah sumber daya paling berharga yang kita miliki" dan bahwa "komunikasi terlalu dilebih-lebihkan", karena menurutnya waktu menyendiri sering kali lebih produktif dibanding terus berkomunikasi.

Pernah Berhadapan dengan Hukum di Prancis

Kasus di Rusia bukanlah persoalan hukum pertama yang dihadapi Durov.

Pada Agustus 2024, ia ditahan di Prancis dalam penyelidikan terkait dugaan peran Telegram dalam memfasilitasi aktivitas kriminal.

Jaksa Prancis menilai moderasi konten yang tidak memadai serta minimnya kerja sama dengan aparat penegak hukum telah mempersulit penyelidikan terhadap kasus perdagangan narkoba, pencucian uang, penipuan, dan berbagai tindak pidana lainnya.

Durov juga dituduh terlibat dalam pengoperasian platform daring yang diduga digunakan untuk transaksi keuangan ilegal serta menolak memberikan informasi yang diminta otoritas berwenang.

Ia kemudian dibebaskan dengan jaminan sebesar lima juta euro, namun sempat dilarang meninggalkan Prancis.

Media Prancis melaporkan bahwa larangan bepergian tersebut telah dicabut pada akhir 2025.

Kehidupan Pribadi

Meski dikenal luas di dunia teknologi, Durov menjalani kehidupan pribadi yang tertutup. Sesekali ia membagikan informasi pribadinya melalui akun Telegram resmi.

Ia berulang kali mengatakan belum pernah menikah dan lebih memilih hidup sendiri.

Dalam wawancara dengan majalah Prancis Le Point pada 2025, Durov mengungkapkan dirinya merupakan ayah sah dari enam anak yang lahir dari tiga perempuan berbeda.

Ia juga menyatakan bahwa sebagai pendonor materi biologis, dirinya telah membantu lebih dari 100 pasangan di 12 negara memiliki anak, sehingga secara biologis ia menjadi ayah dari lebih dari 100 anak.