Dua Tersangka Teror Poso Ditangkap

Mabes Polri mengumumkan keberhasilan menangkap Amril Miode alias Aat dan Ridwan, dua tersangka pelaku sejumlah aksi kekerasan di Poso, Sulteng. Amril Miode termasuk dalam daftar pencarian orang.

Diterbitkan 18 Februari 2007, 07:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Dua lagi tersangka pelaku sejumlah aksi kekerasan di Poso, Sulawesi Tengah, dibekuk polisi. Amril Miode alias Aat dan Ridwan dibekuk 2 Februari silam setelah penggerebekan di kawasan Tanah Runtuh, Poso, bulan lalu. Keberhasilan penangkapan itu baru diumumkan pihak Markas Besar Polri di Jakarta, Sabtu (17/2).

Amril Miode termasuk dalam daftar pencarian orang (DPO) karena keterlibatannya dalam sejumlah kasus kekerasan seperti ledakan bom di Pasar Tentena, Palu, sekitar Mei 2005. Aat juga tersangkut dalam perampokan toko emas di Pasar Tua Palu serta mencuri beberapa sepeda motor berpelat merah bersama Ridwan.

Pada peristiwa di Pasar Tentena, Aat berperan mengisi bom seukuran tabung gas sedang dengan potongan besi. Dan di hari H, ia bertugas meledakkan bom. Polisi mencatat akibat ledakan itu, 22 orang meninggal dan puluhan lain terluka.

Sejauh ini berbagai upaya pertemuan dan maklumat agar para DPO menyerahkan diri telah dilakukan hampir tujuh bulan. Bahkan imbauan sejumlah tokoh ulama Poso juga sudah disampaikan. Hasilnya lima DPO menyerahkan diri, 24 lain memilih bertahan dan melakukan perlawanan. Pada 11 Januari, polisi menggerebek para DPO di rumah Sukardi Gawok di kawasan Gebang Rejo, Poso [baca: Kekerasan Terus Terjadi di Poso].

Dalam kejadian ini, empat tersangka tertangkap, seorang lagi tewas. Dari para tersangka diperoleh keterangan mereka terlibat penembakan Pendeta Susianti dan Irianto Kongkoli, peledakan Pasar Maesa, peledakan di belakang Rumah Sakit Umum Daerah Poso dan gelanggang olahraga.

Polisi juga berhasil meringkus kelompok Basri, kawanan yang kerap berbuat onar di daerah konflik itu. Hasil pemeriksaan kemudian mengindikasi Basri cs diduga terlibat hampir seluruh aksi kekerasan dan teror di Poso dan Palu [baca: Basri Cs Disinyalir Terkait Bom Kuningan].

Bahkan terungkap pula keterlibatan jaringan Noordin M. Top, gembong teror asal Malaysia. Basri sendiri mengakui terlibat 17 kasus. Motifnya adalah balas dendam dan mendapat arahan dari sejumlah orang agar tidak menyerahkan diri. Hingga kini polisi masih mengejar 14 DPO lain yang belum tertangkap [baca: DPO Poso Terus Diburu].(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6