37 Bar Indices, 23 Bentuk: Cara Desainer SEIKO Menciptakan Efek Cahaya di Jam Tangan

Jam tangan ini merupakan proyek khusus desainer SEIKO untuk Power Design Project 2026.

Diterbitkan 13 Agustus 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Jam tangan sering kali menyimpan keindahan pada bagian yang nyaris luput dari perhatian. Jarum bergerak perlahan, angka menjadi penanda waktu, sementara elemen kecil di permukaan dial bekerja dalam diam. Bagi Miho Wada, Design Director of Credor Team SEIKO, bagian-bagian tersebut justru menyimpan ruang luas untuk bereksperimen.

Eksplorasi itu berawal dari bar indices, penanda jam yang selama ini dikenal sebagai elemen fungsional. Miho melihat komponen tersebut sebagai bagian yang telah mengalami evolusi khas dalam dunia horologi. Perhatian terhadap bentuk, pantulan, dan cara cahaya menyentuh permukaannya kemudian menjadi pintu masuk menuju rancangan yang lebih ekspresif.

"Saya sering memulai dari detail kecil, bukan konsep besar. Untuk Bar Indices, saya berfokus pada penanda jam dan mengeksplorasi bagaimana cahaya, refleksi, serta keterampilan pengerjaan dapat memperluas potensi ekspresifnya," katanya dalam wawancara tertulis dengan Lifestyle Liputan6.com, Jumat, 31 Juli 2026.

Cara berpikir tersebut membuat proses desain tidak dimulai dari keinginan menciptakan bentuk yang mencolok. Miho terlebih dahulu mengamati bagaimana sebuah elemen sederhana dapat memiliki kehidupan visual ketika ditempatkan dalam kondisi yang berbeda. Cahaya menjadi salah satu medium penting dalam proses tersebut.

Tantangan terbesar kemudian muncul ketika gagasan itu harus diterjemahkan ke dalam dial. Miho ingin memenuhi permukaan dial dengan bar indices dan membiarkan pantulan dari setiap komponen membentuk ritme visual yang kaya. Hasil akhirnya menghadirkan 37 komponen bar indices yang terdiri atas 23 bentuk berbeda.

 

Permainan Cahaya

"Tujuan saya adalah menciptakan ekspresi visual yang kaya melalui pantulan bar indices. Bahkan perubahan kecil pada sudut pandang dapat mengubah keseimbangan cahaya dan bayangan, sehingga dial memperlihatkan ekspresi yang berbeda setiap kali dilihat," kata Miho.

Puluhan komponen tersebut tidak ditempatkan secara sembarangan. Ia membedakan ketinggian indeks pada area di bawah jarum jam, di bawah jarum menit, dan bagian luar jarum. Bentuk piramida turut digunakan dengan titik puncaknya menjadi penanda waktu.

Keputusan tersebut membuat variasi bentuk indeks berkembang semakin banyak. Permainan cahaya menjadi bagian paling menarik dari eksplorasi tersebut.

Sebuah jam tangan tidak perlu digerakkan secara dramatis untuk menghasilkan perubahan tampilan. Kemiringan kecil saja dapat menggeser hubungan antara cahaya dan bayangan pada permukaan dial.

 

Keseimbangan Visual

Keseimbangan visual itu membutuhkan ketelitian tinggi. Arah penempatan setiap indeks dibuat selaras, sementara sudut pada permukaan diamond-cut diseragamkan. Pengaturan tersebut membantu menjaga karakter pantulan agar tetap terkontrol meski cahaya datang dari sudut yang berbeda.

Bar indices memang dibuat untuk membantu pemakai membaca waktu. Presisi dalam proses pengerjaan kemudian memungkinkan elemen tersebut berkembang menjadi bahasa desain yang memiliki karakter sendiri.

Pendekatan itu tetap terhubung dengan DNA desain SEIKO. Kebebasan bereksperimen tidak berarti meninggalkan esensi sebuah arloji. Fungsi dasar sebagai penunjuk waktu tetap menjadi bagian dari rancangan, sementara teknik pemesinan, pemotongan presisi, dan penyelesaian permukaan membuka kemungkinan baru bagi tampilan jam tangan.

 

Tak Hanya Penunjuk Waktu

"Bagi saya, keseimbangan berarti mengembangkan elemen tradisional dalam sebuah jam tanpa kehilangan hubungan dengan fungsi aslinya dan esensi pembuatan jam. Bar Indices tetap penting sebagai bagian dari dial sekaligus sebagai bagian dari pengalaman membaca dan menikmati waktu," ujar Miho.

Gagasan tersebut menjadi semakin relevan ketika jam tangan tidak lagi menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui waktu. Ponsel dan perangkat digital telah mengambil alih kebutuhan tersebut dengan cara yang lebih praktis.

Sebuah arloji akhirnya memiliki ruang yang lebih personal, menjadi benda yang dikenakan karena bentuk, karakter, dan pengalaman yang ditawarkannya. Miho melihat kecenderungan desain jam tangan bergerak ke arah yang semakin dekat dengan unsur kerajinan dan seni.

Sebuah arloji dapat menjadi lebih dari aksesori ketika proses pembuatannya menghadirkan karakter yang tidak mudah ditemukan pada benda lain.