Era AI Bikin Craftsmanship Makin Bernilai, Desainer SEIKO Ungkap Tren Jam Tangan Masa Kini

Naoya Sukeda, Design Director SEIKO Selection Team, melihat desain jam tangan masa kini bergerak ke arah yang lebih bermakna.

Diterbitkan 11 Agustus 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketika teknologi semakin mampu menciptakan berbagai bentuk dan gagasan dalam hitungan detik, jejak tangan manusia justru menemukan nilai baru. Dunia jam tangan turut menangkap perubahan tersebut melalui desain yang tidak hanya mengejar bentuk menarik, namun juga menghadirkan cerita dari proses pembuatannya.

Naoya Sukeda, Design Director SEIKO Selection Team, melihat desain jam tangan masa kini bergerak ke arah yang lebih bermakna. Sebuah timepiece tidak lagi sekadar menawarkan tampilan baru, tapi juga perlu memperlihatkan karakter, cerita, serta nilai yang membuatnya berbeda.

"Saya merasa desain jam tangan saat ini semakin penting untuk mengekspresikan cerita dan nilai unik yang dimiliki setiap jam tangan, bukan sekadar mengusulkan bentuk atau gaya baru. Di era AI, saya percaya nilai desain yang dapat memperlihatkan proses pembuatan oleh tangan manusia akan semakin meningkat," katanya dalam wawancara tertulis dengan Lifestyle Liputan6.com, Jumat, 31 Juli 2026.

Pandangan tersebut menjadi salah satu gagasan yang melandasi Machining Marks, concept watch yang dirancang Naoya. Ia melihat sesuatu yang selama ini berada di balik proses produksi sebagai bagian dari estetika.

Jejak pemotongan dan pembentukan material yang biasanya dihaluskan justru menjadi elemen visual utama pada jam tangan tersebut. Naoya menemukan inspirasi dari dunia woodworking.

Pembuat furnitur terkadang sengaja mempertahankan jejak bekas produksi pada permukaan kayu untuk memperlihatkan proses pengerjaan, sekaligus keterampilan pembuatnya. Pendekatan tersebut membuat Naoya melihat kemungkinan serupa dalam watchmaking.

 

 

Tak Lagi Dipandang Sebagai Sisa Produksi

Jejak pemesinan kemudian tidak lagi diposisikan sebagai sisa produksi. Garis dan pola yang terbentuk dari proses pengerjaan material menjadi cara untuk menceritakan perjalanan sebuah benda sebelum menjadi jam tangan.

"Kesulitan terbesarnya adalah menampilkan jejak pemesinan sebagai elemen desain yang indah sambil tetap mempertahankan presisi dan kualitas tinggi yang dibutuhkan dalam pembuatan jam tangan. Saya ingin tingkat presisi tersebut dapat terlihat secara visual," kata Naoya.

Eksperimen itu terlihat dari cara case dan dial dibuat. Keduanya dikerjakan dari satu blok logam, sementara indeks dan logo juga dibentuk menggunakan proses pemesinan. Teknik tersebut membuat proses manufaktur tampil sebagai bagian dari identitas desain, bukan sekadar tahap teknis yang tersembunyi.

 

 

Tak Melepas Desain DNA

Bagi Naoya, pendekatan eksperimental tersebut tetap harus memiliki hubungan kuat dengan DNA desain SEIKO. Kreativitas tidak berdiri sendiri karena desain perlu bertumpu pada pemahaman terhadap material, teknologi, presisi, serta kualitas pengerjaan.

Jejak yang muncul pada permukaan jam pun harus lahir dari keputusan yang terencana. Konsep Machining Marks menjadikan keterampilan dan kontrol manusia sebagai bagian penting dari hasil akhir, sekaligus memperlihatkan bahwa presisi dapat memiliki bahasa visual tersendiri.

Perspektif tersebut sejalan dengan cara SEIKO membaca perubahan selera konsumen. Naoya mengatakan, merek perlu memahami perkembangan zaman tanpa meninggalkan prinsip kualitas dan craftsmanship yang telah menjadi fondasi.

"Tujuannya bukan sekadar mengikuti tren. Kami berfokus pada bagaimana teknologi, kekuatan, dan keahlian yang dimiliki SEIKO dapat diekspresikan dalam bentuk yang terasa bermakna dan relevan saat ini," ujarnya.

 

 

Tren dan Desain Timeless dapat Beriringan

Naoya juga melihat tren dan desain timeless dapat berjalan beriringan. Jam tangan yang relevan dengan zaman tetap membutuhkan kualitas estetika yang membuat pemiliknya ingin mengenakannya dalam waktu panjang.

"Daripada memilih salah satunya, menurut saya yang penting adalah menemukan keseimbangan yang tepat. Desain ideal menggabungkan perspektif dan ekspresi baru yang sesuai dengan zaman sekaligus memiliki daya tarik yang membuat orang ingin memakainya selama bertahun-tahun," tuturnya.

Konsep Machining Marks saat ini masih hadir sebagai model pameran, yang event-nya telah berlangsung di Plaza Senayan, Jakarta, pada 20 Juli hingga 1 Agustus 2026. Naoya terbuka melihat desain tersebut diproduksi, baik dalam jumlah terbatas maupun secara massal.

Ia menyadari proses komersialisasi akan menghadirkan tantangan teknis dan praktis yang berbeda dari sebuah karya konseptual.