Mengenal Hustle Culture, Mengapa Anak Kantoran Sulit Berhenti Bekerja?

Hustle culture membuat dorongan untuk terus produktif dan perlahan mengambil alih kehidupan pribadi.

Diterbitkan 24 September 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hustle culture membuat pekerjaan yang mudah menjadi ukuran utama keberhasilan seseorang. Dorongan untuk terus berprestasi dapat muncul dari kebiasaan menyelesaikan lebih banyak tugas, mengejar target berikutnya, dan merasa puas ketika pekerjaan berhasil dituntaskan.

Pola tersebut menjadi persoalan ketika pencapaian karier mulai mengambil ruang yang seharusnya digunakan untuk tidur, beristirahat, menjalani hubungan sosial, atau melakukan aktivitas di luar pekerjaan. Budaya kerja keras dapat tertanam sejak seseorang mulai membangun karier.

Pekerjaan yang awalnya dianggap sebagai kesempatan berkembang perlahan dapat berubah menjadi bagian besar dari identitas diri. Kesuksesan profesional tidak lagi sekadar berkaitan dengan penghasilan atau tanggung jawab, tetapi juga ikut menentukan bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri, melansir Real Simple, Kamis (24/9/2026).

Tekanan tersebut dapat semakin kuat ketika bekerja keras dianggap sebagai bukti bahwa seseorang merupakan karyawan yang baik. Standar seperti itu membuat waktu istirahat mudah dipandang sebagai sesuatu yang harus dikorbankan demi pekerjaan.

Aktivitas di luar kantor pun berisiko ditempatkan setelah target karier selesai, meski target berikutnya terus muncul. Pengalaman burnout memperlihatkan bahwa penghasilan tinggi, industri yang dianggap menarik, atau pekerjaan yang terlihat bergengsi tidak otomatis membuat seseorang merasa puas.

Beban pekerjaan dapat tetap terasa berat ketika lingkungan kerja dan tuntutan yang dihadapi tidak lagi sesuai dengan kebutuhan pribadi. Kondisi tersebut membuat burnout tidak selalu muncul karena satu periode kerja yang padat.

Kebiasaan menempatkan pekerjaan sebagai prioritas utama secara terus-menerus juga dapat membuat kelelahan berkembang menjadi masalah berulang.

Dari Budaya Optimasi hingga Konten Life Hacks

Hustle culture turut dapat menjadi bagian dari budaya optimasi yang mendorong seseorang untuk terus mencari cara untuk meningkatkan kehidupan sehari-hari. Istilah seperti wellnessmaxxing, biohacking, dan habit stacking muncul sebagai metode untuk membuat aktivitas terasa lebih optimal.

Akar pola pikir ini dikaitkan dengan literatur pengembangan diri yang menawarkan cara untuk menjadi lebih sukses, kaya, atau efektif. Sejumlah buku pengembangan diri dapat menjadi pendahulu budaya optimasi masa kini.

Pesan tentang kesuksesan kemudian berkembang melalui media sosial dalam bentuk konten media sosial yang cepat dikonsumsi. Konten video pendek menawarkan resep untuk berhenti menunda pekerjaan, mengatur otak, atau memaksimalkan hari.

Pola tersebut dapat membuat pengembangan diri terasa seperti proses yang tidak pernah selesai karena seseorang terus dituntut untuk mencari kebiasaan dan trik baru.

Saat Kerja Keras Justru Mengganggu Produktivitas

Hustle culture bekerja melalui harapan bahwa kerja keras hari ini akan menghasilkan imbalan besar pada masa depan. Pola tersebut dapat membuat seseorang terus bertahan meski hasil yang ditunggu belum muncul.

Kebiasaan "rise and grind” dapat membuat seseorang merasa bersalah ketika menggunakan waktu untuk hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan. Fokus berlebihan pada pekerjaan juga berisiko membuat tujuan awal bekerja terlupakan.

Kondisi tersebut dapat menciptakan konflik antara aktivitas sehari-hari dan tujuan yang sebenarnya ingin dicapai. Pola kerja berlebihan dan stres berkepanjangan dengan kondisi tubuh yang terus berada dalam keadaan tertekan berkaitan dengan penurunan produktivitas profesional.

Kesejahteraan dan produktivitas dapat berjalan beriringan ketika seseorang lebih tenang serta memiliki kesempatan untuk mengambil jeda secara teratur.

Keluar dari Siklus Hustle Culture

Mengenali lebih dulu apakah rutinitas sehari-hari sudah didominasi pekerjaan sangat disarankan. Penentuan prioritas membantu membedakan aktivitas yang benar-benar penting dari kegiatan yang muncul karena dorongan untuk terus produktif.

Waktu istirahat perlu ditempatkan sebagai bagian dari jadwal, bukan hadiah setelah seluruh pekerjaan selesai. Jeda singkat selama hari kerja juga dapat memberi kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat.

Penting untuk membedakan upaya memperbaiki diri dengan dorongan untuk terus mengoptimalkan setiap aspek kehidupan.

Produktivitas tetap dapat menjadi bagian dari kehidupan profesional tanpa menjadikannya satu-satunya ukuran keberhasilan. Kemampuan berhenti bekerja pada waktunya memberi ruang bagi kehidupan di luar pekerjaan yang sering tersisih ketika seseorang terus mengejar target.