Cara Sholat Utaqo di Bulan Syawal dan Keutamaannya, Simak Pandangan Ulama

Umat Islam perlu mengetahui cara sholat utaqo di bulan Syawal, keutamaan serta hukumnya, merujuk pandangan ulama

Diterbitkan 26 Maret 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di bulan Syawal, umat Islam dianjurkan untuk melanjutkan semangat ibadah yang telah dibangun selama Ramadhan. Selain puasa sunnah enam hari, terdapat amalan lain yang dikenal di sebagian kalangan, yaitu sholat 'utaqā'. Untuk itu umat Islam perlu mengetahui cara sholat utaqo di bulan Syawal.

Merujuk Jurnal Implementasi Kaidah Al-Aṣlu Fī Al-‘Ibādāt Al-Man’u pada Keabsahan Salat ‘Utaqā’ oleh Muflihasari, dkk, sholat yang secara harfiah berarti "salat pembebasan" ini diyakini memiliki keutamaan besar, seperti pelunasan utang dan terkabulnya hajat.

Secara bahasa, 'utaqā' (عُتَقَاء) berarti orang-orang yang dibebaskan. Sholat ini dimaknai sebagai ibadah untuk memohon pembebasan dari himpitan utang, dosa, dan api neraka. Amalan ini berkembang dalam tradisi tarekat, terutama Tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah (TQN), dan dikenal luas setelah dipopulerkan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani serta para ulama tarekat di Nusantara.

Artikel ini akan membahas secara lengkap tata cara sholat utaqo, dalil yang mendasarinya, serta pandangan ulama mengenai keabsahan dan hukumnya.

Tata Cara dan Niat Sholat Utaqo

Berikut adalah tata cara pelaksanaan sholat 'utaqā'.

1. Waktu Pelaksanaan

Sholat ini dilaksanakan pada bulan Syawal, baik di siang maupun malam hari, pada tanggal berapa pun.

2. Jumlah Rakaat

Delapan rakaat, yang dapat dikerjakan dengan dua kali salam (4 rakaat + 4 rakaat) atau empat kali salam (2 rakaat + 2 rakaat + 2 rakaat + 2 rakaat).

3. Niat

Niat dibaca dalam hati saat takbiratul ihram. Berikut adalah lafaz niat untuk dua rakaat:

أُصَلِّى سُنَّـــةَ اْلعُــتَــقَـاءِ رَكْـعَـتَــيْـنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Ushalli sunnatal 'utaqā'i rak'ataini lillahi ta'ālā.

Artinya: "Aku niat shalat sunnah 'utaqā' dua rakaat karena Allah Ta'ala."

4. Bacaan dalam Setiap Rakaat

Setelah membaca Surat Al-Fatihah, dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 15 kali pada setiap rakaat.

5. Amalan Setelah Salam

Setelah menyelesaikan delapan rakaat, dianjurkan membaca:

  • Tasbih sebanyak 70 kali. Biasanya membaca: Subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar.
  • Shalawat sebanyak 70 kali. Biasanya membaca: Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad.
  • Kemudian dilanjutkan dengan doa sebagaimana doa setelah sholat pada umumnya.

Dalil Sholat Utaqo

Sholat Utaqo adalah amalan yang populer di beberapa kalangan tarekat dengan tata cara yang spesifik. Dalil utama sholat 'utaqā' bersumber dari kitab Al-Ghunyah li Thālibī Tharīq al-Haqq karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Dalam kitab tersebut, terdapat sebuah riwayat hadis yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW melalui sahabat Anas bin Malik RA. Berikut adalah terjemahan dari hadis yang menjadi rujukan:

"Barangsiapa shalat di bulan Syawal sebanyak delapan rakaat, baik malam maupun siang, membaca di setiap rakaat Al-Fatihah dan Qul Huwallahu Ahad sebanyak lima belas kali, kemudian setelah selesai shalat bertasbih dan bershalawat masing-masing tujuh puluh kali... maka demi Dzat yang mengutusku, Allah akan mengalirkan hikmah di hatinya, melunasi utangnya, dan memenuhi hajatnya..." (HR. dari Anas RA dalam Al-Ghunyah).

Namun begitu, para ulama menekankan pentingnya kehati-hatian dalam beribadah. Hadits yang menerangkan keutamaan spesifik shalat Utaqo ini dinilai bermasalah dari segi sanad (perawi), dengan sebagian pendapat menyebutnya sebagai hadits palsu (maudhu')

Lebih baik bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah-ibadah sunnah yang sudah jelas dalilnya, seperti puasa Syawal, sholat Dhuha, sholat Tahajud, dan sholat Rawatib, yang kesemuanya memiliki keutamaan yang sahih dari Rasulullah SAW.

Keutamaan Sholat Utaqo, Tinjauan Kritis

Meskipun dalam sumber-sumber populer disebutkan berbagai keutamaan, seperti:

  • Terbayarnya utang.
  • Dikabulkannya segala hajat.
  • Dimudahkan dalam perjalanan.
  • Mendapatkan syafaat dan kemuliaan di surga.

Namun perlu dipahami bahwa semua keutamaan tersebut hanya bersandar pada hadis yang lemah dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dalam Islam, keutamaan suatu amal ibadah harus ditetapkan berdasarkan dalil yang kuat. Oleh karena itu, keutamaan-keutamaan tersebut tidak dapat dijadikan motivasi untuk mengamalkan sholat ini, sebagaimana dijelaskan di atas.

Hukum dan Keabsahan Sholat Utaqo Menurut Ulama

Para ulama hadis dan peneliti, seperti yang dijelaskan dalam jurnal karya Muflihasari, dkk., menilai bahwa hadis yang menjadi dasar sholat 'utaqā' memiliki kelemahan serius dari sisi sanad (rantai periwayat).

Dalam sanad hadis tersebut terdapat seorang perawi bernama Yahya bin Syabib al-Yamānī. Para ulama kritikus hadis, seperti:

  • Imam al-Bukhari menilainya sebagai munkar al-hadits (hadisnya tidak bisa diterima).
  • Imam al-Daruquthni dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Lisān al-Mīzān menyatakan bahwa riwayat-riwayat dari Yahya bin Syabib adalah lemah (da'if) dan bahkan palsu (maudhu').
  • Imam al-Dzahabi dalam Mīzān al-I’tidāl menegaskan bahwa periwayat ini tidak dapat dipercaya.

Dengan adanya perawi yang lemah dan tercela, hadis tentang sholat 'utaqā' ini tidak dapat dijadikan sebagai hujjah (landasan hukum) yang sahih dalam Islam.

Penerapan Kaidah Fikih, Al-Aṣlu fī al-‘Ibādāt al-Man’u

Dalam menilai keabsahan suatu ibadah, para ulama berpegang pada kaidah fikih yang sangat fundamental:

Al-Aṣlu fī al-‘Ibādāt al-Man’u, yang artinya: "Hukum asal dalam ibadah adalah terlarang (dilarang), kecuali ada dalil yang memerintahkannya."

Kaidah ini berarti bahwa umat Islam tidak boleh mengada-adakan suatu bentuk ibadah baru tanpa adanya tuntunan dari Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih. Dasar kaidah ini adalah sabda Rasulullah SAW:

"Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka amalan itu tertolak." (HR. Bukhari & Muslim).

Berdasarkan kaidah ini, karena tidak ada dalil sahih yang memerintahkan sholat 'utaqā' secara khusus, maka amalan ini tidak dapat dianggap sebagai ibadah yang disyariatkan.

Imam asy-Syathibi dalam kitab Al-I’tiṣām juga menegaskan bahwa setiap bentuk ibadah yang tidak memiliki landasan dari syariat dan dilakukan dengan tata cara tertentu termasuk dalam kategori bid'ah.

Rekomendasi

Sholat 'utaqā' adalah amalan yang populer di beberapa kalangan tarekat dengan tata cara yang spesifik. Namun, setelah diteliti berdasarkan ilmu hadis dan kaidah fikih, amalan ini tidak memiliki landasan syar'i yang kuat.

Menurut hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal tersebut, sholat 'utaqā' tidak sah dan tidak dianjurkan untuk diamalkan karena:

  • Dalilnya lemah (da'if) hingga palsu (maudhu'), sehingga tidak bisa dijadikan dasar hukum.
  • Bertentangan dengan kaidah fikih tentang ibadah yang bersifat tauqīfī (harus berdasarkan petunjuk langsung dari wahyu).
  • Termasuk kategori bid'ah karena menambah tata cara dan bacaan khusus dalam ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Para ulama menekankan pentingnya kehati-hatian dalam beribadah. Lebih baik bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah-ibadah sunnah yang sudah jelas dalilnya, seperti puasa Syawal, sholat Dhuha, sholat Tahajud, dan sholat Rawatib, yang kesemuanya memiliki keutamaan yang sahih dari Rasulullah SAW.

People Also Ask:

Berapa rakaat sholat utaqo di bulan Syawal?

Salah satu amalan yang dapat dilakukan pada bulan Syawal ini adalah melaksanakan shalat sunnah 8 rakaat, yang disebut shalat sunnah Utaqa.

Apa niat sholat utaqo?

Ushalli sunnatal 'utaqai rak'ataini lillahi ta'ala. Artinya: Saya niat salat sunnah utaqo dua rakaat karena Allah Ta'ala. Salat di bulan Syawal ini adalah salat sunah mutlak, dikerjakan sebanyak 8 rakaat, 4 salam. Artinya, dilakukan dua rakaat-dua rakaat.

Apa manfaat sholat utaqo?

Shalat ini dinamai shalat utaqa (shalat pembebasan) karena Allah SWT akan membebaskan orang yang mengamalkan shalat sunah ini dari impitan utang dan Allah akan memenuhi hajat mereka. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mencantumkan hadits berikut ini perihal keutamaan shalat utaqa.

Kapan shalat sunnah utaqa dilaksanakan?

Shalat sunah utaqa ini dapat dikerjakan siang atau malam. Shalat ini dapat dikerjakan dengan empat atau dua salam.