Sukses

Memakan Waktu 6-12 Bulan, Pengobatan Kusta Tak Boleh Putus-Putus

Liputan6.com, Jakarta Kusta adalah penyakit infeksi yang menyerang kulit hingga ke sarafnya. Ini merupakan penyakit menular yang dapat dicegah dan diobati. Biasanya kusta ditandai dengan bercak keputihan seperti panu.

Menurut dokter yang aktif menangani kusta dari Puskesmas Kertasemaya, Indramayu, Pratama Kortizona, tatalaksana kusta dilakukan dengan pemberian obat kusta gratis yang tersedia di puskesmas.

Jika pasien sudah didiagnosa kusta, maka ditentukan terlebih dahulu jenis kustanya. Ini dilihat dari banyak atau sedikitnya bercak yang ditemukan di tubuh pasien.

“Jadi jumlahnya (bercak) ada yang sedikit dan banyak. Kalau yang bercaknya cuma sedikit (kurang dari 5) itu pengobatannya 6 bulan, kalau bercaknya banyak (lebih dari 5) dan lebih dari dua tempat, misalnya di tangan, badan, dan kaki, nah itu bisa sampai satu tahun.”

“Dan pengobatannya ada di puskesmas. Itu sudah paket dari Dinas Kesehatan,” ujar Pratama kepada Health Liputan6.com usai kunjungan di Dusun Pondok Asem Jengkok, Indramayu bersama Yayasan NLR Indonesia, Selasa (5/7/2022).

Pengobatan kusta tidak dilakukan sembarangan. Menurut penanggung jawab program kusta dari Puskesmas Kertasemaya, Eti Nirmala S. Kep, Ners, sebelum pengobatan dimulai, perlu ada kesiapan dari pasien. Pasalnya, pasien harus konsisten meminum obat setiap hari tanpa putus-putus.

“Kalau setelah diperiksa pasien belum siap minum obat kusta, ya kita pending dulu. Kalau sudah sekali minum obat itu 95 persen kuman mati kalau enggak dilanjutkan kan kasihan harus ngulang lagi. Jadi kita tunggu kesiapan pasien dengan diberi pendekatan dari kader di sini, nah kalau sudah siap baru kita kasih,” kata Eti dalam kesempatan yang sama.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

8 Pil Sehari

Bukan hanya memakan waktu lama, obat yang diminum oleh pasien kusta pun banyak setiap harinya. Di tahap awal, pasien bisa meminum 8 pil dalam satu hari yang merupakan kombinasi antibiotik (Multi Drugs Therapy/MDT).

“Enggak tanggung-tanggung, 8 pil sehari selama 2 minggu, kalau perkembangannya baik turun ke 6 pil sehari. Kita periksa lagi, jika perkembangannya baik, turun ke 4 pil sehari.”

“Nah di 4 pil ini biasanya ada suatu hal yang membuat kondisi pasien jelek lagi. Jika begitu, maka harus naik lagi, geser ke 6 pil, kalau kondisinya bagus turun lagi ke 4 pil.”

Jika terpantau daya tahan tubuh pasien meningkat, dari 4 pil itu dapat menurun ke 3 pil, 2 pil, dan 1 pil.

Mengingat pengobatannya lama dan banyak, maka risiko pasien malas meminum obat sangat tinggi.

“Benar (rentan malas) jadi harus ada kemauan dari dalam hati. Makanya pendamping juga dibutuhkan, bukan hanya dari kader saja tapi kontribusi juga dari keluarga, dukungan keluarga ini penting sekali.”

3 dari 4 halaman

Antisipasi Mangkir Pengobatan

Pasien yang sudah jenuh bisa saja mangkir atau berhenti melakukan pengobatan. Padahal, jika hal ini terjadi maka pengobatan harus diulang dari awal.

Guna mengantisipasi hal ini, maka pendataan dilakukan secara rutin. Setiap warga Kertasemaya yang didiagnosa kusta, data diri dan riwayat pengobatannya sudah direkam di puskesmas.

“Kalau sudah didiagnosa ya kita sudah punya datanya, kalau ada yang mangkir juga kita tahu, harusnya sudah ngambil (obat) kenapa enggak datang. Kita kontak dengan kader dan kita bisa langsung ke lapangan untuk memberikan obat dan menanyakan kenapa enggak berobat,” kata Pratama.

“Yang pasti, semua pasien kusta yang ada di Kertasemaya sudah didata semua sudah dipantau pengobatannya sampai sembuh dan gratis. Jadi kita pantau terus.”

Intensified Case Finding (ICF) atau penemuan kasus yang intensif pun terus digencarkan guna menemukan sebanyak-banyaknya kasus dan mencapai eliminasi kusta di 2024.

Puskesmas dan berbagai pihak termasuk kader bekerja sama menyebarkan lembar pertanyaan terkait gejala kusta kepada warga. Setiap warga diminta memeriksa tubuh anggota keluarganya apakah ada bercak atau tidak.

4 dari 4 halaman

Pemeriksaan Kusta

Jika ada gejala, maka dituliskan di lembar tersebut kemudian kader melaporkan ke pihak puskesmas. Petugas puskesmas akan memanggil warga bergejala dan melakukan pemeriksaan lanjutan.

Pemeriksaan sendiri dilakukan dengan melihat bercak dan pemeriksaan fungsi saraf. Pemeriksaan fungsi saraf dilakukan dengan kapas atau lidi. Benda-benda ini digunakan sebagai alat sentuh yang menyentuh langsung bercak di kulit.

Pasien biasanya diminta untuk menutup mata dan menunjukkan di mana lokasi sentuhan itu tanpa melihat. Jika pasien dapat menunjukkan lokasinya dengan tepat berarti sentuhan kapas itu terasa dan sarafnya masih sensitif.

Sebaliknya, jika tidak terasa maka sarafnya sudah tidak berfungsi dan merujuk pada gejala kusta.

“Biasanya kalau kusta dia sarafnya sudah enggak sensitif. Meskipun pakai rangsangan nyeri yang ringan juga enggak kerasa,” kata Pratama.

Jika sudah dikonfirmasi kusta, maka pasien dianjurkan untuk segera meminum obat dan diberikan penyuluhan singkat soal pengobatan yang perlu dilakukan secara kontinyu.

Pemeriksaan kemudian dilakukan kepada anggota keluarga, tetangga, dan orang lain yang berhubungan erat dengan pasien yang sering pula disebut kontak erat.