Kusta Bukan Penyakit Mematikan, Menkes Tegaskan Obatnya Ampuh

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan kusta bukan penyakit mematikan karena obatnya ampuh, menyembuhkan, dan mampu menghentikan penularan dalam waktu singkat.

Diterbitkan 16 Januari 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kusta yang juga dikenal sebagai lepra atau Morbus Hansen adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, dan saluran pernapasan. 

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Proses infeksinya berlangsung lambat dan gejalanya muncul dalam waktu yang panjang.

Namun, kusta masih kerap dianggap sebagai penyakit berbahaya dan mematikan. Padahal, secara medis, kusta adalah penyakit infeksi yang sudah memiliki pengobatan efektif. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kusta bukan penyakit mematikan dan dapat disembuhkan dengan obat yang tersedia saat ini.

“Lepra itu sangat tidak mematikan,” ujarnya dalam media briefing bertajuk ‘Menjawab Tantangan Menuju Eliminasi Kusta yang Inklusif dan Berkelanjutan di Indonesia’, Jakarta Selatan, Kamis (15/1/2026).

Menkes Budi menjelaskan bahwa kusta memang menular, tetapi penularannya sangat sulit dan membutuhkan waktu lama.  Bahkan penularan dapat dihentikan dalam waktu singkat setelah penderita minum obat.

“Begitu kita kena bakteri lepra, kita meminum itu antibiotik kurang dari seminggu dia berhenti menular,” jelasnya.

“Obatnya ampuh dan menyembuhkan. Dalam tiga hari, empat hari, sudah tidak menular lagi,” tambahnya.

Faktor Genetik dan Risiko Alergi Obat

Menurut Menkes Budi, perbedaan genetik berperan dalam munculnya reaksi alergi berat terhadap obat tertentu. 

“Khusus untuk teman-teman kita, dari Timur, Papua, Maluku. Genetiknya, beda sama yang dari Barat,” katanya.

Pada sebagian orang, perbedaan genetik ini dapat memicu Dapsone Hypersensitivity Syndrome (DHS), kondisi alergi obat yang dalam kasus tertentu bisa berujung fatal. 

“Jadi meninggal kusta itu paling banyak karena dia dikasih obat, ternyata dia gen-nya, gen orang-orang Timur,” lanjutnya.

Untuk menekan risiko tersebut, pemerintah akan menerapkan berbagai langkah pencegahan. 

“Berbagai skrining, kita akan SOP (Standar Operasional Prosedur)-kan, massive physical screening, khusus untuk daerah Timur, kita lakukan, PCR (Polymerase Chain Reaction) sendiri. Supaya kita bisa identify, kalau ada mutasi,” jelasnya.