Kusta adalah Penyakit Bukan Kutukan: Menkes Budi Jelaskan Faktanya di Indonesia

Kusta bukan kutukan! Menkes Budi paparkan fakta medis, penularan lambat, dan pengobatan yang efektif di Indonesia.

Diterbitkan 16 Januari 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anggapan bahwa kusta adalah kutukan masih melekat di sebagian masyarakat. Stigma ini membuat orang dengan kusta sering diperlakukan tidak adil, dijauhi, bahkan disingkirkan dari lingkungan sosialnya.

Padahal, kusta merupakan penyakit yang penyebab dan pengobatannya sudah lama diketahui secara medis, serta tidak mudah menular seperti yang banyak dipercaya.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa kusta bukanlah kutukan. "Ini bukan kutukan, ini penyakit," ujarnya dalam media briefing bertajuk Menjawab Tantangan Menuju Eliminasi Kusta yang Inklusif dan Berkelanjutan di Indonesia pada Kamis, 15 Januari 2026.

Menkes Budi juga menjelaskan bahwa kusta sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Pada 1872, penyebabnya berhasil ditemukan secara ilmiah oleh ilmuwan asal Norwegia, Gerhard Armauer Hansen. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium leprae.

Salah satu stigma terbesar di masyarakat adalah anggapan bahwa kusta sangat mudah menular. Menkes Budi menegaskan bahwa kusta memang termasuk penyakit menular, tapi proses penularannya tidak cepat dan membutuhkan waktu lama.

"Lepra (kusta) dan TBC menular? Iya. Cuma Lepra itu menularnya susah sekali dan lama," ujarnya.

Kusta dapat diobati dengan antibiotik yang tersedia dan efektif. Bahkan, setelah pengobatan dimulai, risiko penularan dapat berhenti dalam waktu singkat.

"Begitu diobatin, minum obat dalam kurang dari seminggu, sudah tidak menular," tambah Menkes.

Kusta Dalam 3 Hari Tidak Menular Lagi

Menurutnya, dalam hitungan hari setelah minum obat, penularan sudah berhenti. “Dalam tiga hari, empat hari, sudah tidak menular lagi,” katanya.

"Obatnya ampuh dan menyembuhkan," tambah Menkes.

Dia juga menekankan bahwa tindakan mengisolasi anggota keluarga yang terkena kusta merupakan bentuk disinformasi.

"Kalau teman-teman mengisolasi atau membuang saudaranya kalau kena lepra, itu disinformasi. Enggak ada scientific evidence-nya," ujarnya.

Upaya eliminasi kusta di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Selain keterlambatan deteksi dini, stigma dan diskriminasi menjadi hambatan besar.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh orang dengan kusta, tetapi juga keluarga mereka, baik dari sisi kualitas hidup maupun kondisi sosial ekonomi.

 

Kurangnya Edukasi dalam Memberantas Kusta

Kurangnya edukasi membuat banyak masyarakat belum memahami bahwa kusta bisa disembuhkan dan tidak mudah menular. Akibatnya, kesalahpahaman terus berulang dan memperburuk kondisi sosial orang yang terdampak.

Duta Besar Kehormatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Pemberantasan Kusta, Yohei Sasakawa, menekankan bahwa pemberantasan kusta harus disertai dengan upaya menghapus stigma.

Melalui Sasakawa Health Foundation (SHF), dia menegaskan pentingnya pendekatan yang melihat kusta sebagai penyakit, bukan kutukan. "Yang terpenting adalah mengobati dan membebaskan orang-orang ini dari diskriminasi serta memberi mereka simpati," kata Sasakawa.

Sasakawa juga menyebut bahwa masalah kusta tidak hanya terkait aspek medis, tetapi juga komunikasi yang keliru di masyarakat.

"Sebagaimana kita tahu, kusta memiliki tanda-tanda medis, namun mendapat masalah stigma karena banyak diskomunikasi yang harus diatasi," pungkasnya.